Senin, 05 Februari 2018

Mengenal Teknik Penulisan Cerpen dan Puisi


Oleh Anjrah Lelono Broto*


A. CERPEN
1. Pengertian Umum Cerpen
     Sebenarnya, tidak ada rumusan yang baku mengenai apa itu cerpen. A. Bakar Hamid dalam tulisan "Pengertian Cerpen" berpendapat bahwa yang disebut cerita pendek itu harus dilihat dari kuantitas, yaitu banyaknya perkataan yang dipakai: antara 500-20.000 kata, adanya satu plot, adanya satu watak, dan adanya satu kesan. Dari beberapa buku dan uraian yang layak dijadikan pedoman, tampaknya pendapat pakar cerita pendek dunia, Edgar Allan Poe, sangat cocok menjadi panduan- karena secara teoritis ia memenuhi kriteria ilmiah, tetapi secara praktis ia dapat diaplikasikan. Pendapat yang disederhanakan sebagai berikut:
Anjrah Lelono B. bersama dewan guru dan siswa SMPN 2 Kota Malang
     Pertama, cerita pendek harus pendek dan memberi kesan secara terus-menerus hingga kalimat terakhir. Berarti, cerita pendek harus ketat, tidak mengobral detail, dialog hanya diperlukan untuk menampakkan watak, atau menjalankan cerita atau menampilkan problem.
     Kedua, cerita pendek mengalir dalam arus untuk menciptakan efek tunggal dan unik. Menurut Poe ketunggalan pikiran dan aksi bisa dikembangkan lewat satu garis dari awal sampai akhir. Di dalam cerita pendek tak dimungkinkan terjadi aneka peristiwa digresi.
     Ketiga, cerita pendek harus mampu meyakinkan pembacanya bahwa ceritanya benar-benar terjadi, bukan suatu bikinan, rekaan. Itulah sebabnya dibutuhkan suatu ketrampilan khusus, adanya konsistensi dari sikap dan gerak tokoh, bahwa mereka benar-benar hidup, sebagaimana manusia yang hidup.
     Keempat, cerita pendek harus menimbulkan kesan yang selesai, tidak lagi mengusik dan menggoda, karena ceritanya seperti masih berlanjut. Kesan selesai itu benar-benar meyakinkan pembaca, bahwa cerita itu telah tamat, sampai titik akhirnya, tidak ada jalan lain lagi, cerita benar-benar rampung berhenti di situ. 

2. Karakteristik Cerpen
     Yang jelas, karakteristik utama cerpen adalah pendek dan singkat. Di dalam cerita yang singkat itu, tentu saja tokoh-tokoh yang memegang peranan tidak banyak jumlahnya, bisa jadi hanya seorang, atau bisa juga sampai sekitar empat orang paling banyak. Itu pun tidak seluruh kepribadian tokoh, atau tokoh-tokoh itu diungkapkan di dalam cerita. Fokus atau, pusat perhatian, di dalam cerita itu pun hanya satu. Konfliknya pun hanya satu, dan ketika cerita itu dimulai, konflik itu sudah hadir di situ. Tinggal bagaimana menyelesaikan saja.
     Karena pendeknya, kita biasanya tidaklah menemukan adanya perkembangan di dalam cerita. Tidak ada cabang-cabang cerita. Tidak ada kelebatan-kelebatan pemikiran tokoh-tokohnya yang melebar ke pelbagai hal dan masalah. Peristiwanya singkat saja. Kepribadian tokoh, atau tokoh-tokoh, pun tidak berkembang, dan kita tidak menyaksikan adanya perubahan nasib tokoh, atau tokoh-tokoh ini ketika cerita berakhir. Dan ketika konfik yang satu itu terselesaikan, kita tidak pula tahu bagaimana kelanjutan kehidupan tokoh, atau tokoh-tokoh, cerita itu.
     Dan karena jumlah tokoh terbatas, peristiwanya singkat, waktu berlangsungnya tidak begitu lama, kata-kata yang dipakai harus hemat, tepat dan padat, maka –diatara karakteristik cerpen- tempat kejadiannya pun juga terbatas, berkisar 1-3 tempat saja.
3. Unsur-Unsur Dalam Sebuah Cerpen
1.   Tema
     Yaitu gagasan inti. Dalam sebuah cerpen, tema adalah sebuah ide pokok, pikiran utama sebuah cerpen; pesan atau amanat. Dasar tolak untuk membentuk rangkaian cerita; dasar tolak untuk bercerita.
     Tidak mungkin sebuah cerita tidak mempunyai ide pokok. Yaitu sesuatu yang hendak disampaikan pengarang kepada para pembacanya. Sesuatu itu biasanya adalah masalah kehidupan, komentar pengarang mengenai kehidupan atau pandangan hidup si pengarang dalam menempuh kehidupan luas ini. Pengarang tidak dituntut menjelaskan temanya secara gamblang dan final, tetapi ia bisa saja hanya menyampaikan sebuah masalah kehidupan dan akhirnya terserah pembaca untuk menyikapi dan menyelesaikannya.
     Secara tradisional, tema itu bisa dijelaskan dengan kalimat sederhana, seperti: 1. Kejahatan pada akhirnya akan dikalahkan oleh kebaikan. 2. Persahabatan sejati adalah setia dalam suka dan duka. 3. Cinta adalah energi kehidupan, karena itu cinta dapat mengatasi segala kesulitan. Dan lain sebagainya.
2.   Alur atau Plot
     Yaitu rangkaian peristiwa yang menggerakkan cerita untuk mencapai efek tertentu. Plot adalah –menurut Aswendo Atmowiloto- sebab-akibat yang membuat cerita berjalan dengan irama atau gaya dalam menghadirkan ide dasar.
     Semua peristiwa yang terjadi di dalam cerita pendek harus berdasarkan hukum sebab-akibat, sehingga plot jelas tidak mengacu pada jalan cerita, tetapi menghubungkan semua peristiwa. Dalam cerpen biasanya digunakan plot ketat artinya bila salah satu kejadian ditiadakan jalan cerita menjadi terganggu dan bisa jadi, tak bisa dipahami. 
3.   Penokohan
     Yaitu penciptaan citra tokoh dalam cerita. Tokoh harus tampak hidup dan nyata hingga pembaca merasakan kehadirannya. Dalam cerpen modern, berhasil tidaknya sebuah cerpen ditentukan oleh berhasil tidaknya menciptakan citra, watak dan karakter tokoh tersebut. Penokohan, yang di dalamnya ada perwatakkan sangat penting bagi sebuah cerita, bisa dikatakan ia sebagai mata air kekuatan sebuah cerita pendek.
     Pada dasarnya sifat tokoh ada dua macam; sifat lahir (rupa, bentuk) dan sifat batin (watak, karakter). Dan sifat tokoh ini bisa diungkapkan dengan berbagai cara, diantaranya melalui:
1.Tindakan, ucapan dan pikirannya
2.Tempat tokoh tersebut berada
3.Benda-benda di sekitar tokoh
4.Kesan tokoh lain terhadap dirinya
5.Deskripsi langsung secara naratif oleh pengarang
    4. Latar atau Setting
     Yaitu segala keterangan mengenai waktu, ruang dan suasana dalam suatu cerita. Pada dasarnya, latar mutlak dibutuhkan untuk menggarap tema dan plot cerita, karena latar harus bersatu dengan teman dan plot untuk menghasilkan cerita pendek yang gempal, padat, dan berkualitas. Kalau latar bisa dipindahkan ke mana saja, berarti latar tidak integral dengan tema dan plot.
     Cerpen saya, “Dang” yang mengambil setting khas tanah Minangkabau pedesaan, dengan watak, budaya, emosi, kondisi geografi yang sangat khas Minangkabau tentu akan menjadi lucu jika settingnya dipindah di Gresik atau Surabaya. Jelas bahwa setting akan sangat menentukan watak dan karakter tokoh.
4.   Sudut Pandangan Tokoh
     Di antara elemen yang tidak bisa ditinggalkan dalam membangun cerita pendek adalah sudah pandangan tokoh yang dibangun sang pengarang. Sudut pandangan tokoh ini merupakan visi pengarang yang dijelmakan ke dalam pandangan tokoh-tokoh bercerita. Jadi sudut pangan ini sangat erat dengan teknik bercerita.
     Sudut pandangan ini ada beberapa jenis, tetapi yang umum adalah:
a.Sudut pandangan orang pertama. Lazim disebut point of view orang pertama. Pengarang menggunakan sudut pandang “aku” atau “saya”. Di sini yang harus diperhatikan adalah pengarang harus netral dengan “aku” dan “saya”nya.
b.Sudut pandang orang ketiga, biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia”. Atau bisa juga dengan menyebut nama tokohnya; “Aisha”, “Fahri”, dan “Nurul”.
c.Sudut pandang campuran, di mana pengarang membaurkan antara pendapat pengarang dan tokoh-tokohnya. Seluruh kejadian dan aktivitas tokoh diberi komentar dan tafsiran, sehingga pembaca mendapat gambaran mengenai tokoh dan kejadian yang diceritakan. Dalam “Sekelumit Nyanyian Sunda” Nasjah Djamin sangat baik menggunakan teknik ini.
d.Sudut pandangan yang berkuasa. Merupakan teknik yang menggunakan kekuasaan si pengarang untuk menceritakan sesuatu sebagai pencipta. Sudut pandangan yang berkuasa ini membuat cerita sangat informatif. Sudut pandanga ini lebih cocok untuk cerita-cerita bertendens. Para pujangga Balai Pustaka banyak yang menggunakan teknik ini. Jika tidak hati-hati dan piawai sudut pandangan berkuasa akan menjadikan cerpen terasa menggurui.
 
   e. Anatomi Cerita Pendek
     Setelah mengerti betul definisi cerpen, karakteristik cerpen dan unsur-unsur yang wajib ada dalam membangun cerpen, maka sejatinya Anda sudah sangat siap untuk menciptakan sebuah cerpen. Sebelum menulis cerpen ada baiknya anda mengetahui anatomi cerpen atau bisa juga disebut struktur cerita. Umumnya anatomi cerpen, apapun temanya, di manapun settingnya, apapun jenis sudut pandangan tokohnya, dan bagaimanapun alurnya memiliki anatomi sebagai berikut: (1) situasi (pengarang membuka cerita) (2) peristiwa-peristiwa terjadi (3) peristiwa-peristiwa memuncak (4) klimaks dan (5) anti Klimaks.
     Cerpen yang baik adalah yang memiliki anatomi dan struktur cerita yang seimbang. Kelemahan utama penulis cerpen pemula biasanya di struktur cerita ini.
                        
B. PUISI                      
     Tak pernah ada definisi yang paten dan tak terbantahkan untuk menemukan pengertian puisi. Sehingga menemukan pengertian puisi bukanlah sesuatu yang akan dibincang dalam tulisan ini, justru keberanian untuk menciptakan kebiasan menulis puisi adalah tujuan sederhana tulisan ini.
     Langkah pertama menulis puisi tentu saja diawali dengan tema. Pilihlah tema yang paling diminati. Cirinya Anda menyukai tema tersebut, banyak informasi mengenainya, dan ada rasa senang ketika membicarakannya. Sebagai contoh tema cinta. Dari tema cinta kita dapat memilih sub-tema lainnya, seperti sedih, bahagia, kesetiaan, sakit hati, pengorbanan, dan hal-hal yang berhubungan dengan cinta. 
     Judul termasuk faktor penting dalam puisi. Inilah langkah-langkah dalam membuatnya.
  1. Buatlah dalam sebuah kalimat
  2. Buatlah 5 judul dengan kalimat lain namun idenya sama
  3. Pilihlah salah satu darinya
Contoh proses membuat judul. Ambilah contoh bahwa kita akan membuat puisi dengan ide utama "Aku rindu padamu." Ubahlah ke berbagai versi judul. Misalnya; “Betapa aku rindu”, “Kepadamu Rinduku Kuberikan”, “Padamu Rindu Ini Bertaut, “Kurindukan Dirimu Dengan Segenap Jiwa”, “Mahligai Rinduku Untukmu”. Dari 5 daftar tersebut, pilih terbaik: yaitu memenuhi standar seni, indah, dan menarik bagi pembaca.
     Puisi-puisi Kahlil Gibran sangat menarik dan indah. Ia sendiri bagaimana mengajarkan bagaimana menemukan kata-kata indah dalam membuat puisi. Caranya dengan membuat turunan kata. Contohnya kita mengatakan kata pohon, maka ingat pula akarnya, tinggi batangnya, tangkai-tangkainya, guratan-guratan daunnya. Ingat pula bagaimana cahaya matahari yang menyinari, air yang menyuburkannya, burung-burung yang bersiul di antara dedahannya. Dengan cara tersebut, kita sudah menemukan banyak kata yang berhubungan dengan "pohon." Gunakanlah kata yang sesuai dengan tema. Jadikan dalam suatu kalimat. Lalu ubahlah dengan berbagai versi kalimat meskipun idenya sama.
     Langkah kedua dalam penulisan puisi adalah menemukan kata-kata yang tepat (diksi). Temukan dan gunakan kata-kata yang tepat. Penggunaan kata bisa dilatih. Jika Anda tekun berlatih, pemilihan kata bukan lagi sebagai halangan. Banyak orang yang tidak merasa mampu untuk menemukan kata yang indah untuk puisinya. Untuk mengatasinya, gunakan teknik konversi; yaitu menemukan berbagai versi dari kalimat yang akan kamu buat. Sebagai contoh, kalimat; “Aku ingin rajin belajar”. Inilah beberapa versi yang bisa muncul dari kalimat tersebut; (a) “Sungguh, ku ingin belajar sungguh-sungguh”, (b) “Ku ingin belajar rajin”, “(c) “Belajar rajin, sungguh ku ingin”.
     Langkah ketiga dalam penulisan puisi adalah membangun suasana. Menciptakan suasana seperti yang kita inginkan bisa hadir dalam puisi kita melalui rangkaian diksi-diksi. Caranya adalah dengan menggunakan teknik sinonim, metafora, deskriptif, dan vokalisasi. Teknik sinonim adalah menggunakan pilihan kata yang semakna untuk melahirkan efek suasana yang kita inginkan. Contoh kata “Matahari”, sinonimnya adalah “surya”, “bagaskara”, “mentari”, dll. Kata “mentari” memiliki efek suasana pagi, sedang “surya” memiliki efek senja hari. Metafora lain lagi, kata “bahagia” bisa diwakilkan dengan kata “musim semi”, “bunga bermekaran”, “udara ranum”, dll. Sedang deskriptif, cenderung memaparkan suasana yang kita ingin ciptakan melalui penggabungan sinonim dan metafora. Sedangkan vokalisasi, lebih mengerucut pada pembangunan suasana dengan menitikberatkan bunyi huruf vocal diksi-diksi. Contoh; “padi mati menukik ke bumi”, huruf vocal “i” sangat mendominasi. Suasana yang ditimbulkan huruf dari “i” adalah keseriusan, mistik, kegalauan, kesedihan, dll. Bandingkan dengan dominasi huruf vokal “a”, “cahaya surya menyapa rata berlapang dada”. Suasana yang ditimbulkan oleh huruf “a” adalah kebahagiaan, suka ria, ketenangan, dll.
     Ternyata, mudah bukan menulis puisi?

     Selamat menulis cerpen dan puisi.

******

------
disampaikan dalam “Sarasehan Penulisan Cerpen dan Puisi” dalam rangka Bulan Bahasa di SMPN 2 Kota Malang, 21-22 Oktober 2016.                                                                                

Minggu, 04 Februari 2018

Sastra Jawa dan Politik Kebudayaan



Oleh Edi Purwanto, Staff Redaksi JelajahBudaya dot com dan email: edhenk_malang at yahoo.co.id


SERAT CENTHINI - sumber gambar: www.jualbukuonline.blogspot.com
Sastra Jawa sebagai khasanah pemikiran yang berkembang, rupanya memiliki akar kekuatan dan khasanah yang luas atas sejarah perkembangan Jawa. Keberadaan serat-serat Jawa kuno merupakan representasi dari Jawa pada zaman itu. Sekaligus sebagai alat legitimasi untuk pengukuhan identitas Jawa. Betapa tidak, hampir seluruh kejadian di Jawa pada saat itu senantiasa diceritakan lewat karya sastra. Manifestasi cerita-cerita itu berupa tembang, mantra, suluk dan lain sebagainya. Seperti kebanyakan munculnya karya sastra yang lain, sastra Jawa timbul berawal dari adanya ketimpangan. Akan tetapi tidak sedikit sastra Jawa yang muncul untuk memperkuat sistem pemerintahan yang berkuasa pada saat itu.

Sastra dan Kekuasaan
Y.B. Mangunwijaya berpendapat bahwa sastra bukanlah persoalan bahasa saja. Sastra selalu ada hubunganya dengan religius. Sastra adalah intellectual exercise, sebuah dunia pemikiran yang menyimpan nilai-nilai kebenaran. Akan tetapi perlu kita sadari bersama bahwa sastra juga sebagai arena untuk merepresentasikan kondisi sosial yang ada pada saat itu. Sastra juga tidak lepas dari kondisi politik. Dengan memposisikan sastra seperti ini kita akan mampu menganalisa tentang kuasa yang ada di balik sastra. Hal ini dikarenakan setiap kerajaan yang berkuasa di Jawa senantiasa menuliskannya. Apapun yang terjadi di istana kerajaan senantiasa dituliskannya. Namun jangan heran jika tulisan yang dibuat istana ini bias kekuasaan.
Kekuasaan seperti yang di ungkapkan oleh Michael Foucault dalam Power of Knowledge: Selected Interviews and Other Writings, (1972-1977). Buku ini menjelaskan bahwa, kekuasaan itu tidak melulu pada posisi subyek penguasa. Kekuasaaan itu menyebar melewati diskursif. Untuk mengendalikan kekuasaan, manusia harus bisa menguasai pengetahuan. Karena pengetahuan itu tidak lain adalah cara untuk menguasai orang lain. Foucault memaknai kekuasaan tidak seperti Antonio Gramsci. Gramsci memahami bahwa kekuasaan itu ada pada subyek penguasa. Kalau memang begitu pemahaman Gramsci, maka kekuasaan tidak dikendalikan oleh pengetahuan sebagaimana di ungkapkan oleh Foucault. Akan tetapi kekuasaan itu dikondisikan dan dikendalikan melaui hegemoni. Rupanya di Jawa kekuasaan berjalan dengan menggunakan dua frame ini, yaitu hegemoni dan diskursif.
Pada pemerintahan Sultan Agung misalnya, setelah ia berhasil mematahkan kesultanan pesisiran yang mendapatkan dukungan dari pesantren, maka dia mulai menyadari untuk menetapkan strategi budaya untuk menghubungkan dua kebudayaan yaitu Islam dan Jawa. Strategi untuk membaurkan Islam dengan budaya Jawa dimulainya dengan mengganti tahun Saka berdasarkan perjalanan matahari, menjadi perhitungan Jawa berdasarkan bulan. Setelah itu disesaikan dengan perhitungan Hijriyah. Mingguan Hijriyah yang terdiri dari tujuh hari diintegrasikan dengan mingguan Jawa yang terdiri dari 5 hari. Senin Wage Selasa Kliwon, Rabo Paing dan seterusnya. Demikian bulan bulan Jawa disesuaikan dengan bulan-bulan Hijriyah. Misalnya Mulud, Rejeb, Ruwah, Poso dan seterusnya.
Strategi yang dilakukan oleh Sultan Agung ini rupanya memberikan angin segar kepada sastrawan kejawen untuk menekuni pokok-pokok ajaran Islam. Hal ini sengaja dilakukan oleh para sastrawan guna mengembangkan khasanah sastra Jawa. Dari persinggungan para sastrawan kejawen dengan Islam, munculah beberapa sastra yang lebih berbau percampuran antara Islam dan Jawa. Di antara kitab itu adalah Suluk Quthub, Suluk Sukma Lelana, Suluk She Amongraga, dan lain-lain. Selain itu, pada saat-saat itu muncul beberapa cerita yang berbentuk babad. Seperti Babad Demak, Babad Tanah Jawa, Babad Tapel Adam, dan lain-lainnya. Tulisan-tulisan itu berbentuk prosa (gancar) ataupun puisi (macapat).
Kalau kita melihat yang dilakukan oleh Sultan Agung, memelihara sastra hanyalah sebuah siasat untuk mempertahankan posisinya sebagai raja. Strategi pengembangan sastra yang diberlakukan pada saat itu tidak lepas dari hegemoni Sultan Agung kepada para sastrawan Jawa. Rupanya para sastrawan Jawa tidak bisa melepaskan hegemoni yang dilakukan oleh Sultan Agung. Maka dari itu, untuk mempertahankan kekuasaan dan kehormatan raja, para pujangga mengubah sastra Jawa kuno dengan dibumbui oleh beberapa pemikiran sufi. Hal ini dilakukan agar karyanya bisa diterima oleh masyarakat pesantren ataupun masyarakat kejawen. Selain itu yang lebih penting adalah menyelamatkan posisi raja dari citra buruk di hadapan masyarakatnya. Serat Centhini merupakan salah satu hasil gubahan yang dilakukan oleh pujanggga sastra Jawa.

Serat Centhini
Serat Centhini adalah puncak karya sastra tulis Jawa klasik karya Raja Keraton Surakarta Hadiningrat, Paku Buwono V tatkala menjadi putra mahkota pada 1814. Sedangkan Centhini, yang berperawakan ramping, adalah seorang gadis pembantu rumah tangga suami-istri, Jayengresmi alias Amongraga dan Tembanglaras. Serat Centhini ditulis menggunakan tembang macapat. Secara garis besar, serat ini menceritakan pengembaraan Jayengresmi menyusuri pulau Jawa dari Blambangan ke Banten hingga kembali menuju Mataram. Jayengresmi adalah salah seorang putra Sunan Giri III. (Denys Lombard, 2005: 155)
Serat Centhini nama resminya adalah Suluk Tembangraras. Serat ini digubah pada sekitar 1815 oleh tiga orang pujangga istana Kraton Surakarta, yaitu Yasadipura 11, Ranggasutrasna, dan R. Ng. Sastradipura (Haji Ahmad Ilhar) atas perintah K.G.P.A.A. Amengkunegara II atau Sinuhun Paku Buwana V. Isinya beragam, mulai dari bab agama Islam, ilmu lahir batin, gending, tari, hari buruk dan baik, tembang, sampai masakan Jawa. Bahkan soal keris, kerawitan dan tari, tata cara membangun rumah, pertanian, primbon atau horoskop, soal makanan dan minuman, adat istiadat, kuda, kesaktian, hingga ke soal hubungan intim suami-istri yang paling rahasia pun terangkum di sana.(Ulil Absor, 2000)
Dalam catatan analisa Denys Lombard pada tahun (1996), Serat Centhini terdiri dari 722 pupuh panjangnya, dan terdiri dari 12 bagian besar. Setiap pupuh terdiri dari baris-baris yang jumlahnya tidak tetap, yaitu antara 20-70 buah. Semuanya disusun menurut tembang tertentu. Tergantung tembang tertentu, bait bisa terdiri dari 4 sampai 9 larik. Setiap larik mengandung sejumlah kaki mantra dan rima tertentu. Bisa kita hitung jika setiap pupuh rata-rata ada 40 bait dan setiap bait terdiri dari 7 larik, maka diperoleh 200.000 lebih. ( Lombard , 2005: 150) Sebagaimana tercermin dalam bait-bait awal, serat ini ditulis dengan ambisi sebagai database pengetahuan Jawa.
Serat Centhini adalah cerminan dari negosiasi antara Islam dan Jawa. Dimana Islam tidak dianggap lagi sebagai budaya yang agung keberadaannya. Dalam surat Centhini, Islam dibaca sebagai sebuah kebudayaan yang sudah bercampur baur dengan kebudayaan Jawa. Islam tidak lagi tampil sebagai “teks besar” yang “membentuk” kembali kebudayaan setempat sesuai dengan kanon ortodokasi yang standar. Islam justru difahami dengan mengkontekstualisas ikan dengan budaya setempat. Hal ini nampak sekali dalam serat Centhini. Seolah antara Islam dan Jawa adalah satu kesatuan yang yang bisa terpisahkan lagi. Serat Centhini bisa kita anggap sebagai cerminan dari suatu periode di mana hubungan antara Islam dan keJawaan masih berlangsung dalam watak yang saling mengakomodasikan, dan tidak terjadi kontestasi antara keduanya.
Berbeda dengan sebelumnya, kebanyakan orang menganggap bahwa Islam dan Jawa berupakan 2 entitas yang berbeda dan tidak bisa dipadukan. Kiranya serat Centhini ini memberikan gambaran betapa pertemuan antara keduanya sangat mungkin terjadi. Sehingga terjadi pertukaran kebudayaan. Dimana budaya Jawa mengisi kekurangan tradisi Islam, demikian juga sebaliknya. Sastra Jawa kiranya mengalami pengislaman secara alamiah sehingga keduanya bisa hidup berdampingan dalam pengembangan sastra di Indonesia .

Peminggiran Sastra
Keberhasilan serat Centhini dalam mendiskripsikan dan mengkawinkan dua kebudayaan, bukan tanpa masalah. Keberadaan Centhini lebih lanjut dianggap sebagai canon pertemuan antara Islam dan Jawa. Kondisi seperti ini bukan tidak ada pertentangan dari para sastrawan Jawa. Serat Darmogandhul misalnya, serat ini ditulis oleh orang tidak di kenal. Penulis serat itu menamai dirinya sebagai Ki Kalam Wadi. Darmogandhul merupakan sastra Jawa yang bercerita lain tentang keberadaan Islam dan Jawa. Bisa dikatakan bahwa Darmogandhul merupakan serat yang di tulis untuk melakukan perlawanan atas masuknya Islam dan Jawa.
Dalam serat Darmogandhul paling tidak kita bias melihat secara garis besar sebagai berikut. Pertama, Islam masuk di Jawa Bukan dengan cara yang baik-baik. Kedatangan Islam di Jawa juga menghabisi seluruh tinggalan-tinggalan kebudayaan Jawa. Kedua, kebudayaan Jawa kalau tidak bisa dihilangkan dilabeli dengan Islam. Ketiga, Islam hendak mengganti kebudayaan Jawa dengan kebudayaan bangsa Arab. Selain Darmondhul ada beberapa serat yang sengaja dituliskan untuk menelanjangi masuknya Islam di Idonesia. Diantaranya adalah Gatholocho, Serat Cebolek, dan lain sebagainya.
Setelah Majapahit runtuh, serat-serat ini sempat membuat beberapa wali dan dan para punggawa Islam gerah. Meraka berusaha menutupi citra masuknya Islam dengan cara membuat mitos-mitos. Salah satu mitosnya adalah Islam dating dengan cara damai, lewat perdagangan, perningkahan dan lain sebagainya. Ini adalah mitos-mitos yang sengaja dibuat oleh para wali. Mitos ini sengaja direproduksi terus menerus sambil mencari fakta-fakta yang mendukung mitos itu.
Serat-serat ini ditulis jauh sebelum Centhini dituliskan. Diskursif isi serat ini rupanya semakin tergilas oleh adanya serat-serat yang berbau Islam. Nah, Posisi Centhini ini bisa dianggap sebagai kemengangan Islam untuk menyingkirkan sastra-sastra perecok itu. Kiranya serat seperti Centhini ini adalah impian dari para pemuka Islam.
Pengislaman karya sastra Jawa, saya kira tidak hanya sebagai pertemuan dan negosiasi antara Jawa dan Islam. Sebagaimana di tulis Ulil Absor dalam Bentara Budaya tahun 2000. Pengislaman Sastra Jawa juga merupakan strategi ulama’ Jawa untuk menyingkirkan sastra-sastra Jawa perecok. Dengan semakin menjamurnya sastra Jawa yang kental dengan tasawuf seperti serat Wedatama, serat Wirid Jati dan lain sebagainya, maka serat Darmogandhul meminggir Gatholoco semakin minggir dari pentas sastra Jawa. Inilah yang saya katakana sebagai politik kebudayaan.
Kebudayaan tinggi senantiasa meminggirkan kebudayaan pinggiran. Sebagai budaya yang dipinggirkan, maka keberadaannya senantiasa dimampatkan. Selain itu dalam ruang publik kebudayaan pinggiran tidak memiliki ruang. Stigma yang muncul dari budaya tinggi terhadap budaya pinggiran adalah kerdil, jorok, sesat dan banyak lagi yang lainnya. Sebagai bangsa yang berbudaya, sampai kapan pemahaman kita terbelah dalam oposisi biner ini?

------

Sumber : www.geocities.ws