Minggu, 04 Maret 2018

REPRESENTASI MONSTROSITAS PEREMPUAN DALAM NOVEL MANTRA LILITH KARYA HENDRI YULIUS - Representation of Monstrous Feminine in Hendri Yulius’s Novel Mantra Lilith Oleh Indrawan Dwisetya Suhendi, Aquarini Priyatna, Teddi Muhtadin



     Sosok perempuan yang mengerikan banyak terdapat dalam kesusastraan Indonesia, baik lisan maupun  tulisan.  Sosok  perempuan  mengerikan  tersebut muncul  dalam  legenda-legenda  hingga sastra  kontemporer,  misalnya  Kuntilanak  dan  Kelong  Wewe  atau  Wewe Gombel.  Hantu-hantu  perempuan  tersebut  divisualisasi  sebagai  sosok  yang mengerikan  dengan  punggung  berlubang  atau  payudara  yang  menggantung sampai  menyentuh  permukaan  tanah. Legenda-legenda mengenai sosok tersebut  juga  ditransformasikan  ke  dalam sastra  kontemporer.  Dalam  karya-karya Abdullah Harahap misalnya, perempuan kerap  dijadikan  objek  seksual  sekaligus monster yang mengerikan. Novel- novelnya,  seperti  Misteri  Perawan  Kubur(2010), Penunggu Jenazah (2010), Manekin (2013), dan Misteri Ratu Cinta (2013) menunjukkan hal tersebut. Dalam penelitian  yang  dilakukan  oleh  Adam Darmawan (2015) terungkap bahwa novel-novel Abdullah Harahap sangat seksis  dan  misoginis.  Representasi  misoginis dalam novel- novel itu ditunjukkanmelalui  mekanisme  mutilasi  tubuh  perempuan  dan  mutilasi  naratif  terhadap tokoh- tokoh perempuan.
     Dewasa ini, seiring dengan berkembangnya  kajian  kritis  dan  kajian  gender dalam ranah ilmu sosial dan humaniora, khususnya sastra, muncul kecenderungan untuk menulis ulang peran perempuan  dalam  legenda-legenda  tersebut.  Perempuan  yang  dahulu  dianggap mengerikan,  kini  mulai  diberikan  suara  yang vokal  untuk  membela  diri.  Sebagai  contoh,  Cok  Sawitri  yang  mendekonstuksi tokoh Calon Arang melalui novelnya Janda  dari  Jirah  (2007).  Alih-alih  melukiskan Calong Arang sebagai sosok penyihir jahat dan, Cok Sawitri justru melukiskan tokohnya  sebagai  penganut  ajaran  agama  Budha  yang  taat.  Selain  itu,  Toeti Heraty  juga  menulis  sebuah  prosa  lirik Calon  Arang:  Kisah  Perempuan  Korban Patriarki  (2000).  Kecenderungan  tersebut  juga  membuat  para  penulis  muda mencoba  hal  serupa.  Pada  tahun  2005, Intan Paramaditha merilis sebuah  kumpulan  cerpen  berjudul  Sihir  Perempuan (buku  ini  kembali  dicetak  pada  tahun 2017 oleh penerbit Gramedia). Kumpulan  cerpen  Sihir  Perempuan  merupakan kumpulan cerita horor dalam perspektif feminisme,  sesuatu  yang  digeluti  Intan Paramaditha dalam ranah akademiknya. Dalam  Sihir  Perempuan,  terjadi  banyak gambaran  perempuan  yang  mencoba melawan  ideologi  patriarki  yang  membelenggu tokoh-tokohnya. Kecenderung an menulis ulang kisah perempuan yang dikonstruksi  sebagai  monstros  tersebut dilanjutkan  oleh  dua  buah  novel  yang ditulis oleh Hendri Yulius. Hendri Yulius dikenal  sebagai  aktivis  dan  akademisi yang  vokal  dalam  menyuarakan  kesetaraan gender dan queer.
     Hendri Yulius menulis dua buah novel  berjudul  Lilith’s  Bible  (2013)  dan Mantra  Lilith  (2017).  Kedua  novel  itu merupakan  cerita  horor  dengan  perspektif  feminisme.  Keduanya  memiliki kekhasan  dari  segi  bentuk,  yakni   berbentuk cerita berbingkai dengan empat belas  fragmen  cerita  yang  berbeda  namun dengan tema besar yang sama, yakni horor feminis. Selain itu, bingkai yang menjadi  kerangka  cerita  meniru  format Injil.  Cerita  dibuka  dengan  Kejadian (prolog)  dan  ditutup  oleh  Wahyu  (epilog).  Kekhasan  bentuk  novel  tersebut pulalah  yang  membuat  novel  ini  patut untuk  dikaji.  Selain  bentuk  novelnya yang  khas,  fragmen  cerita  dalam  novelnovel Hendri Yulius merupakan alusi dari  banyak  cerita  yang  sudah  dikenal orang secara luas. Hendri Yulius menulis ceritanya  dengan  meminjam  dongeng dari Nusantara, misalnya Timun Mas, kisah  percintaan  terlarang  antara  Dayang Sumbi dan Sangkuriang, hantu-hantu lokal  seperti  Wewe  Gombel,  dan  bahkan dongeng Barat seperti Putri Duyung- nya H. C. Andersen. Novel terbaru yang ditulis Hendri Yulius,  Mantra Lilith, merupakan  pembaharuan  dari  novel  pertamanya.  Hendri  Yulius  mengganti  beberapa judul  fragmen  cerita  dan  mengurangi beberapa bagian seperti artikel feminisme yang ditulis untuk pengantar dan penutup novel Lilith’s Bible.


Lebih lengkapnya tentang artikel ini, KLIK