Selasa, 20 Maret 2018

KUMPULAN CERPEN REALISME MAGIS YANG MENARIK - Resensi Buku Kumcer "API IBRAHIM" Karya Mufa Rizal



Judul    : Api Ibrahim
Penulis    : Mufa Rizal
Penerbit  : Media Nusa Creative
Cetakan  : Pertama, Mei 2017
Tebal    : viii +  102 halaman
ISBN    : 978-602-6397-3


Peresensi  : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara



Sebagaimana yang kita ketahui, dalam dunia kesusastraan banyak sekali aliran  sastra yang mulai berkembang.  Dan secara umum beberapa aliran yang sudah ada itu seperti romantisme, realism, magis dan banyak lagi.  Namun pada perkembangannya muncul aliran seperti surealis dan aliran-aliran lainnya. Bahkan kemudian ada perpaduan beberapa aliran seperti penggabungan aliran realisme magis.
Menurut Abu Wafa-penulis buku Cara Menghitung Anak (Gading Pustaka, 2016)  aliran realisme magis menggambarkan realitas, peristiwa yang terjadi dalam sehari-hari, lalu seketika muncul unsur fantasi dan mimpi yang berdasarkan pada mitos dan dongeng.  Dan inilah aliran yang dipilih Mufa Rizal, penulis asal  Mojokerto yang cerpen-cerpennya banyak dimuat di Radar Mojokerto (Jawa Pos Group).
Setidaknya itulah gambaran utama dari kumpulan cerpen yang ditulis Mufa Rizal-yang mana  kebanyakan cerpen,   yang termaktub dalam buku ini sebelumnya memang sudah pernah ditayangkan di media-Radar Mojokerto.  Namun selain itu Mufa juga menghadirkan beberepa cerpen baru yang belum pernah dipublikasikan.  Dalam kumpulan cerita ini sendiri penulis menghadirkan 11 cerpen yang cukup menarik dan menggelitik.
Sebut saja cerpen berjudul “Bocah yang Menaiki Sepeda” dalam cerita ini dikisahkan ada seorang bocah yang selalu naik sepeda. Namun keberadaannya entah kenapa selalu dibenci oleh warga. Banyak yang mengira bocah ini gila. Hal inilah yang membuat bocah itu marah dan berusaha mengejar orang-orang yang mengejeknya.
Namun berbeda dengan kebanyakan orang,  Sita sama sekali tidak membenci bocah tersebut. Bahkan ketika bocah itu datang dan meminta sesuatu, Sita dengan ikhlas mau berbagi.  Sampai  kemudian tiga belas tahun berlalu. Saat itu Sita akan melahirkan, dia mendapat kenyataan bahwa dia harus membuat pilihan. Karena disinyalir hanya satu orang yang bisa selamat. Sita pun pasrah.
Lalu tanpa diduga, bocah itu tiba-tiba datang lagi. Dia ingin mengelus perut buncit Sita.  Meski ragu Sita pun memberi izin. Anehnya bocah itu bilang bahwa anak Sita sangat sangat kuat. Hal itu tentu saja tidak sesuai dengan perkataan dokter. Lalu siapa yang meski Sita percaya.  Apakah bocah yang tidak pernah menua yang sepedanya tak pernah berkata bertahun-tahun lamanya? (hal  31).  Jelas sekali dalam kisah ini penulis mengisahkan kehidupan biasa pasangan pasutri, namun selain itu penulis juga menyelipkan tentang unsur magis dari tokoh bocah, yang tidak jelas asal-usulnya.
Ada pula kisah “Terompet” Dikisahkan ada pasangan suami-istri, di mana sang istri ingin sekali menikmati tahun baru di alun-alun. Si istri ingin sekali bisa meniup terompet di tahun baru. Sebenarnya suaminya tidak terlalu setuju, namun akhirnya dia terbujuk oleh rayuan istrinya. hanya saja sesuatu yang lebih besar ternyata telah menunggu mereka (hal 34).
Mufa Rizal, Cerpenis Muda Mojokerto
Tidak kalah menarik adalah cerpen berjudul “Api Ibrahim” sebuah kisah yang cukup menarik.  Di mana Mufa, membuat kisah Ibrahim versi kitab suci yang dipadu padankan dengan tokoh Ibrahim dalam cerita.   Di mana Ibrahim di sini digambarkan sebagai seorang penulis.  Hanya saja apa yang ditulis Ibrahim ini kurang disukai para petinggi karena dianggap pelecehan dan penghinaan. Hal inilah yang pada akhirnya membuat Ibrahim menjadi buron. Padahal dia hanya ingin membongkar para oknum yang merugikan bangsa.
Selain cerpen-cerpen tersebut tentu saja masih banyak kisah lain yang dinikmati. Dipaparkan dengan bahasa sederhana membuat buku ini enak dibaca. Hanya saja saya merasa  rata-rata cerpen ini dipaparkan dengan tergesa-gesa. Saya merasa banyak kisah yang dibuat terkesan lompat-lompat, membuat cerpen tersebut membingungkan. Namun lepas dari kekurangannya, buku cukup menarik buat dibaca. Dari buku ini saya belajar bahwa kita tidak boleh menilai seseorang dari luar saja. Kita juga harus gemar berbagi dan tidak boleh mencela orang lain.



SUMBER:



Selasa, 13 Maret 2018

Berkelana dalam Imaji – Resensi Buku “Maskumambang Buat Ibu” Karya Nenden Lilis Aisyah



 Judul : Maskumambang buat Ibu
Penulis: Nenden Lilis A.
Tebal Buku : 117 hlm
Cetakan pertama : Oktober 2016








Maskumambang buat Ibu adalah antologi puisi karya salah satu penyair terbaik perempuan Indonesia yaitu Nenden Lilis Aisyah. Nenden merupakan dosen Sastra Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra UPI. Selain Maskumambang buat Ibu, puisi-puisinya terdapat dalam berbagai antologi sastra, antara lain Mimbar Penyair Abad 21 (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), Malam Seribu Bulan (Bandung: Forum Sastra Bandung, 1997), Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1997), Tangan Besi (Bandung: Forum Sastra Bandung, 1998), Angkata 2000 dalam Sastra Indonesia (Jakarta: Grasindo, 2000) dan masih banyak lagi. Antologi puisi Maskumambang buat Ibu merupakan Antologi terbaru yang memuat puisi-puisi Nenden dari 1996-2014.

Antologi puisi tersebut berisi lima puluh puisi dalam dua bahasa sekaligus yaitu bahasa Indonesia dan Inggris. Dalam kumpulan puisinya, penyair menciptakan imaji-imaji yang kuat. Selain itu, penempatan diksi yang cermat sehingga mampu membangkitkan imajinasi, asosiasi, dan emosi juga bisa dinikmati pembaca. Misalnya, puisi yang berjudul Banjarmasin, Suatu Hari. Puisi tersebut menggunakan sudut pandang aku. Keadaan aku dalam puisi yang berjudul Banjarmasin, Suatu Hari ini diasosiakan dengan alam dan suatu hal (objek) yang terdapat di Banjarmasin seperti yang terdapat dalam larik, bukan seperti kebakaran di hutan-hutanmu apabila api ini tak mau padam di hatiku. Selain itu, terdapat pula larik, tapi, suatu hari aku akan seperti pasar terapung yang riuh di waktu subuh dan menghilang menjelang fajar. Dalam larik tersebut, aku diasosiasikan dengan pasar terapung- yang terdapat di Banjarmasin- di waktu subuh. Perasaan aku akan menjadi ramai dan penuh harapan seperti harapan-harapan yang dimiliki seseorang ketika berkunjung ke pasar terapung untuk membeli harapan-harapannya. Namun, perasaan aku juga akan seketika sunyi sama seperti pasar terapung yang menjadi tiada saat menjelang fajar.

NENDEN LILIS A.
Berbeda dengan Banjarmasin, Suatu Hari, puisi yang berjudul Sungai Batu berhubungan erat dengan gagasan tentang eksploitasi lingkungan. Dalam puisi tersebut penyair memberikan gambaran tentang terancamnya lingkungan oleh keserakahan manusia. Penyair menggunakan majas personifikasi dalam penggambarannya. Sudut pandang yang digunakan adalah aku sebagai alam yang dieksploitasi. Penyair sangat tepat memilihnya karena emosi pembaca masuk dalam dunia yang diciptakannya. Selain itu, puisi tersebut seolah memberikan kegetiran pada pembaca dan memberikan penyadaran tentang manusia yang tak pernah puas (serakah). Berikut ini adalah puisinya.


Sungai Batu
aku tak memiliki apa-apa dalam tubuhku
tapi para petani menugalnya, seakan tubuhku tanah
“kami akan menanami benih!” seru mereka
kaupun datang, begitu saja melinggis dadaku
“aku haus tedas darah.” desahmu
aku katakana padamu
di dadaku tinggal sungai berbatu tak ada lagi yang mengalir
batu? Batu pun tak apa-apa yang kita butuhkan sekarang memang batu batu, satu-satunya milikku yang tersisa mereka ambil

Ada pula puisi yang berjudul Di Negeri Pohon-pohon Kastanya. Puisi tersebut seolah mengajak pembaca berkelana dalam imajinasi yang dibuat oleh penyair. Gerbang imajianasi sudah disuguhkan pada larik pertama puisi, memang, hanya sejenak kau mengajakku wisata di abad lama. Puisi tersebut mengisahkan tentang sebuah perjalanan di centrum-centrum kota, museum para pengelana dunia. Hal itu terlihat pada bait ketiga, larik yang menyebutkan, kita pun berebut meletakkan rumah-rumah mungil bercerobong asap di antara kotak-kotak jalan yang teratur, menggerakkan sepur mengikuti rel kereta desa-desa berair subur, menghidupkan kincir angin, memasang gudang rempah, dan menghamparkan padang ternak.Namun, ada hal menarik, keindahan-keindahan yang membuat aku terpesona dalam puisi tersebut seketika sirna saat ia melihat ada bulan menggantung biru. Bulan mengantung biru merupakan sebuah simbol. Bola mata biru (bulan berwarna biru di matamu) yaitu orang asing (Belanda) yang berwarna biru. Kemudian, larik selanjutnya menegaskan pernyataan sebalumnya bahwa hatiku bimbang, namun kuputuskan pulang, aku teringat multatuli. Puisi lainnya berjudul Pada Suatu Hari Teduh, Pengungsi, Penawar Mantra, Cisarua, Que Sera-sera, Menuju Negeri Dingin, Di Jembatan Mirabeau, Kisah Sebatang Pohon, Kerikil, Kesaksian, Epilog, Penjemput Maut, Pengintai, Panti, Rumah Kenangan, Sajak Rumah 1 dan lain-lain.

Antologi puisi, Maskumambang buat Ibu menghadirkan kesegaran dalam kesusasteraan Indonesia baik dari segi ide, bahasa atau imaji yang dihadirkan. Hal tersebut menawarkan kesegaran dalam setiap kata, larik, hingga bait. Antologi tersebut tepat untuk dibaca oleh para penikmat sastra yang ingin berkelana dalam imajinasi penyair. Nilai tambah pada antologi Maskumambang buat Ibu adalah latara yang terdapat dalam beberapa puisi yang berlatar di negeri asing. Pembaca seperti merasakan setiap hal yang digambarkan oleh penyair dalam puisinya. (Yunita Ayu)



SUMBER:


Kamis, 08 Maret 2018

SEJARAH MILIK KITA YANG BERBUAT



Seperti Review Buku “Mak, Ana Asu Mlebu nGomah!”
Oleh Anjrah Lelono Broto *)

     “Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan” sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.”
(Pramoedya Ananta Toer, House of Glass)

Keistimewaan Buku Ini dan Agenda Ini
…..Didaulat untuk menjadi pengulas dalam sebuah agenda bedah buku di masa keemasan literasi dewasa ini bukanlah sesuatu yang luar biasa. Menjawab tantangan mengunggah cover buku selama sepekan di media sosial pun bisa membuat pemilik akunnya mendadak didaulat untuk mengulas buku. Tidak malu untuk menulis puisi esai dan menerima penobatan seorang Denny JA sebagai tokoh sastrawan yang berpengaruh di zaman now pun dapat menghadirkan dirinya sebagai pengulas buku. Tetapi, didaulat menjadi pengulas buku ini di dalam agenda ini, bagi saya pribadi boleh dibilang ISTIMEWA sekali.
     Lalu, ada apa dengan buku ini dan agenda ini?
     Buku ini, buku yang didaulat untuk saya ulas adalah sebuah buku karya Andy Sri Wahyudi, kelahiran Mijen, Minggiran, Mantrijeron, Yogyakarta. Dalam buku ini terdapat tiga naskah repertoar teater berbahasa Jawa. Maka menjadi tinemu nalar ketika buku ini kemudian meraih Penghargaan Sastra Balai Bahasa Yogyakarta 2017 kategori Karya Sastra Jawa Terbaik. Menjadi pengulas buku ini tentu saja sangat istimewa, mengingat pacekliknya naskah-naskah pertunjukkan teater belakangan ini, terutama yang menggunakan bahasa Jawa sebagai medianya. Apalagi ketika mengetahui, betapa seorang Barbara Hatley pun sudi menulis Pengantar dan Ikun Sri Kuncoro menulis Penutup buku ini. Belum lagi sederet nama-nama besar dalam jagad teater, sastra, maupun peta kesenian Yogyakarta seperti Joned Suryatmoko, Ahmad Jalidu, Gunawan Maryanto, dll yang menulis endorsement buku ini. Begitu istimewanya buku ini, hingga saya menuliskan judulnya pun harus di akhir paragraf ini; “Mak, Ana Asu Mlebu nGomah!” (Ibu, Ada Anjing Masuk ke Dalam Rumah, terjemahan).
     Sedang agenda ini sendiri tak kalah istimewanya. Tersebutlah seorang Andhi Setya Wibowo (Cak Kephix), jebolan Universitas Muhammadiyah Malang yang kini bergiat di Komunitas Suket Indonesia, di usianya yang menginjak kepala empat mendapatkan hidayah untuk menciptakan forum diskusi sastra. Hingga kemudian CEO Waroeng Boenga Ketjil ini pun menggelar agenda periodik bertajuk “SelaSastra”, sebuah agenda bulanan yang senantiasa dilaksanakan pada hari Selasa, kecuali jika ada pemadaman listrik, banjir, maupun penthil muser (angin puting beliung). Agenda SelaSastra edisi ke-26 (06-03-2018) inilah yang menempatkan buku di atas sebagai objek telaahnya. Karena buku yang ditelaah bersama menggunakan media bahasa Jawa, maka ada keharusan bagi pengulas, narasumber, moderator, maupun peserta diskusi untuk mempergunakan bahasa Jawa dalam komunikasi lisannya. Sebagai pengulas, saya juga diwajibkan untuk menulis makalah dengan mempergunakan bahasa Jawa.
     Bagaimana? Istimewa bukan?

Sejarah yang Membayangi dan yang Dibuat
    Seperti halnya dengan apa yang saya sampaikan dalam makalah berbahasa Jawa saya yang berjudul “Kepethuk Bathuk” (Pertemuan Kepala, terjemahan), bayangan (alm) Bambang Widoyo Sp (Kenthut Gapit) langsung berputar di kepala saya ketika pertama mengetahui bahwa Andy Sri Wahyudi menggunakan bahasa Jawa dalam penulisan naskah repertoar teater di buku ini. Hal ini seakan sebuah reflek mengingat selain “Rol”, “Leng”, maupun“Tuk” yang ditulisnya, sepengetahuan saya tidak ada karya naskah teater berbahasa Jawa yang berkualitas. Bambang Widoyo Sp benar-benar seperti sejarah yang senantiasa membayangi gerak-langkah perjalanan produktifitas naskah teater berbahasa Jawa.
     Hadirnya bayangan tersebut dalam kepala saya ternyata tidak berlebihan, Barbara Hatley dalam Pengantar buku ini pun menyenggol kegenialan Bambang Widoyo Sp dalam penulisan naskah teater berbahasa Jawa. Hal ini pula diakui oleh Andy Sri Wahyudi, bahwa dalam perjalanan proses kreatifnya, dirinya juga pernah membaca-memainkan naskah-naskah Bambang Widoyo Sp. Walaupun dirinya menolak disebut sebagai epigon, tetapi dirinya juga tidak memungkiri betapa Bambang Widoyo Sp-lah yang juga memberikannya gambaran konkret sebuah naskah teater berbahasa Jawa dan menginspirasi untuk membuat karya serupa tapi dengan modal literatur mindset generasi serta asupan lingkungan sosial-politik-budaya yang berbeda. Bahkan, dalam diskusi istimewa tersebut, tanpa mengecilkan seorang Bambang Widoyo Sp, Andy Sri Wahyudi lantang berkata andai kelahirannya lebih dulu maka karyanyalah yang membayang-bayangi dalam perjalanan sejarah penulisan naskah repertoar teater berbahasa Jawa. Bukan “Rol”, “Leng”, maupun“Tuk”.
     Dalam buku ini terdapat tiga naskah repertoar teater. Selain, “Mak, Ana Asu Mlebu nGomah” sendiri, juga ada “Lelakon” dan “Ora Isa Mati”. Tiga naskah repertoar teater ini cenderung menyampaikan keoptimisan dalam melakoni hidup. Kepahitan penderitaan dalam hidup dan berkehidupan yang mencuat sebagai tema cerita tidak serta-merta menampilkan aura nglayung (mengeluh dan mengharapkan kematian sebagai solusi akhir, terjemahan saya) plus udan tangis (penuh kenestapaan, terjemahan) sebagimana yang berkali dihadirkan dalam karya-karya Bambang Widoyo Sp dalam catatan sejarah sebelumnya.
     Naskah “Lelakon” secara lugas menyampaikan pesan bahwa hidup harus dijalani dengan kepala dingin, dengan pikiran yang waras, dan trengginas dalam mengambil inisiatif solusi. Betapa tokoh Samsinah yang terpinggirkan dalam kelola-mengelola usaha Keluarga Lukito (orang tua tokoh Nanang) tidak menyerah dan membanjirkan keluh-kesah. Sedang di naskah “Mak, Ana Asu Mlebu nGomah!” kegetiran hidup karena menjadi korban penggusuran oleh Pengembang “Asu” Perumahan tidak bermuara pada nglayung tanpa kendhat tetapi dihadapi dengan ketegaran dan keyakinan betapa kekalahan fisik tidak harus diikuti dengan kekalahan batin. Warga yang tergusur memilih membawa pergi maesan (nisan) makam sesepuh desa sebagai simbol ketidakmatian nurani. Optimisme ini semakin runcing diraut dalam naskah ketiga dalam buku ini; “Ora Isa Mati”. Orasi tokoh Ganang di bagian akhir menjadi petanda bahwa kedirian kita sebagai manusialah yang membuat kita tetap hidup dalam pemaknaan yang lebih luas.
     Sekali lagi, sebagimana yang saya sampaikan dalam makalah saya di agenda istimewa ini, melalui buku istimewa ini seakan Andy Sri Wahyudi mengajak kita untuk tidak selamanya tenggelam dalam bayangan sejarah masa lalu dan tak memiliki bayangan tentang masa depan. Mengetahui sejarah itu perlu, namun memuja-mujanya secara berlebihan, mengotak-atiknya, serta menjadikannya komoditi pro-kontra bukanlah bijak bagi saya. Andy Sri Wahyudi dengan buku istimewanya menginspirasi kita semua untuk membuat sejarah sendiri yang tak kalah istimewanya.
     Saya ucapkan selamat kepada Andy Sri Wahyudi atas buku istimewanya, dan terima kasih kepada Andhi Setyo Wibowo atas pendaulatannya dalam agenda istimewanya. Sungguh, kami yang membaca buku ini dan hadir dalam agenda ini merasa begitu istimewa.
--- oo0oo ---
Trowulan, 08 Maret 2018

*) Penggagas dan Kerani Lingkar Studi Sastra Setrawulan (LS3)

Catatan:
Tentang jalannya diskusi dalam agenda “SelaSastra edisi ke-26” yang berkualitas, komunikatif, dan dihadiri kawan-kawan selain dari Jombang sendiri, juga ada yang dari Nganjuk, Tuban, Mojokerto, dll, akan saya tuturkan dalam tulisan yang berbeda.

Selasa, 06 Maret 2018

WORKSHOP MENULIS CERPEN 2018 - Tinggal Menghitung Hari





Pendaftaran peserta Workshop Menulis Cerpen 2018 tinggal menghitung hari. 
Buruan!!!
Tinggal beberapa kursi lagi, kuota 40 peserta akan segera terpenuhi.

Telah disepakati bersama bahwa agenda ini akan dilaksanakan di
SDN Kranggan 01
Jalan Pekayon 1/39 Kota Mojokerrto, Jawa Timur
Tanggal 10 - 11 Maret 2018

Materi meliputi
  1. Membangun dan mempertajam ide,
  2.  Membangun tokoh, perwatakan, latar, alur, dan konflik,
  3. Mematangkan paragraf pembuka dan paragraf penutup cerpen,
  4. Mematangkan gaya penulisan,
  5. Editing,
  6. Tips Menembus media massa.
Workshop akan diampu oleh
  1.  Dadang Ari Murtono,
  2.  Anjrah Lelono Broto,
  3.  Tim produksi Terminal Sastra.
Biaya pendaftaran workshop sebesar Rp. 300 ribu

Fasilitas:
  • makalah, snack, softdrink,
  • sertifikat pelatihan 32 jam,
  • penerbitan buku antologi cerpen peserta.
Narahubung dan pendaftaran Mochammad Asrori (085231586507).