Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Mei 2020

Balon-Balon Permintaan Maaf - Cerpen Nurul Khotimah (Pikiran Rakyat, 25 Februari 2018)



SUNGGUH hari-hariku kini terlalu berat untuk kulewati. Setumpuk pekerjaan yang kian hari menggunung berhasil memberatkan punggung ini. Beban itu semakin terasa ketika sang kekasih yang kuharapkan dapat dijadikan pundak untuk bersandar saat kulelah, seseorang yang dapat kujadikan tempat pelepas penat kini telah pergi dan berpaling ke lain hati.
Semua bermula ketika aku yang tak sengaja lewat di depan kafe dekat tempat aku bekerja beberapa minggu yang lalu. Dengan jelas kulihat dia, orang yang selama ini kupercaya akan setia menjaga hatinya, tengah asyik berduaan dengan seorang pria. Pertengkaran hebat pun tak bisa dihindarkan hingga kuputuskan untuk mengakhiri hubungan ini.
Saat jam kantor telah selesai, kuputuskan untuk segera pulang. Di dalam bus itu suasana begitu ramai karena hampir terisi penuh dengan orang-orang yang baru pulang dari kerjaannya.
Kuputuskan untuk tidak peduli dengan semua itu. Aku memilih diam menghadap jendela bus. Menatap siluet yang terlewati sepanjang jalan.
Di tengah perjalanan, seorang pria dengan beberapa balon digenggamannya memilih duduk di bangku sebelahku yang memang saat kosong.
Setelah lama kuperhatikan, ternyata dia adalah pria yang dulu bersama pacarku di kafe itu. Dadaku langsung sesak seketika, peluh tiba-tiba mengalir deras di pelipisku. Emosiku tersulut, namun tak kubiarkan untuk meluapkanya dalam bus ini. Aku berusaha menahan diri dan memilih turun walaupun sebenarnya tujuanku masih cukup jauh. Namun belum sempat kuberdiri, pria itu terlebih dahulu mengangkat suara.
Aku tertahan. Terpaksa mengikuti keinginannya.
“Sekarang apa mau Anda? Belum puaskah Anda telah menghancurkan hubunganku dengannya?” ujarku, kesal dengan nada yang sedikit tinggi.
“Biarkan saya berbicara dan mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi saat itu,” katanya, lirih.
“Kau tak patut menghukum dia dengan memutuskan hubungan secara sepihak.”
Aku hanya terdiam, kupalingkan wajahku kembali menghadap jendela bus yang menghadirkan siluet keramaian jalanan. Telingaku tersumbat secara tiba-tiba. Tak ingin kudengar apapun darinya.
“Kau tahu? Balon-balon yang kubawa sekarang adalah pemberian darinya.”

Balon-balon Permintaan Maaf ilustrasi Yana Husna/Pikiran Rakyat
Aku sempat tersentak. Namun masih tak kupedulikan. Mendengarkannya hanya akan menambah luka yang hampir kering ini semakin perih. Apalagi dia memamerkan balon-balon pemberian darinya.
Dia seakan tak peduli dengan sikap acuh yang kusuguhkan. Dia terus bercerita. Aku. Terpojokkan, menahan emosi.
“Aku mempunyai seorang istri, yang belakangan sangat sensitif dan mudah sekali marah padaku.”
Aku sempat tertarik saat ia menyebutkan bahwa ia telah mempunyai istri. Entah, tiba-tiba telingaku perlahan refleks untuk bisa mendengamya bercerita.
Lanjutnya. “Sampai pada suatu pagi, istriku benar-benar marah besar hanya karena saat malam harinya aku tidak menuruti maunya untuk tidur di ranjang sebelah kanan, dekat dengan tembok. Bagiku tidur di sebelah manapun sama saja. Tetapi mungkin tidak bagi dirinya. Ia benar-benar marah dan sama sekali tak mau berbicara denganku.”
“Hingga suatu saat, aku bertemu dengan dia, kekasihmu. Dia menyarankanku untuk memberikan lima buah balon untuk istriku lengkap dengan surat permintaan maaf. Terdengar lucu memang, namun hal itu berhasil membuat istriku kembali tersenyum. Sejak saat itu, setiap hari aku selalu membawakannya balon-balon ini entah itu aku berbuat salah atau tidak.”
Aku sedikit terharu mendengar kisahnya, lantas dengan sendirinya aku mengangkat bicara.
“Jadi, sebenarnya Anda telah beristri? Lantas apa yang Anda lakukan sore itu dengan dia?” ujarku.
“Sejak pertemuan itu hingga sekarang, dialah yang membelikan balon-balon ini, bahkan ia membawanya lebih dari lima, karena biasanya sebelum sampai rumah selalu ada yang meletus. Dia juga yang mengajariku merangkai kata yang kutuliskan pada surat permintaan maaf yang kemudian kuberikan pada istriku.”
“Kau tahu, dia juga banyak bercerita tentang kekasihnya, yang tiada lain adalah Anda. Banyak sekali hal yang ia kagumi dari Anda. Betapa ia sangat mencintai Anda lebih dari ia mencintai dirinya sendiri. Mungkin ia masih belum bisa melupakan Anda. Hingga pada akhirnya kuputuskan untuk menemui Anda dan menjelaskan semuanya,” lanjutnya.
Pikiranku tiba-tiba kacau dan tak karuan. Aku membatin. Apa yang telah kulakukan? Aku telah menyakiti perasaan wanita yang selama ini tulus mencintaiku. Aku yang terlalu emosi saat itu, tak mampu berpikir jernih.
Oh Tuhan, berikan aku kesempatan satu kali lagi untuk bersamanya. Pintaku, dalam hati.
Saat aku meratapi apa yang telah terjadi tertunduk lesu dan tak berdaya, bus tiba-tiba berhenti tepat di depan tempat pemakaman umum. Kulihat pria itu turun dari pintu depan bus dan terdengar bunyi letusan. Dua baton yang dibawanya pecah.
Saat itu juga muncul rasa penasaran di benakku, banyak pertanyaan yang menggantung di pikiranku hingga kuputuskan untuk turun dari bus dan secara perlahan mengikuti langkahnya.
Tibalah ia pada sebuah makam yang tanah kuburannya masih basah. Ia tertunduk lama di atas makam tersebut. Kulihat nisan yang masih berwama putih bersih itu bernamakan “Ratna Ningsih binti Aji Suryadinata” dan tanggal wafatnya yakni “21 November 2017” berarti sekitar satu minggu yang lalu wanita itu telah meninggal.
Rasa penasaranku semakin bertambah. Siapa sebenarnya “Ratna” itu. Untuk apa dia kemari dan lama tertunduk di atas makamnya. Tiba-tiba dia membuka suara seraya mengikatkan balon-baton yang dibawanya pada nisan tersebut.
“Ratna, sayangku. Aku kembali datang membawa baton-baton kesukaanmu. Namun aku minta maaf karena baton yang kubawa tidak seperti biasanya. Hanya empat balon yang tersisa setelah dua baton yang lain meletus saat tadi turun dari bus. Kuharap kau tak akan marah. Sebagai permohonan maafku, biar kubacakan surat permohonan maaf yang dengan tulus kutulis untukmu. Dengarkan yaa sayang….”
Saat menyaksikan semua itu, hatiku turut larut dalam suasana duka. Tangis di mata tak terbendung lagi. Akhirnya baru kumengerti, dan kuputuskan untuk pergi karena tak ingin mengganggunya.
Rasa haru mengiringi langkahku. Sepanjang jalan pulang, rinaian bening tak henti-hentinya menetes dari mataku. Entah mengapa sore itu aku bisa menjadi sosok lelaki selemah dan secengeng itu. Aku teringat pada kekasihku, sungguhaku merasa bersalah.
Aku duduk menunggu sebuah bus di sebuah halte tua, bercat merah tua yang telah banyak memudar terkena panas dan hujan yang tak jauh dari pemakaman. Langit senja yang menghadirkan warna jingga khasnya, menemaniku sore itu.
Tiba-tiba, sebuah tangan mengulurkan selembar sapu tangan berwama pink bermotif bunga ke arahku. Kuperhatikan sapu tangan itu sama seperti sapu tangan yang dulu pernah kuberikan pada kekasihku saat ulang tahunnya.
Senja yang mulai berganti malam, menarik halus warna jingganya membuat siluet seseorang itu menjadi samar-samar, ditambah mataku yang baru mengeluarkan air mata semakin menambah kekaburan akan sosok orang itu.
Saat aku mulai menyadari bahwa sosok itu adalah Adina kekasihku, entah mengapa bulir bening itu kembali menetes membasahi pipi. Ia dengan sabar mengusap air mata yang jatuh dengan perlahan, usapan lembutnya tak hanya menyapu air mata tapi seakan menyapu semua rasa gelisah dan bersalah yang aku alami saat itu.
Minggu-minggu berikutnya hubunganku berjalan seperti dulu lagi. Aku merasa seperti seseorang yang telah mati namun diberi kesempatan untuk hidup kembali. Aku kembali bernyawa.
Adina, yang telah berkawan baik dengan pria itu mengisahkan bahwa ternyata istrinya tebh lama mengidap penyakit kanker otak yang sudah amat parah, ia sering mimisan dan muntah darah yang membuatnya sering pergi ke kamar mandi agar semua orang tidak tahu perihal penyakitnya. Termasuk suaminya.
Hingga setiap malam ketika hendak tidur ia meminta tidur di ranjang sebelah kiri, dengan alasan tiap malam ia sering ke kamar mandi untuk buang air kecil sehingga ia meminta suaminya tidur di ranjang sebelah kanan karena takut membangunkan suaminya.
Semua rencananya berlangsung dengan rapi. Tak seorang pun menyadari bahwa ia sebenarnya tengah menderita menahan sakit. Mungkin karena kebahagiaan yang diberikan suaminya, sehingga ia tak pernah menampilkan kesan seperti orang sakit di wajahnya.
Namun pada suatu hari ia benar-benar tak dapat lagi menahan rasa sakitnya. Ia jatuh pingsan saat menghidangkan sarapan pagi untuk suaminya. Dengan cepat ia dilarikan ke rumah sakit, namun sayang sudah terbmbat. Penyakitnya berhasil mengalahkan tubuh lemahnya. Ia pergi dengan damai.
Sadar bahwa ia terlambat menyadari apa yang dialami istrinya, ia kini dirundung rasa bersabh dan menyesal. Setiap sore ia selalu mengagendakan untuk mengunjungi makam istrinya dengan membawa balon-balon dan surat permintaan maaf, persis seperti yang dilakukannya dahulu ketika istrinya masih hidup.
***

-----------------------
Sumber:

“Menunggu Hadirnya Maaf” – Cerpen karya Erwin Pitang – Dimuat di Pos Kupang edisi 19 November 2018




"Ketika lara tertawan kata, rindu berkiblat syair senja...
Bunda, kudekap setitik hasrat di ladang ini.."
"ITULAH senja, Nak. Emas menjelma elok kemuning. Pada ranumnya segumpal duka asing menghujam. Di pelupuk mata, indah rona senja abadi, tak bergeming. Keabadian yang hilang, ya nama itu kusematkan untuk senja. Dan akan selalu hilang. Senja bersemilir lirik-lirik bayu labuhkan luka opera tempo dulu, bahagia lama beraura duka. Pesona senja goreskan sukma, bertepi ke masa silam. Mahligai senja lumpuhkan malam, namun bukan pada keindahan.
Secepat kilat datang dan berlalu pergi tanpa kompromi. Dia tak pernah mengerti kerinduan, sebab dialah kerinduan itu. Mengeluhkah ia akan hadirnya malam? Cemburukah ia pada malam bertudung kemilau indah gemintang pun simpul bahagia sang bayu?
Pernahkah ia bermimpi menjadi malam bertabur bintang-bintang bersayap dan tersayat?" Suara lembut bunda mengalun, menukik masuk dalam gendang telingaku. Suara itu terbata-bata pertanda ada duka yang ranum pada kelopak senja.
Senja yang kuagungkan kembali mengulang, kudekap indah lentik alisnya, lipur lara pengobat sukma, tatkala luka mendekap tepian hati nan teduh.
Gubuk mungil peninggalan almarhum ayahku masih tegak berdiri adalah tempat yang paling setia menunggu kehadiranku tatkala aku memutuskan untuk berhenti menjadi pekerja di ladang Tuhan, setelah empat tahun berladang di sana.
Dahulu, sebelum meninggalkan kami dan gubuk tua ini, aku sering ditemani ayah menikmati wanginya tiwus racikan bunda, sembari menatap pesona awan terbuai rayuan sang bayu juga kejora nan manis.
Di beranda gubuk ini juga ku bermimpi tuk menggapai bintang. Kataku pada ayah dan bunda," jika itu pun tak sampai biarlah langit menenun serpihan harapku."
"Semilir bayu menyingkap teduh wajah bunda, menepis sebongkah lara sejenak aku bertelut menahan gelora rindu pada mendiang ayah. Inikah amanah atau sekadar halusinasi bernanah tetes-tetes rindu?"
Bunda mendekatiku tatkala aku terpesona indah rumbai senja. Mata kami terhipnotis, lantas kalbu melukis kisah berbeda pada senja yang sama. Sejenak ku tebak ada luka terselubung dari keteduhan mata bunda saat menatap senja yang perlahan berlalu. Aku bukan peramal, tetapi sejak aku kembali, bunda menjadi pribadi yang selalu membuat mataku sedih dan imajinasiku bergelora.
Kehadiranku, tak mampu hentikan sembab di pelupuk mata bunda. Hujan tanpa musim menikam elok wajah bunda, pertanda aksara kejam akan menggerogotiku.
Kupalingkan tatapanku ke langit sembari menahan derita dibalik kebenaran dugaanku. Malam mulai meluruh. Aku dan bunda masih berada pada pikiran kami masing-masing.
"Nak, tahukah kamu seberapa besar kerinduan malam akan hadirnya bayu dan seperti apa jadinya malam tak berbintang atau bintang itu ada tetapi gagal menjadi kejora?" Tanya bunda sambil menghela napas panjang.
Kudengar ada degup jantung berdetak kaku ketika suara bunda kembali menggema ke kupingku tuk kedua kalinya.
Aku terdiam. Tertunduk lesu. Mencari jawaban yang pasti agar bisa membongkar siasat pertanyaan bunda.
Sebenarnya aku tahu apa yang hendak bunda katakan padaku, hanya saja bunda masih menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakannya.
Sejujurnya kerinduan malam akan hadirnya bayu adalah analogi yang bunda sematkan tentang kerinduannya akan sosok yang bisa membuatnya bahagia.
Aku bisa menyebutnya dengan sosok pekerja di ladang Tuhan. Tetapi mulutku terasa kaku tuk berucap, menjinakkan dan membenarkan alasan kenapa aku harus memutuskan untuk meninggalkan kehidupan membiara.
Suaraku pun belum sanggup berkumandang. Kata-kata masih hangat berselimutkan ragu.
"Bunda, aku tahu apa yang lagi bunda rasakan."
"Kamu tahu tetapi rela membuat bunda tersiksa?"
Bunda memotong pembicaraanku dengan suara keras. Kerasnya kata-kata bunda adalah cara untuk membuka daya pikirku, tuk mengerti tentang harapan-harapan yang bunda gali dengan peluh dan doa yang tak kunjung usai.
"Sedalam palung lautan kerinduan bunda akan keberhasilanmu menjadi pekerja di ladang Tuhan, dan kamu tahu ketika kamu gagal menjadi bintang kejora, sesungguhnya kamu telah menciptakan sebuah musim baru dalam keteduhan mata bunda. Air mata menjadi suara satu-satunya cara bunda berbicara tentang luka. Kamu pernah bilang kalau bermimpi harus sampai ke bintang dan kalau tidak sampai ke bintang ke langit pun cukup. Tetapi apa yang kamu berikan untuk bunda? Kamu justru meredupkan bintangmu sendiri. Kamu telah menghancurkan tanah dimana bunda berdiri, dan kamu tahu saat ini, di mata bunda kamu tidak ada artinya sedikitpun," kata bunda sembari berpaling menjauhiku.
Kata-kata bunda ini menjadi melodi bernada pedang yang menembus masuk ke hati melewati daun telinga yang diam dan tenang. Isak tangis bunda membuat aku tak tega melihatnya. Aku tak ingin air mata bunda yang berharga mengalir tak beraturan menodai keindahan matanya. Aku harus berkata jujur.
"Bunda, sebelumnya aku minta maaf telah membuat bunda kecewa dan tak bisa lagi memungut setiap pecahan air mata bunda yang terlanjur jatuh berkeping-keping menggores luka di hati. Aku akan merasa menjadi orang yang paling mementingkan kebahagiaan sendiri, andaikan niatku masih memacuku untuk terus melangkah merebut satu tahkta di altar Tuhan. Apakah bunda percaya akan kekuatan janji ?"
Kataku sambil mendekati bunda yang berdiri membelakangiku di pojok gubuk tua itu.
"Janji itu kehidupan, Nak. Kamu hadir karena janji. Janji setia yang bunda dan ayah semayamkan pada bahtera cinta yang tak pernah tenggelam dalam samudera ketakutan. Namun jangan jadikan janji sebagai sebuah ketakutan karena dia tak pernah mengancam andaikan kita jujur padanya." Kata bunda sambil menatapku dengan mata waspada.
"Sebelum aku memilih tuk berladang di kebun Tuhan, aku telah bersumpah darah dengan gadis dara yang kukenal di ujung usiaku yang sedang mekar. Setiap malam pada dinding hati yang tenang ini ada tangisan bergetar, mengusik, melantunkan rindu akan kepulanganku. Aku merasakan deraian air matanya jatuh bertalu mendesakku tuk bisa memungut setiap pecahan air matanya itu dan pergi menyerahkannya pada sebuah pelukan. Bahkan ketika detak jantungnya berdegup kencang memanggil namaku, ada badai rindu yang dasyat merobohkan kemapanan jiwaku. Pada malam yang terlambat hadirkan bintang, doaku menggema ke peraduan Tuhan. Aku memohon agar Tuhan bisa membiarkan aku kembali, karena Tuhan tak ingin kehadiranku di depan matanya sekedar mengisi ruang yang kosong. Semua karena rasa cinta yang hadir pada saat itu membuat rasaku untuk tidak menyakitinya semakin membuih dan aku melakukan itu karena aku tak ingin kebahagiaanku adalah duka bagi dia. Sumpah darah yang kami lakukan adalah kesetiaan untuk memiliki. Aku yakin Tuhan pun tidak akan cemburu karena Dia mengijinkanku pergi membawa serta cinta dengan status kekal untuk kumeteraikan pada ambang hati yang sedang terbuka untukku."
Sebait kata yang kulantunkan kepada bunda adalah usaha terbaikku untuk berkata jujur, bahwa cinta dan kekuatan janjilah yang telah membuatku gagal menjadi bintang sekaligus kejora bagi harapan yang bunda semai dalam ladang hati kecilnya.
Aku berharap kata-kataku bisa menjadi embun sejuk penyembuh luka hati bunda, agar bunda bisa menerima keyataan ini dengan ikhlas.
"Nak, imanmu terlalu kecil. Andaikan imanmu sebesar biji sesawi, kau bisa memindahkan gadis itu ke dalam doamu dan biarkanlah dia berbahagia dibalik lipatan jubahmu yang suci."
"Aku ada karena janji dan karena janji itu pula aku kembali hadir kedua kalinya untuk bunda. Aku kembali kepada bunda bukan karena aku melarat di ladang Tuhan, bukan pula tak ada anggur yang tak bisa kupetik dan kuteguk, rasanya juga bukan karena aksara doa bunda cacat sehingga tak sampai ke peraduan Sang Khalik, tetapi karena kekuatan janji itu bunda. Janji yang kata bunda adalah kehidupan itu. Aku ingin kehidupan itu tumbuh dan mekar di dalam cinta dan kesetiaan kami."
"Imanmu tak sebesar biji sesawi dan cintamu sebesar lukisan senja, maka pergilah dari hadapan bunda dan jadikanlah cintamu abadi. Arungilah kehidupanmu dan janganlah memikirkan kehidupan bunda. Cinta bunda kepadamu adalah kebencian yang menunggu hadirnya kata maaf dalam kehidupan bunda. Andaikan kehadiran kata maaf muncul dalam waktu dekat, mungkin kau bisa memeluk bunda lagi, tetapi kalau kata maaf tak pernah hadir dalam kehidupan bunda kau boleh kembali saat usia bunda sedang tersisa satu hembusan." Kata bunda sembari meninggalkan aku bersama heningnya gubuk tua di malam itu.
Kutatap langkah bunda dengan sepasang mata bimbang. Kulihat gubuk tua ini lagi tak sekadar gubuk tetapi film pendek dengan pemeran kedua yang telah tiada.
Semoga bunda tak sekejam ini. Dalam keheningan malam itu aku berseru entah kepada siapa suaraku akan berlabuh dan dalam hati kecil yang sedang berdarah kutujukan seutas kata," Tuhan, ini aku. Aku menanti setetas anggur merembes jatuh pada cawan-Mu."  

(Erwin Pitang, tinggal di Vocationary)

 
_________________________________
Artikel ini telah tayang di pos-kupang.com dengan judul Cerpen Erwin Pitang: Menunggu Hadirnya Maaf, https://kupang.tribunnews.com/2018/11/19/cerpen-erwin-pitang-menunggu-hadirnya-maaf.
Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde

Minggu, 19 April 2020

Perempuan Berambut Api (Cerpen Ni Komang Ariani, Kompas, 12 November 2017)





Dosa terbesar saya hari ini adalah karena saya telah membiarkan rambut saya tergerai. Orang-orang memandang saya dengan kebencian yang tidak saya mengerti. Terutama perempuan tua berambut kusut itu. Ia mengira saya adalah perempuan Liak, yang gemar menari di kuburan desa untuk merapal mantra ilmu hitam. Ia menuduh saya kerap menari memutari Sanggah Cucuk, dengan menaikkan satu kaki, sambil melengkingkan tawa mengikik yang meremangkan bulu kuduk.
Perempuan itu mengatai-ngatai saya perempuan berambut api. Ia membuang ludahnya yang kental setiap saya melintas. Orang-orang lain ikut membenci saya.
“Kamu masih bau kuburan,” katanya dengan suara yang serak dan dalam.
“Kelak kau akan diburu obor yang menyala-nyala. Di tempat itu, kau tidak dapat lagi memamerkan senyummu. Kau hanya akan menjerit-jerit kesakitan. Tubuhmu akan menjelma batang-batang kayu bakar. Kau akan menjadi makanan api. Ia akan menyulapmu, menjadi seonggok abu.”
Perempuan itu memercayai apa yang belum pernah dilihatnya. Setiap Kajeng Kliwon, ia mematai-matai rumah saya. Berupaya menangkap basah saya bersalin rupa menjadi kera, babi bertaring panjang, kerbau berkaki tiga, kuda atau mungkin seekor anjing yang buduk. Menguatkan tuduhannya, bahwa saya perempuan yang kerap merapal mantra di pekuburan desa, menunggu mantra itu masak untuk bersalin rupa menjadi jenis-jenis binatang itu.
Setiap Kajeng Kliwon, ia mondar-mandir di jalan setapak di depan rumah saya. Perempuan itu memegang sebatang tongkat yang besar dan panjang, bersiap menunggu munculnya jenis-jenis binatang yang diingatnya itu. Namun yang sering melintas adalah seekor anjing buduk, seperti umumnya jalan setapak di desa kami. Pada suatu malam, ia pernah memukul seekor anjing buduk dengan teramat keras, sampai anjing itu terkaing-kaing memilukan.
Anehnya, ia tidak pernah punya nyali untuk benar-benar membuntuti saya ke kuburan desa, untuk membuktikan kebenaran dugaannya. Ia cukup puas dan yakin dengan perkiraannya sendiri.
Tak ada warga desa yang tahu dengan tabiat perempuan tua berambut kusut itu. Tak ada pula warga desa yang menganggap perempuan itu adalah perempuan yang kejam. Ia pemarah dan pembenci siapa saja. Setiap ada Odalan di Pura, ia duduk di tempat yang paling tinggi. Di sebuah bangku yang beralaskan beludru dengan sulaman keemasan di beberapa bagian.
Dari tempat duduknya, ia bisa memandang orang-orang lainnya dengan leluasa. Ia selalu duduk dengan bahu tegak dan kepala mendongak. Rambutnya digelung tinggi, dengan pita berwarna perak yang membungkusnya. Tak seorang pun berani mengusiknya. Atau sekadar melempar pandangan ke arahnya. Sampai suatu ketika mata kami bertatapan di satu titik.
Itulah titik permulaan, perempuan itu memandang saya, dengan matanya yang seperti ingin memakan saya hidup-hidup.
“Senyummu terlihat menjijikkan. Rambutmu acak-acakan seperti Liak. Oh itu, apa kau baru saja mencuci rambutmu dengan bunga mawar? Mulai besok kau harus menggelung rambutmu. Namun gelunganmu tidak boleh melampauiku. Kalau sampai aku melihatmu lagi dengan rambut tergerai, aku bersumpah seluruh desa akan membencimu.”
Perempuan itu menyeringai puas saat mulut saya terkatup rapat. Ia tak tahu sedang berbicara dengan perempuan bisu. Ia puas mengira saya terdiam ketakutan. Hanya matanya… matanya yang mengawasi riak mata saya yang tak tunduk kepadanya, setajam apa pun ia mencoba melubangi keyakinan saya.
Perempuan berambut kusut itu tak tahu, sekalipun tak memiliki suara, saya dapat membaca riak telaga di matanya. Mudah sekali melesat ke ceruk terdalam dan paling hitam dari bola matanya dan mencuri rahasia-rahasianya. Perempuan itu sebetulnya letih dengan kesendirian yang panjang. Dengan pengkhianatan demi pengkhianatan. Walaupun ia telah bersikap teramat lunak pada laki-lakinya. Laki-laki itu pergi setelah memeras seluruh cairan manis dari tubuhnya. Yang tersisa adalah kebencian yang mengerak di lingkaran hitam kelopak matanya. Kebencian terlalu berat untuk disangga oleh dua kelopak matanya yang mungil. Ia harus membagikannya kepada sebanyak mungkin. Saya hanya seorang perempuan malang yang berada di tempat yang salah.
***
Konon orang yang termulia lahir tanpa rambut. Warna hitam menyimpan gelap yang mencekam. Seperti liang sumur yang sempit dan dapat menjebakmu dalam lekukannya yang berlumut dan berlendir.
“Berarti orang gundul adalah orang-orang termulia?”
Aku tersenyum tipis. Ada hal-hal yang tak perlu ditanggapi. Perdebatan bukanlah segalanya.
Anakku mengerjapkan mata, berusaha melawan kantuk. Pagi datang, namun kantuk masih memberatinya.
“Bangunlah, Nak. Sebelum Pagi dikalahkan oleh Malam. Mereka sedang bertarung dengan sengit.”
Mulutnya yang mungil menguap lebar. Tidak ada hal-hal yang sungguh dikhawatirkannya. Susu habis, atau mainan yang rusak?
“Kalau kau tak segera bangun, Setan Rambut akan mengejarmu?”
“Apa Setan Rambut itu, Ma?”
“Setan yang berambut gimbal, dengan punggung yang berlubang. Ia suka mengejar anak-anak yang kelebihan waktu tidur. Setan itu ingin merebut mimpimu.”
Si bocah masih menguap lebar. Betul-betul tak ada yang dapat menakutinya. Bocah edan.
“Apa Setan Rambut tak takut padaku? Rambut lurus dan tajam-tajam seperti duri.”
“Setan Rambut tak takut pada apa pun.”
“Aku juga tidak takut pada apa pun.” Pipi tembamnya terlihat kemerahan. Membuatku terjebak dalam tawa dan tangis secara bersamaan.
“Bangunlah. Kita harus segera bersembunyi di kolong meja.”
“Aku sedang menunggu Tiko, Ma. Dia akan sedih kalau aku tidak ada.”
“Jangan menunggu seekor anjing dan membahayakan keselamatanmu. Seekor anjing hanya bisa menjilat. Ia akan dengan mudah menjilat yang lainnya.”
Muka anakku memerah seperti bola api.
“Anjing bukan penjilat, Ma. Anjing setia.”
Aku belum pernah melihatnya berubah menjadi bola api. Aku segera menggendongnya menuju kolong meja. Tak ada waktu lagi untuk berdebat dengannya.
“Aku tahu apa yang salah denganmu?”
“Apa?”
“Matamu.” Aku mendelik gemas. Sekali lagi dalam tangis dan tawa.
“Matamu membuatmu menjadi pengecut. Kau selalu ketakutan setiap mata seseorang berubah menjadi bola api. Bola api tidak bisa membunuhmu. Ia hanya menyimpan warna merah yang segera akan menghilang.”
“Jadi apa yang harus aku lakukan. Lawanlah. Bukan saatnya lagi bersembunyi di kolong meja.”
“Kita akan bertarung melawan Setan Rambut?”
“Kita akan bertarung dengan siapa saja. Kita melawan siapa saja yang jahat dan mengambil apa yang menjadi hak kita.”
“Betul. Seperti Setan Rambut, kita tak takut pada apa pun.”
Bocahku tersenyum tipis, kemudian terlelap dalam gendonganku.
***
Kebencian itu konon seperti jamur. Mudah tumbuh di tempat yang lembab dan gelap. Orang-orang desa masih menatap saya dengan sorot mata benci dan mereka tak kunjung lelah. Padahal saya mulai bosan.
Waktu berkhianat dan memihak perempuan berambut kusut itu. TV-TV mulai menyamarkan rambut-rambut perempuan yang tampak di layar kaca. Tak seorang pun tampil dengan rambut tergerai di papan-papan reklame. Gelung rambut dengan pita keperakan terlihat di mana-mana. Saya seperti melihat senyum perempuan itu di mana-mana. Perempuan yang menggelung tinggi rambutnya dan duduk di atas tempat duduk beludru berwarna keemasan.
Perempuan itu selalu menusuk mata saya dengan belati kebencian. Mungkin merasa sia-sia membuat saya tunduk dan takluk. Merasa sia-sia untuk membujuk saya menjadi pengikutnya. Ia hanya belum tahu, saya bisu.
Yang tidak ia ketahui, setiap kali sorot mata itu membidik mata saya, saya lebih dahulu melesat ke ceruk matanya yang terlihat menganga. Mengaduk-aduk isinya, membuatnya membocorkan rahasia-rahasia.
Laki-lakinya pergi dengan seorang perempuan yang mengurai rambutnya. Perempuan yang menghamburkan manis dari senyumnya. Laki-laki itu terserap oleh lesung dari pipinya. Terserap masuk, bagai jin yang terperangkap di dalam botol. Karena itu ia ingin mencabut senyum dari perempuan mana pun. Agar tak ada lagi yang merebut laki-lakinya.
Saya lelah dikelilingi jamur kebencian di mana-mana. Saya ingin menyerah. Tunduk. Takluk. Beberapa kali saya memandangi bayangan saya di cermin, mencoba menggelung rambut saya seperti perempuan berambut kusut itu. Memandangi wajah saya di cermin, seketika saya tak mengenali diri saya. Seseorang seperti telah mengikat serat-serat saraf di otak saya menjadi segenggam serabut yang kusut. Pikiran saya mandek, tak mampu lagi berkeliaran di kepala saya.
Pada suatu waktu, di depan perempuan itu, saya menggelung rambut saya dengan pita warna keperakan. Menyunggingkan sebuah senyum untuknya ketika kami berpapasan. Mencoba merayunya dengan bendera perdamaian. Perempuan itu mengamati rambut saya dan terlihat puas. Kemudian matanya tiba pada garis senyum, dan bola api itu memijar kembali.
“Senyummu menyebalkan. Kau harus menanggalkannya dari wajahmu.”
***
Kau tahu tanah menyimpan suara-suara yang mengambang di udara dan menyimpannya di dalam dirinya. Tanah merekam apa-apa yang kau katakan dan mengubahnya menjadi struktur dalam tubuh mereka. Menjadi aroma. Menjadi warna. Menjadi kepadatan.
Orang-orang pemarah tinggal di atas tanah yang meranggas dan mengeras. Tak ada pohon yang sukacita tumbuh di atasnya. Tidak ada tamu yang berniat singgah untuk sekadar mengagumi matahari terbit. Kau harus berhati-hati dengan perkataanmu. Berhati-hati menyemburkan sumpah serapahmu. Jangan sampai tanah mengabadikannya menjadi rasa asam.
Warga desa mengangkat tubuh perempuan itu dari kursi goyangnya, setelah bau busuk menyengat hidung mereka. Sepasang matanya mendelik tak rela.
Rumah milik perempuan berambut kusut itu, kini dibunuh sepi. Ditebas keangkeran seperti tanah pekuburan. Tak ada warga desa yang berniat menghuni rumah besar dengan bangunan elite yang ada di sana. Rumah termegah yang ada di desa kami. Semua orang memilih kembali ke gubuk bambunya masing-masing.
Entah apa yang ada di benak mereka. Mungkin mereka enggan meninggali tanah yang asam dan meranggas. Pepohonan mengering dan layu. Tak tahan pada hawa panas kemarahan yang bertahun-tahun memanggang mereka.
Mereka tak lagi ikut-ikutan memandang saya dengan kebencian. Mungkin mereka pun bosan. Mungkin karena tak ada lagi perempuan berambut kusut itu. Entah yang mana yang menjadi penyebabnya. Mereka membiarkan saya menggerai rambut saya kapan pun dan di mana pun. Mereka membiarkan saya tersenyum semau saya, tanpa berniat menanggalkannya dari wajah saya.
***

Catatan
Liak : perempuan yang mempraktikkan ilmu hitam
Sanggah Cucuk : suatu bentuk sarana upacara yang terbuat dari anyaman bambu
Kajeng Kliwon : salah satu hari penting dalam kegiatan upacara di Bali.
Odalan : acara penting di Pura




Ni Komang Ariani tahun 2008 menjadi pemenang Lomba Menulis Cerbung di Femina melalui novelet Nyanyi Sunyi Celah Tebing. Tiga cerpennya masuk dalam Cerpen Kompas Pilihan 2008, 2010, dan 2015. Bukunya yang telah terbit adalah Lidah, Senjakala, Bukan Permaisuri, dan Jas Putih. Dua bukunya, Bukan Permaisuri dan Senjakala, masuk dalam 10 Besar Khatulistiwa Literary Award.