Total Tayangan Halaman

Senin, 22 Januari 2018

Ketika Pelajar Membuat Buku

Cover buku "SAMPAN YANG LAIN"
      Terkadang, saya pribadi iri kepada pelajar jaman now yang memiliki kesempatan menerbitkan buku sendiri, sebagaimana pelajar di SMKN 2 Kota Mojokerto. Mengingat, ketika saya dulu masih berstatus pelajar, menerbitkan buku yang memuat karya-karya kita adalah sesuatu yang mustahil dapat terwujud. Pelajar-pelajar di SMKN 2 Kota Mojokerto, 2017 kemarin telah menerbitkan buku antologi puisi yang berjudul (Sehimpun Puisi) SAMPAN YANG LAIN.
      Saya pribadi dipercaya untuk membuat kata pengantar (prolog). Maka saya pun menuliskan sebuah artikel pendek berjudul "Perjumpaan Goethe Muda" yang berangkat dari puisi-puisi pelajar SMKN 2 Kota Mojokerto tersebut yang berjumpa dengan pembacaan saya tentang proses kreatif Johann Wolfgang von Goethe, sebagai sastrawan besar dari belahan Eropa. Nukilan artikel tersebut dapat dibaca di bawah ini; 

 ...
     Sehimpun sajak dalam buku ini menampar pembacanya dengan mengingatkan bahwa ada ke”Goethe”an dalam diri setiap anak-cucu Adam. Betapa para penulisnya yang masih berusia belasan dan disamaratakan secara atributif berupa status kepelajarannya telah menulis beragam puisi dengan beragam tema, dengan beragam gaya bahasa, dengan beragam sudut pandang (point of view).

     Secara santun, atibut status kepelajarannya ditanggalkan hingga terlahirlah puisi-puisi protes sosial, kasih-sayang, relasi pertemanan, dan atau kemanusiaan itu sendiri. Adalah sebuah ketidakwajiban ketika sekumpulan pelajar dipertemukan dalam sebuah buku antologi puisi dan di dalamnya kemudian mereka secara seragam menulis tentang guru, pelajaran, gedung sekolah, cita-cita, dan teman (tapi mesra) yang menjadi pengalaman empiris mereka di lingkungan sekolah.

     Sebut saja Eka Rosita yang di buku ini menulis puisi berjudul Korupsi, atau Agnesia D.R. dengan Sampah Negara-nya, dua di antara puluhan penyair belasan tahun dalam buku ini dengan gaya bahasa mereka mengemukakan protes terhadap mewabahnya korupsi di negara ini. Aroma protes ini hampir senafas dengan apa yang disampaikan Goethe dalam Promotheus (dalam Ein Lessebuch fur Unsere Zeit, terjemahan, 1982), dimana dirinya mempertanyakan ketidakadilan Dewa Zeus dalam memerintah namun minta untuk disembah. Agnesia D.R. melalui Sampah Negara juga mempertanyakan ketidakadilan hukum di negara ini yang dapat dibeli. 
...
Lengkapnya? Mungkin lebih baik jika anda membaca sendiri buku ini, maka artikel lengkap beserta puisi-puisi pelajar SMKN 2 Kota Mojokerto ini dapat anda nikmati-apresiasi.

Salam kreatif.

Anjrah Lelono Broto