Total Tayangan Halaman

Selasa, 23 Januari 2018

KONSISTENSI HARDJONO W.S.



Oleh Mashuri Alhamdulilah


Istiqomah lebih utama daripada seribu karamah. Demikianlah sebuah adagium dalam dunia sufi yang termaktub dalam kitab-kitab lawas untuk menunjukkan seberapa dahsyat, mantab, dan sulit untuk berlaku inten dan konsisten. Saya mencatat, salah satu penulis yang istiqomah di jalur seni dan penulisan di Jawa Timur hingga akhir hayat adalah almarhum Hardjono W.S.. Alhamdulillah, kiprah, ketokohan dan karyanya diuri-uri kawan-kawan sastra di acara Ronda Sastra, hari Minggu kemarin, 21-01-2018. 

Poster agenda RONDA SASTRA Vol. 4 
Hardjono W.S. lahir di Bondowoso, 11 Maret 1945 dari pasangan R.W. Sotrisno dan Rr. Roekminiwati dengan nama lengkap R. Soehardjono. Ia wafat di Jatidukuh, Gondang, Mojokerto, pada 23 Januari 2013. Pada perkembangannya, ia mengubah namanya menjadi Hardjono W.S. Soal kiprah, prestasi, dan pengubahan nama ini dapat dilihat di Wikipedia.
Hardjono WS termasuk sosok langka. Ia tidak hanya penulis, tetapi dramawan dan seni rupawan. Ia termasuk generasi AKSERA (Akademi Seni Rupa Surabaya) yang menghasilkan seniman-seniman legendaris. Sebelum aktif menulis pada 1972, ia sudah aktif di seni rupa, dan itu berlangsung hingga akhir hayatnya. Kiprahnya yang terbilang langka adalah perhatiannya pada teater anak-anak, yang hingga kini hanya diikuti 1-2 dramawan di Jawa Timur.
Saya mengenal almarhum tepat tahun 2000. Ketika itu diadakan peluncuran buku puisi "Memo Putih", kumpulan sajak 14 penyair Jawa Timur di Gedung Cak Durasim, Surabaya. Pak Hardjono membacakan beberapa puisinya yang termasuk dalam kumpulan antologi tersebut. Ia juga membaca puisi yang terus berdengung di telinga saya. Saya lupa judulnya, tetapi intinya, berupa kritik pada para penyair yang suka bergelap-gelap dalam menulis puisi. Ehm. Kala itu, saya sedang menyuntuki puisi gelap dan merasa spirit puisinya kontraproduktif dengan puisi gelap.
Namun, semakin ke sini, saya menyadari bahwa puisinya adalah semacam pengingat pada generasi muda Surabaya saat itu yang sedang gandrung kepati pada puisi gelap ---dengan segala eksplorasinya. Artinya, almarhum lebih dulu mengerti sejarah sastra Indonesia dan berusaha untuk mengingatkan kawan-kawan penyair untuk tidak asyik dengan puisi yang bermadhab gelap semata karena itu pernah terjadi dalam sejarah sastra Indonesia. Pada saat itu, kiblat kepenyairan kawan-kawan muda Surabaya memang bukan penyair Indonesia, kecuali Kriapur, barangkali. 

Henry Nurcahyo dalam kesaksiannya tentang Hardjono WS
Selain itu, ada beberapa karya almarhum yang telah saya baca. Salah satunya adalah novel "Surat-surat Orang Pulau" terbit April 2009. Sekilas novel itu berbau politik, tetapi ketika didalami ternyata nuansa politik hanya bungkus. Novel itu berbicara tentang manusia, penderitaan dan harapan. Estetika novel tersebut mengingatkan saya pada salah satu karya novelis Prancis, Andre Gide berjudul "Simponi Pastoral". Bedanya, bila Pak Hardjono menggunakan model penceritaan lewat surat-surat, Gide menggunakan penceritaan dan alur dengan buku harian.
Novel tersebut merupakan salah satu kesaksian korban yang di-Buru-kan pada masa pasca-pembersihan PKI oleh Orde Baru. Saya menjadikannya salah satu objek riset tapi hingga kini belum kelar karena saya sedang berburu karya almarhum lainnya untuk melihat kecenderungan estetika karya-karyanya secara menyeluruh.
Demikianlah, sekilas tentang pertemuan saya dengan Pak Hardjono. Sepanjang hayat Pak Hardjono terus konsisten berkarya dan menulis ---sebuah kondisi dan laku yang sangat-sangat sulit. Semoga terang-benderang kuburnya, diampuni dosanya dan mendapat tempat yang layak di sisi Sang Khalik!


On Siwalanpanji, 2018