Tampilkan postingan dengan label Tips dan Trik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips dan Trik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 April 2020

Zadie Smith: 10 Saran untuk Penulis




Zadie Smith (lahir Oktober 1975) adalah seorang penulis cerita pendek, penyair, penulis esai dan novelis Inggris yang tumbuh di Willesden Green, sebuah daerah kelas pekerja di barat laut London. Pada 2013, ia telah menerbitkan lima novel, yang paling terakhir adalah kisah multifaset dari London, NW (2012), Fail Better (2006), On Beauty (2005), The Autograph Man (2002) dan novel debutnya White Teeth (2000) ), yang semuanya telah menerima pujian kritis nan substansial.
White Teeth adalah kisah yang brilian, ditulis dengan jelas, sangat lucu, ceroboh tentang dua keluarga multi-budaya yang eksentrik di London Barat Laut. Ini menyajikan karakter dari berbagai (dan kadang-kadang campuran) kelas, ras dan kelompok etnis semua berpikir tentang diri mereka sendiri bahwa mereka memiliki kebenaran dalam tahanan. Smith mengatakan dia melihat kesamaan dalam beberapa perilaku karakternya dibandingkan dengan karakternya, mengingat bahwa dia dilahirkan dalam keluarga antar-ras (ayahnya adalah orang Inggris dan ibunya adalah seorang imigran Jamaika).
Meskipun White Teeth jelas tentang multikulturalisme di Inggris, novel ini memenuhi harapan besar dan tidak hanya pembaca Inggris, tetapi juga pembaca Amerika. Smith hampir secara instan dinobatkan sebagai juara fiksi kontemporer dan masa depan sastra ketika dia merilis buku itu. Beberapa kritikus mengatakan dia telah menulis novel yang bahkan tidak dapat dilakukan oleh penulis berbakat pada usia 80 apalagi pada usia muda 22 tahun dan masih seorang mahasiswa di Cambridge.
Tidak pernah diberi tahu apa yang harus dipikirkan atau dilakukan, Smith terus bekerja pada perkembangannya tanpa terpengaruh oleh statusnya yang semakin meningkat di dunia sastra. Dalam beberapa tahun terakhir, ia telah menjadi kritikus intelektual dan budaya publik yang cerdik, menerbitkan esai tentang beragam topik seperti keadaan novel realis, pantasnya fiksi David Foster Wallace, nasib Willesden Green Library Center dan masalah dengan Facebook.
Dalam sebuah wawancara di episode Desert Island Disc BBC, Smith tanpa berbasa-basi mengutuk obsesi media ‘konyol’ dengan penampilannya dan saran tersirat serta ‘seram’ bahwa seorang wanita cantik tidak dapat mencapai kebesaran sastra. Dia mengutip Sylvia Plath sebagai contoh seorang penulis wanita cantik yang telah berhasil dalam pekerjaannya sebelum membahas apa yang dia anggap sikap seksis ‘jahat’:

  1. Ketika masih anak-anak, pastikan Anda membaca banyak buku. Luangkan lebih banyak waktu untuk melakukan ini daripada yang lainnya.
  2. Ketika seorang dewasa, cobalah membaca karya Anda sendiri seperti orang asing akan membacanya, atau bahkan lebih baik, seperti yang dilakukan musuh.
  3. Jangan meromantiskan “panggilan” Anda. Anda bisa menulis kalimat yang baik atau tidak. Tidak ada “gaya hidup penulis”. Yang penting adalah apa yang Anda tinggalkan di halaman.
  4. Hindari kelemahan Anda. Tetapi lakukan ini tanpa mengatakan pada diri sendiri bahwa hal-hal yang tidak dapat Anda lakukan tidak layak dilakukan. Jangan menutupi keraguan diri dengan penghinaan.
  5. Berikan waktu yang cukup untuk menulis dan mengeditnya.
  6. Hindari klik-klik, geng, kelompok. Kehadiran orang banyak tidak akan membuat tulisan Anda lebih baik dari itu.
  7. Bekerja pada komputer yang terputus dari internet.
  8. Lindungi waktu dan ruang di mana Anda menulis. Jauhkan semua orang darinya, bahkan orang-orang yang paling penting bagi Anda.
  9. Jangan mengacaukan penghargaan dengan prestasi.
  10. Katakan kebenaran melmeskipun pembatasan ada di mana-mana- tetap katakan itu. Mengundurkan diri dari kesedihan seumur hidup yang datang karena tidak pernah puas.



*) Dari “Zadie Smith’s White Teeth: 10 Golden Rules for Writers” | (p) Virdika R Utama (e) Sabiq Carebesth



sumber:

Senin, 01 April 2019

5 Tips Karakterisasi Tokoh ala RICK RIORDAN



Karakterisasi atau pendeskripsian watak tokoh, merupakan salah satu unsur penting dalam proses penulisan cerita. Seperti kata pepatah ‘tak kenal maka tak sayang’, pembaca biasanya lebih mudah menyayangi tokoh yang dideskripsikan dengan baik. Nggak cuma tokoh protagonis yang harus punya karakterisasi kuat, tokoh antagonis pun harus bisa meninggalkan kesan yang kuat di benak pembaca. Setiap tokoh, baik protagonis maupun antagonis, punya peran masing-masing di sepanjang alur cerita.
Salah satu penulis yang dapat mendeskripsikan karakter dengan baik adalah Rick Riordan. Hal itu terlihat dari tokoh-tokohnya di berbagai karyanya, seperti Percy Jackson and The Olympians, The Heroes of Olympus, The Kane Chronicles, Magnus Chase and The Gods of Asgard, dan The Trials of Apollo. Tokoh yang diciptakan oleh Rick selalu punya ciri khas tersendiri, dari Percy Jackson yang disleksia, Piper McLean yang keturunan penduduk asli Amerika (Cherokee), Samirah al-Abbas yang berhijab, hingga Lester Papadopolous yang secara fisik berkebalikan dengan wujud dewatanya (Apollo). 
Melalui situsnya, Rick berbaik hati membocorkan ‘5 (lima) Tips Karakterisasi Tokoh’ buat kamu yang suka menulis:
Deksripsikan tokoh melalui tindakannya!
Rick Riordan selalu berusaha mendeskripsikan karakter tokoh melalui tindakannya, kemudian baru diperjelas melalui percakapan dan deskripsi tambahan dalam narasi. Menurut Rick, penulis harus dapat menggambarkan karakter tokoh melalui pilihan yang dibuat dan tindakan yang dilakukannya. Bagaimana cara tokoh itu menanggapi kekerasan? Bagaimana cara tokoh itu menunjukkan kasih sayang? Kemudian, kamu bisa tambahkan detailnya melalui ucapan si tokoh dan gambaran singkat dalam narasi (lihat poin berikutnya) –jangan deskripsikan semua detail dalam satu narasi panjang!
Pilih deskripsi impresionis, bukan realistis!
Ikuti cara Charles Dickens mendeskripsikan tokoh, yaitu dengan satu frasa singkat yang menunjukkan kesan/impresi penulis terhadap si tokoh. Penjelasan tentang ciri-ciri fisik memang terdengar realistis, tapi cukup sulit diingat dan tidak terlalu menarik. Daripada menuliskan semua detail tentang si tokoh, akan lebih menarik kalau penulis memilih satu sifat atau ciri fisik sebagai fokus agar mudah diingat oleh pembaca. Rick juga menyarankan penggunaan metafora yang mewah, misalnya ‘dia itu seperti manusia roket’.
Boleh terinspirasi dari tokoh nyata, tapi kembangkan lagi!
Menciptakan tokoh yang terinspirasi dari diri sendiri atau orang lain adalah hal yang lumrah. Hal itu tidak dilarang, tapi jangan lupa biarkan karakternya berkembang. Tokoh yang terinspirasi dari seseorang di dunia nyata tidak harus melakukan hal yang sama persis dengan sumber inspirasinya, jadi silakan kembangkan karakter tokoh itu dengan imajinasimu. Dalam perkembangannya di sepanjang cerita, jarang sekali tokoh seperti itu yang sama persis dengan sumber inspirasinya.
Nggak semua detail harus dijelaskan, lho!
Buat kamu, mungkin penting untuk punya tokoh yang bermata biru atau hobi pergi ke restoran cepat saji tertentu. Tapi kalau detail-detail itu tidak berhubungan dengan alur cerita, pembaca nggak akan peduli. Biarkan detail seperti itu ada di pikiranmu saja.
Pastikan tokoh kamu melakukan tindakan yang mempengaruhi cerita!
Sebagai pembaca, kita biasanya peduli pada tokoh tertentu karena tertarik pada pilihan-pilihan yang dibuatnya. Kita ingin meneriaki tokoh yang jahat, menyemangati sang pahlawan, dan menangis ketika tokoh yang kita dukung melakukan sebuah kesalahan. Tokoh yang tidak melakukan tindakan apa-apa, hanya ‘menonton’ atau menerima informasi dari tokoh lain, tidaklah menarik bagi pembaca. Ingat, alur cerita berlanjut karena hal-hal yang dilakukan oleh para tokoh. Kalau tokohnya tidak melakukan apa-apa, cerita pasti akan terasa hampa.
Nah, bagaimana kalau sudah mencoba kelima poin di atas tapi kamu masih merasa kesulitan mengembangkan tokoh dalam ceritamu? Cobalah buat biodata si tokoh dan buat daftar profilnya selengkap mungkin, dari jumlah anggota keluarganya hingga makanan favoritnya. [Rfd]


Sumber:

Senin, 11 Maret 2019

Bagaimana Menuliskan Biodata Narasi yang Berkesan Bagi Penulis Pemula?



Biodata narasi itu apa? Bagaimana sih maksudnya? Cara buatnya gimana? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul di kolom komentar yang memposting event-event lomba kepenulisan, yang menyebutkan: sertakan biodata narasi.
Memang, bagi penulis pemula, menuliskan biodata narasi itu serba membingungkan. Bagaimana tidak, penulis pemula masih belum percaya diri karena belum memiliki karya spektakuler atau sejumlah prestasi membanggakan di bidang kepenulisan.
Mulai dari pengertiannya dulu, biodata narasi adalah biodata atau riwayat hidup yang ditulis berupa teks atau paragraf dalam bentuk narasi atau cerita. Bisa dikatakan bercerita tentang diri kita sebagai penulis.
Dalam penulisan biodata narasi, ada juga sudut pandang seperti penulisan cerpen atau novel. Meski sebenarnya biodata narasi itu penulis sendiri yang menuliskan, tapi kebanyakan memakai sudut pandang orang ketiga. Kenapa orang ketiga? Agar penulisan biodata tersebut tidak terkesan seperti curhat dan menyombongkan diri. Karena si 'aku atau saya' menyebutkan prestasi-prestasinya sendiri.
Pada sudut pandang orang ketiga, penulis memposisikan dirinya sebagai sosok rendah hati dengan banyak prestasi, idola yang patut dikagumi, bukan dipandang "sok yes". Penulis juga tidak terkesan sedang curhat, sehingga pembaca bisa tertarik.

Contoh penulisan biodata narasi

 (https://wayangpustaka02.wordpress.com/page/8/)


Selanjutnya, jangan terlalu bertele-tele dalam menulis biodata narasi. Kita bukan sedang menuliskan tokoh utama dalam cerita yang harus detail penggambaran karakternya. Jadi kalau di biodata narasi itu kita nggak perlu kasih semua info tentang diri kita, seperti menulis biodata di buku catatan teman SD.
Kenapa tidak boleh bertele-tele? Karena itu sangat membosankan. Kredibilitas pertama yang kita bangun kepada pembaca sebenarnya bukan dari biodata narasi, tapi dari tulisan kita. Kualitas tulisan kita. Percuma juga kita cantumkan latar belakang dan pengalaman sepanjang apapun di biodata narasi, tapi tulisan kita kurang memuaskan pembaca. Dan biodata narasi itu sebagai tambahan nilai jual, brand image kita, bukan termasuk dalam materi tulisan yang kita angkat.
Lalu, bagaimana kalau kita belum memiliki pengalaman yang menurut kita menarik untuk kita tulis di biodata narasi kita? Gak perlu bingung, setelah informasi tentang diri kita, tuliskan motto hidup kita yang berkesan.
Untuk penulisan alamat, ada dua kategori penulisan alamat dalam biodata narasi, seperti ini:

  • ·Alamat untuk kita cantumkan dalam buku yang kita tulis, tidak perlu kita tulis detail. Alasannya yaa demi keamanan kita sendiri. Kalau kita sudah terkenal, misal buku yang kita tulis jadi best seller dan kita mendapat sorotan media, kalau kita sebar alamat lengkap di mana-mana, bukan tidak mungkin kita akan menjadi sasaran kejahatan. Jadi cukup alamat domisili saja yang kita cantumkan di biodata narasi kita.
  •  Alamat lengkap boleh kita tulis di dalam lomba atau event menulis, yang tidak disebarluaskan, biasanya dikirim ke email. Dan panitia memang meminta kita untuk menuliskan lengkap. Itu boleh.

Selanjutnya, berapa karakter maksimal dalam penulisan biodata narasi?
Sesuai kebutuhan. Kalau tulisannya hanya puisi 100 kata jangan tulis biodata narasi 1000 kata, nanti pembaca jadi bingung sebenarnya tulisannya puisi atau cerpen. Ada juga beberapa panitia lomba yang menentukan panjang karakter biodata narasi, misalnya maksimal 50 kata atau 100 kata.
Jadi, inilah daftar hal apa saja yang perlu ditulis dalam biodata narasi:

  1. ·         Nama
  2. ·         Tempat tanggal lahir
  3. ·         Alamat domisili
  4. ·         Motto hidup
  5. ·         Prestasi
  6. ·         nama sapaan/nama pena
  7. ·         Pengalaman organisasi
  8. ·         Cita-cita
  9. ·         Akun medsos, email dan kontak lainnya.

Dengan biodata narasi yang pas dan berkesan, semoga bisa membawa lebih banyak orang mengenal positif diri kita dan mencintai kita.



Sumber: