Rabu, 13 Maret 2019

Daftar Nama Penyair ‘Yang Terpilih” Kuratorial “DONGENG NUSANTARA DALAM PUISI” (DNDP)



Salam Sastra

     Menimbang dengan riang gembira karena besarnya apresiasi sobat-kerabat untuk mengirimkan karya puisinya dalam agenda penyusunan buku antologi “Dongeng Nusantara Dalam Puisi” (DNDP) dalam rangka Hari Dongeng di bulan Maret 2019 ini, kami dari Tim Kurasi (Agus Pramono, Anjrah Lelono Broto, dan Moh. Saroni) ‘terpaksa’ bekerja ekstra untuk memilah-memilih penyair ‘Yang Terpilih’.
mengumumkan nama-nama.
     Demi memaksimalkan proses kuratorial dalam menjaring naskah puisi terpilih, pengumuman yang semula dijadwalkan pada tanggal 12 Maret 2019 Pukul 24.00 WIB terpaksa mundur 12 jam menjadi 13 Maret 2019 Pukul 12.00 WIB.
     Berikut adalah nama-nama penyair ‘Yang Terpilih’ yang puisi-puisinya akan dibukukan dalam rangkaian agenda ini:

01.  Alifah Nh
02.  Aloeth Pati
03.  Anis Khoirunnisak
04.  Anis M Tarom
05.  Apri Medianingsih
06.  Ayu Kompyang Agustian Dewi
07.  Bambang Widiatmoko
08.  Berti Nurul Khajati
09.  Buhari
10.  Daru Maheldaswara
11.  Dian Kiswarini
12.  Dianita Ratna Kusuma
13.  Endi S Johan
14.  Erdhyana Retnowati
15.  Erna Suryani
16.  Fathurrohman
17.  Hanik Mardiyah
18.  Herry S Juve'ns
19.  I Gusti Ayu Komang Kawi
20.  I Wayan Mardana Putra
21.  Ida Munfarida
22.  Ivo Gana Rahayu
23.  Jauzah Imani
24.  Kang Yunu
25.  Karis Himawan
26.  Ma'atsirul Hidayat
27.  Marsuki
28.  Muhammad Daffa
29.  Ni Kadek Juliantari
30.  Ni Luh Putu Ariani
31.  Noufal Balya Anzalna
32.  Nunung Giarti
33.  Nur Rahayu
34.  Nurbaeti
35.  Nuriman N Bayan
36.  Ranty Andjarsari
37.  Ratna Komala Juwita
38.  Ririn Dwi Retnomaindah
39.  Rizki Andika
40.  Rofqil Junior
41.  Ruhan Wahyudi
42.  Sabaragi
43.  Safandi Mardinata
44.  Shalihaturrahmah
45.  Soekoso DM
46.  Sri Wahyuni Utami
47.  Stebby Julionatan
48.  Suwarsono
49.  Teguh Budiono
50.  Tetty Mujizat
51.  Triwulaning Purnami
52.  Vironika Sri Wahyuningsih
53.  Yuly Purwatiningsih
54.  Zham Sastera
55.  Zulkarnain Al Idrus

     Demikian, semoga menjadi perhatian kita semua.

Salam Sastra


Mojokerto, 13 Maret 2019

TTD


Tim Kurator

Selasa, 12 Maret 2019

GADIS BERMAHKOTA TIGA KEMBANG YANG LAYU



Karya Faris Al Faisal
Dimuat di Harian Suara Merdeka, edisi  03 Desember 2017


/1/
SEJAK upacara ngarot itu, kau tak pernah kembali lagi ke Indramayu. Tak pernah lagi kembali ke Indramayu. Tak pernah. 
Upacara menyambut musim tanam padi yang mempertemukan jejaka-jejaka dan gadis-gadis ngarot membuat luka pada ingatanmu. Kau dicaci tak hanya sekali, dimaki berkali-kali bahkan akan selalu ingat sampai kau mati. Tiga kembang รฑ bunga kenanga, melati dan bunga bugenvil yang dirangkai menyerupai mahkota รฑ yang kaugunakan untuk memahkotai rambutmu tiba-tiba layu. Macam bunga yang dipetik lebih dari seminggu. Ngarot yang mulanya berlinang senyum penuh madu, berubah menjadi hitam kelabu. Orang-orang mulai membincangkan mitos dari cerita orang tua mereka รฑ tetua adat dan leluhurnya — tentang arti layu ketiga bunga itu.
“Kau sudah tak perawan, Karyati!” tuduh jejaka-jejaka yang hadir. Gadis-gadis yang juga mengenakan sanggul dari rangkaian mahkota bunga mencibir. Bibir mereka ceriwis. 
“Betul, kau bukan gadis lagi!” imbuh Esih yang selalu merasa tersaingi Karyati. Kejadian itu dia angkat untuk mencari perhatian jejaka-jejaka. 
“Ya, Esih, kau bicara benar. Karyati tidak suci lagi. Sudah ternoda.” Kau tak mengerti apa yang terjadi. Namun kau memahami apa arti tidak perawan. Gadis yang tidak dapat menjaga kehormatan akan membuat malu keluarga, bahkan warga sedesa, dijauhi dan dianggap pembuat cemar. Lalu dengan keputusan yang tak sempat kaupikirkan dengan matang, hari itu juga kau meninggalkan Indramayu. Kau berlari pergi menerabas ilalang tajam yang bukan hanya membuat betis dan tapak kakimu berdarah, melainkan juga matamu memerah. Hatimu bahkan menahan amuk amarah. Entah kepada siapa kau marah? Sementara rangkaian mahkota bunga- bunga yang layu itu kauremas- remas lantas kaucampakkan begitu saja di jalanan. Rambutmu yang panjang kaubiarkan tergerai liar disapu angin sawah. Matahari di atas kepala membuat tubuhmu berpeluh. Kelu meringkus ruang dadamu, menyesakkan. Sakit sekali. 
“Karyati! Karyati!” seru ibumu yang berlari tergopohgopoh mengejarmu. Namun beberapa orang menahan perempuan tua itu. Ibumu berontak, akan tetapi begitu banyak orang mencegah membuat tenaganya lemas. Ia terkulai dengan terisak- isak. Sementara ayahmu pun tak banyak berbuat sesuatu untuk mencegahmu. Keduanya pulang ke rumah dengan wajah tertunduk malu. 
Di antara orang-orang yang menyaksikanmu, ada sepasang mata memandangimu. Mata lelaki yang berkaca menyaksikanmu pergi. Lelaki yang berada di deretan barisan jejaka ngarot. Ia menatapmu dari celah tubuh orang-orang yang berdesakan saat kau berkelebat entah ke mana? Lalu memunguti bungabunga itu dengan perasaan sedih. Kembang yang layu itu cepat sekali mengering. Padahal pagi tadi saat kau memahkotai rambutmu, bunga-bunga itu begitu segar. Seperti baru disiram rinai hujan semalam. 
Lelaki itu bahkan melihatmu, hari itu adalah hari tercantikmu. “Karyati, kau seperti bidadari,” gumamnya. Namun tak satu pun percaya jika hari itu menjadi luka yang membuatmu tak pernah lagi kembali ke Indramayu.
/2/
KETIKA itu umurmu lima belas tahun. Seorang gadis yang beranjak menjadi bunga. Wajahmu jelita dengan kulit kuning langsat nan lembut. Jejaka-jejaja desa terpesona tiap kali kau keluar rumah, meski hanya ke warung atau ke pasar malam tiap pekan. Gadis-gadis di desa pun sering memandangimu iri, penasaran atas rahasiamu yang selalu tampil cantik. Padahal kau gadis seperti mereka umumnya. Bekerja saat musim tanam padi di sawah sebagai tukang tandur dan menjadi buruh ngarit serta gebod saat musim padi dipanen. 
Ayah dan ibumu yang hanya petani penggarap itu, saban hari bekerja di sawah milik tuannya yang memiliki banyak tanah. Sehingga kau, sekalipun anak perempuan satu-satunya, membantu keduanya. Mulanya hanya membantu memasak dan membawakan makan dan minum untuk diantar ke gubuk di tengah sawah Larangan. Setelah usiamu cukup untuk berpanas-panas dan berlumpur-lumpur, kau pun ikut bekerja menanam dan memanen padi. 
Ternyata sekalipun masih berbedak lumpur di wajah dan beraroma sengat matahari, sedikit pun tak mengurangi pesonamu. Itulah yang menjadi awal mula bencana. Tuanmu memperdayamu pada suatu ketika. 
“Datanglah sore nanti, kau boleh mengambil upah di rumah,” ucap tuanmu dengan mata selalu tertuju pada bagian dadamu yang mengkal dan pinggulmu yang padat dengan nafsu memburu. 
Kau masih terlalu polos untuk memahami sifat-sifat tengik lelaki sekalipun setua itu. Pulang dari sawah kau bergegas menuju rumah besar itu. Lagi-lagi hatimu terlalu lugu untuk mengerti keadaan rumah yang tak satu pun orang berada di dalamnya, kecuali tuanmu itu. Dua jam sebelum kau datang, lelaki tua itu sudah menyuruh anak dan istrinya pergi menginap di rumah saudara di Parean Girang. Pembantu-pembantu di rumah itu diberi tugas lain ke luar desa untuk waktu cukup lama. 
“Tuan, Tuan, ini Karyati,” serumu dari pintu samping yang dibiarkan terbuka. 
“Masuk saja, Karyati! Tolong tutup kembali pintu itu!” 
Tak perlu satu jam, lelaki itu telah memperdayamu. Dengan bujuk rayu dan sedikit ancaman, begitu leluasa tangan dan kaki tuanmu mengangkangimu sampai puas. Merenggut kegadisanmu. Rumah besar itu pun meredam tiap kali kau berteriak. Kau terisak. Ada sesuatu mengalir di selangkanganmu. Perih rasanya saat selaput darahmu robek. 
“Sudahlah, ini upahmu,” ucap tuanmu sambil mengisap rokok dari cangklongnya. Asap bergulung-gulung ditiup dengan sengaja ke wajahmu. Kau terisak sambil terbatuk-batuk. “Ini anggap hadiah dariku. Terimalah!” 
Kau pun tampak bodoh karena menerima begitu saja yang membuat lelaki tua itu tersenyum puas memandangmu. 
“Kenapa Tuan tega pada saya?” 
“Ha-ha-ha…, kau cantik. Itu alasannya. Sudah! Ayo berkemas pulang, ayah dan ibumu menunggu.”
/3/
LELAKI yang memandangimu itu kini ada di hadapanmu, di Patokbeusi. Tempat telembuk-telembuk muda menjajakan kecantikan di simpangan pantura. Lampu-lampu remang yang menyerupai kristal di tengah ruangan yang mirip kedai minum itu memendarkan cahaya syahwat. Beberapa pengunjung sudah mabuk minuman dan perempuan. Mereka masuk ke kamar-kamar yang hanya bersekat sebilah tripleks tipis. 
“Sudah, Kang, aku di sini bahagia. Tak perlu lagi kembali ke desa. Kau pun boleh mencari kekasih lebih cantik.” 
“Aku akan balas perlakuannya,” ucap kekasihmu itu. 
“Untuk apa? Kau ingin membunuhnya? Mau jadi pembunuh?” 
“Lelaki tua itu telah menghancurkanmu, memisahkan cinta kita.”
“Tetapi ia ayahmu bukan? Itulah alasanku mengapa tak melaporkannya pada polisi.” 
“Kirik! Kenapa sore itu aku mau saja disuruh mengantar Ibu ke Parean Girang?” 
“Tak ada yang harus disesali, Kang. Sekarang bagaimana bisa kau singgah di tempat ini?” 
“Aku dengar dari sopir-sopir yang biasa membawa beras dari Larangan ke Jakarta. Mereka seperti melihatmu di simpangan pantura ini.” 
“Ah, lelaki-lelaki hidung belang! Bukan hanya melihat, mereka bahkan sering mampir di sini.” 
“Dobol! Jadi mereka juga pernah tidur denganmu?”
“Jangan cemburu, Kang. Itu tugas semua perempuan di sini.” 
Lelaki yang pernah menjadi kekasihmu itu begitu terpukul. Dadanya serasa disesaki perasaan kesal begitu bergumpal-gumpal. 
“Gadis yang bukan perawan karena diperkosa mau kerja apa, Kang? Tak bunuh diri saja sudah bagus. Sekarang aku menjadi telembuk untuk memuaskan hasrat lelaki yang datang kemari.” 
“Apa kaupikir aku ke sini sama seperti mereka?” 
“Kau tak ingin tidur denganku, Kang? Bercinta dengan kekasihmu ini?”
Jari-jemarimu begitu lihai bermain di atas baju kekasihmu. Beberapa kancingnya mulai berpisah dari lubang. Sementara kamar yang kalian gunakan untuk berbincang, beberapa kali diketuk pengunjung yang sudah menunggu lama. 
“Malam ini ada tamu khusus, Kang,” ucapmu dari dalam kamar. 
“Besok malam bisa kan, Yu?” tanya pengunjung langgananmu. 
“Iya, iya….” Kekasihmu itu mengancingkan kembali baju yang hampir lepas. Wajahnya mendingin. Namun hatinya mendidih mendengarmu mengambil janji dengan lelaki-lelaki itu.
“Kenapa, Kang? Kakang marah?” 
“Entahlah?” 
“Aku harus bagaimana, Kang? Tak mungkin aku kembali desa. Peristiwa itu masih meninggalkan luka yang belum hilang.” 
“Aku akan membawamu pergi dari tempat ini.” 
“Apa katamu, Kang?” 
“Kau tak boleh melayani lelaki-lelaki itu lagi. Aku akan menikahimu.” 
“Kakang akan dimintai uang pengganti oleh pengelola simpangan pantura ini.” 
“Akan kubayar, asal kau mau pergi dari sini.”
/4/
TIGA kembang itu berada di telapak tanganmu. Kekasihmu, suamimu kini, memberikannya padamu. Ia telah begitu lama menyimpannya. Di depannya kaupakai kembali untuk memahkotai rambutmu. Kendati telah layu dan sudah mengering, di mata lelakimu itu kau gadis yang tetap dicintainya. Gadis bermahkota tiga kembang layu. 
“Apa aku masih layak disebut gadis ngarot, Kang?” 
“Bagiku kau tetaplah gadis ngarot-ku.” Keduanya tersenyum. Senyum untuk mengawali kehidupan baru. (44) 
Indramayu, 2017 


Ngarot: upacara adat saat musim tanam padi di Desa Lelea, Kecamatan Lelea, dan Desa Jambak, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. 
Tandur: penanam padi yang mendapatkan upah. 
Ngarit: menyabit padi. 
Gebod: merontokkan biji padi dari tangkai dengan undakan papan. 
Telembuk: sebutan pekerja seks komersial di pantura. 
Kirik dab dobol: umpatan keji.


Faris Al Faisal lahir  dan tinggal di Indramayu. Karya fiksinya novelet Bunga Narsis (2017), kumpulan puisi Bunga Kata (2017), dan kumpulan cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek (2017).



Senin, 11 Maret 2019

Puisi-puisi Wa Ode Wulan Ratna ( Jakarta): Jumat Putih



Rumah Mati

Dan akupun pulang menujumu
Rumah mati
Rumah tempat kata-kata menjadi sunyi
Dan abadi


Jumat Putih

Selamat pagi
Jumat putih
Aku tersesat dalam hutan sunyi
Bersama kaki kecil yang telanjang,
berlari-lari
Menangkap puisi yang tak beralas kaki

Jumat putih turun dari gereja, masuk ke masjid, hinggap ke pura
Bersemayam dalam dada tuhan dan manusia
Terbang di atas kepala dalam kristal matari
Disapu gerimis menjadi bola-bola pelangi

Selamat hari
Jumat suci
Aku bertapa dalam sukma sepi
Mari kita telanjang, sayang
berlari-lari kecil tanpa alas kaki
Seperti puisi

Sribajala dan Wabula

Ketika lakambaebunga mulai membaca peta yang dulu pernah kujelajah
Tibalah aku di kuilmu
Asal muasal gigi putihmu yang kemilau
Tempat mimpiku runtuh
Tempat kembali pulang ke kampung halaman
Gigimu adalah mercusuar
Silau yang memanggil-manggil seperti daun kelapa
Diriku yang tersesat di samudera jiwa
Terseret ombak dan tiba di permukaan hatimu yang putih
Belahan kelapa di tanganmu adalah pasangan belahan lain
yang kita pertemukan
Tahulah kita, cinta kita memudar
Sebab ibu telah menjadi sejarah, legenda,
dan dongeng negri tercinta

Adik bungsu yang seputih susu
Ibu kita telah menjadi buku
Bagi tetua bagi silsilah dan raja-raja
Bagi jelata
Yang terbaca di setiap usia
Lalu ke mana cinta kita akan kubawa
Terselip di saku dungkung cangia
Punggawa setia  yang menancapkan bendera aneka warna
Pada tubuh lakaembaebunga
Yang terlunta-lunta beratus-ratus kali berganti rupa
menaklukan samudera

Di koncu, benteng tertua berdiri
Aku menulis syair panjang tentang dirimu
Langit tak lagi menakar cintaku padamu
Maka kubiarkan ia membahana seperti kupu-kupu
Terbang dengan sasar ke jendelamu

Kuhadiahi tempat ini namamu
Kupahat besar-besar pada prasasti
Dengan aksara rahasia bahasa cia-cia
Agar semua orang berbagai generasi
Mengenangmu sebagai arca yang bertumbuh
di antara jurang dan bukit
Kali-kali jernih yang berbintang
Seperti gigimu yang gemilang

Jika laut surut berkilo-kilometer
Mereka akan mengenang kulit putihmu
Yang senyap mutiara
Yang di atasnya
Cintaku tergenang antara ada dan tiada
Kekal selamanya


Catatan:
*Sribajala adalah kakak dari Wabula yang merantau mengelilingi dunia dengan kapal Lakambaebunga. Wabula adalah putri bungsu Wakaaka, raja Buton pertama. Kini Wabula adalah nama tempat yang indah di Buton Selatan (dari cerita masyarakat setempat). Asal kata Wabula adalah Wabula-bula yang artinya putih, sebab diyakini Wabula berkulit putih seperti orang Tiongkok/Mongol.


Lelaki Bermata Satu

Di mana gerangan kau
Penyebab rontoknya bunga-bunga di mataku?
Yang berlari memunggungiku
Setelah usai mencuri hatiku

Lihatlah, di mana pun kau berada
Lihatlah sebelah dadaku
Di antara dua gunung kemilau itu
Ada lubang gulita milik hatiku
Kekasih jantung sahabat empedu
Hilang kau bawa lari

Ke mana gerangan kau
Penyebab layunya rekah kelopak bibirku?
Yang tiada meninggalkan bayangan
Setelah hatimu menjadi batu

Lihatlah, di manapun kau berada
Lihatlah akibat perbuatanmu
Kau tinggalkan sidik jarimu di dadaku
Lubang sebesar kepalan tanganmu
Yang tlah mengoyak
Dan mengeluarkan hatiku
Ke mana kau bawa lari?

Demikianlah kau berlari
lelaki bermata satu
Yang telah kulempari batu-batu
Hatimu lekat di batu
Hatimu adalah batu
Semakin keras kau berlari
Semakin kau membatu

Cinta
Selamanya harus berluka

Demikianlah kau
Kisah lelaki bermata satu
Sepanjang hidup melihat dunia hanya satu
Yang tak mau membuka sebelah mata
Kecuali untuk batu

Cinta
Selamanya harus ada duka

Padang Eva

Kau adalah bunga-bunga yang mekar di padang eva
Senyummu laksana akar harum mawar yang merambat lembut menusuk jantungku
Membiarkanku terjerat, menghapus seluruh jelaga dan tanya tentang:
di manakah pelabuhan terakhir air mata?
Di matamu itu, matahari tumbuh dengan subur
Sehingga sulit bagiku menebak dan terjebak
Padahal kuingin sekali

Ohh rerumpun ilalang
Bisikkanlah rahasia embun yang basahi dirimu kala fajar
Yang mengundang galau pada kelopak kastalia dan magnolia
Dan mengusir kabut-kabut yang tenggelam dalam cahaya

Katakanlah, di mana gerangan kan kutuangkan rindu-rindu biduri…
Cawan-cawan telah dipenuhi susu
Sedang kuingin bibir manismu mencecap rindu ini

Jikalau awan datang
Jikalau mimpi terbang
Oh tuhan, izinkanlah aku tumbuh
Sebagai perdu kelabu di sampingnya
Di padang eva itu

Ya, di padang itu!


Jejak Puisi
kekasih, yang muda belia dan merdu
kekasihku, yang senantiasa lugu dan pencemburu
aku datang padamu
dengan segenap rambu rambu dan lakon dramaku
maafkanlah aku
yang ragu dan malu
mencintaimu terburu buru
dan membuatmu bingung tak tahu
tapi jangan kau pergi tinggalku tanpa jejak
sebab tanpamu aku laksana puisi dalam belantara kata-kata
selalu labil dan mudah tersesat

Jalan-Jalan ke Salon
di salon aku ditelanjangi
tubuhku dibolak balik seperti boneka barbie
seluruh tubuh diberi minyak yang licin dan wangi
dipijat dengan krim pemutih dan dilulur dengan green tea
di salon aku seperti manekin
aku disuruh berdiri bugil
lalu tubuhku dicat putih pakai kuas dinding
aroma masker susu sapi pun terasa gurih
tapi aku gigil dan merinding
sebab masker susu sapi setengah kering
terkena AC dan udara dingin
usai mandi
rambutku lalu di creambath
ditarik-tarik dan dipijat kuat
lalu seperti roti rambutku diberi selai
campuran royal jeli dan stroberi
manis sekali seperti permen loli
setelah membayar
tubuhku bau sapi dan rambutku harum stroberi
sekarang aku tahu
beginilah nasib perempuan masa kini


----------------------------------------------------------------------


Wa Ode Wulan Ratna. Lahir di Jakarta 23 Agustus 1984. Menyelesaikan kuliah sastra di Universitas Negeri Jakarta. Menulis cerpen dan puisi sejak 2003. Buku kumpulan cerpen pertamanya pernah mendapatkan penghargaan Khatuliswa Literary Award pada tahun 2008 untuk kategori penulis muda berbakat. Saat ini menjadi pengajar untuk mata kuliah Sastra dan Creative Writing.









Sumber: