Selasa, 13 Maret 2018

Berkelana dalam Imaji – Resensi Buku “Maskumambang Buat Ibu” Karya Nenden Lilis Aisyah



 Judul : Maskumambang buat Ibu
Penulis: Nenden Lilis A.
Tebal Buku : 117 hlm
Cetakan pertama : Oktober 2016








Maskumambang buat Ibu adalah antologi puisi karya salah satu penyair terbaik perempuan Indonesia yaitu Nenden Lilis Aisyah. Nenden merupakan dosen Sastra Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra UPI. Selain Maskumambang buat Ibu, puisi-puisinya terdapat dalam berbagai antologi sastra, antara lain Mimbar Penyair Abad 21 (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), Malam Seribu Bulan (Bandung: Forum Sastra Bandung, 1997), Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1997), Tangan Besi (Bandung: Forum Sastra Bandung, 1998), Angkata 2000 dalam Sastra Indonesia (Jakarta: Grasindo, 2000) dan masih banyak lagi. Antologi puisi Maskumambang buat Ibu merupakan Antologi terbaru yang memuat puisi-puisi Nenden dari 1996-2014.

Antologi puisi tersebut berisi lima puluh puisi dalam dua bahasa sekaligus yaitu bahasa Indonesia dan Inggris. Dalam kumpulan puisinya, penyair menciptakan imaji-imaji yang kuat. Selain itu, penempatan diksi yang cermat sehingga mampu membangkitkan imajinasi, asosiasi, dan emosi juga bisa dinikmati pembaca. Misalnya, puisi yang berjudul Banjarmasin, Suatu Hari. Puisi tersebut menggunakan sudut pandang aku. Keadaan aku dalam puisi yang berjudul Banjarmasin, Suatu Hari ini diasosiakan dengan alam dan suatu hal (objek) yang terdapat di Banjarmasin seperti yang terdapat dalam larik, bukan seperti kebakaran di hutan-hutanmu apabila api ini tak mau padam di hatiku. Selain itu, terdapat pula larik, tapi, suatu hari aku akan seperti pasar terapung yang riuh di waktu subuh dan menghilang menjelang fajar. Dalam larik tersebut, aku diasosiasikan dengan pasar terapung- yang terdapat di Banjarmasin- di waktu subuh. Perasaan aku akan menjadi ramai dan penuh harapan seperti harapan-harapan yang dimiliki seseorang ketika berkunjung ke pasar terapung untuk membeli harapan-harapannya. Namun, perasaan aku juga akan seketika sunyi sama seperti pasar terapung yang menjadi tiada saat menjelang fajar.

NENDEN LILIS A.
Berbeda dengan Banjarmasin, Suatu Hari, puisi yang berjudul Sungai Batu berhubungan erat dengan gagasan tentang eksploitasi lingkungan. Dalam puisi tersebut penyair memberikan gambaran tentang terancamnya lingkungan oleh keserakahan manusia. Penyair menggunakan majas personifikasi dalam penggambarannya. Sudut pandang yang digunakan adalah aku sebagai alam yang dieksploitasi. Penyair sangat tepat memilihnya karena emosi pembaca masuk dalam dunia yang diciptakannya. Selain itu, puisi tersebut seolah memberikan kegetiran pada pembaca dan memberikan penyadaran tentang manusia yang tak pernah puas (serakah). Berikut ini adalah puisinya.


Sungai Batu
aku tak memiliki apa-apa dalam tubuhku
tapi para petani menugalnya, seakan tubuhku tanah
“kami akan menanami benih!” seru mereka
kaupun datang, begitu saja melinggis dadaku
“aku haus tedas darah.” desahmu
aku katakana padamu
di dadaku tinggal sungai berbatu tak ada lagi yang mengalir
batu? Batu pun tak apa-apa yang kita butuhkan sekarang memang batu batu, satu-satunya milikku yang tersisa mereka ambil

Ada pula puisi yang berjudul Di Negeri Pohon-pohon Kastanya. Puisi tersebut seolah mengajak pembaca berkelana dalam imajinasi yang dibuat oleh penyair. Gerbang imajianasi sudah disuguhkan pada larik pertama puisi, memang, hanya sejenak kau mengajakku wisata di abad lama. Puisi tersebut mengisahkan tentang sebuah perjalanan di centrum-centrum kota, museum para pengelana dunia. Hal itu terlihat pada bait ketiga, larik yang menyebutkan, kita pun berebut meletakkan rumah-rumah mungil bercerobong asap di antara kotak-kotak jalan yang teratur, menggerakkan sepur mengikuti rel kereta desa-desa berair subur, menghidupkan kincir angin, memasang gudang rempah, dan menghamparkan padang ternak.Namun, ada hal menarik, keindahan-keindahan yang membuat aku terpesona dalam puisi tersebut seketika sirna saat ia melihat ada bulan menggantung biru. Bulan mengantung biru merupakan sebuah simbol. Bola mata biru (bulan berwarna biru di matamu) yaitu orang asing (Belanda) yang berwarna biru. Kemudian, larik selanjutnya menegaskan pernyataan sebalumnya bahwa hatiku bimbang, namun kuputuskan pulang, aku teringat multatuli. Puisi lainnya berjudul Pada Suatu Hari Teduh, Pengungsi, Penawar Mantra, Cisarua, Que Sera-sera, Menuju Negeri Dingin, Di Jembatan Mirabeau, Kisah Sebatang Pohon, Kerikil, Kesaksian, Epilog, Penjemput Maut, Pengintai, Panti, Rumah Kenangan, Sajak Rumah 1 dan lain-lain.

Antologi puisi, Maskumambang buat Ibu menghadirkan kesegaran dalam kesusasteraan Indonesia baik dari segi ide, bahasa atau imaji yang dihadirkan. Hal tersebut menawarkan kesegaran dalam setiap kata, larik, hingga bait. Antologi tersebut tepat untuk dibaca oleh para penikmat sastra yang ingin berkelana dalam imajinasi penyair. Nilai tambah pada antologi Maskumambang buat Ibu adalah latara yang terdapat dalam beberapa puisi yang berlatar di negeri asing. Pembaca seperti merasakan setiap hal yang digambarkan oleh penyair dalam puisinya. (Yunita Ayu)



SUMBER: