Rabu, 25 Maret 2020

Puisi-Puisi Supriyadi Bro (dari buku “MENJARING LANGIT”, 2019)



ANAK PANTAI


Gemuruh ombak bagai nyanyian
Hempasan air tarikan nadi dan nyali
Panas membakar rikma
Kulit menyusut dan kelam
Anak pantai tumbuh tertempa
Keras cadas dan buih keruh laut
Anak pantai melepas sauh
menancapkan dalam-dalam
mengikat tali, agar perahu kukuh
Sekukuh jiwa di dasar bumi
Setegar raganya menyangga langit
Sekuat tebing tangkap gelombang


Bali, 28 /12/2017
  



LAJU WAKTU


Laju waktu tak membawa pesan
Membawa kehidupan dalam arusnya
Melaju kian melaju tak pernah kembali
Melaju masa lalu ke masa kini dan masa depa
Laju waktu mengejutkan dalam sadar
Waktu menjadi misterius menggerus
Kenangan kini tergelar mengulang ingat
Masihkah acuh waktu melaju tanpa makna?


Mojokerto, 2/ 6/ 2018  




KEHILANGAN RASA


Angin menerpa kian merana
Gelombang meriak kian jamak
Bumi bergerak penyangga retak
Symponi alam lantunkan lagu kepunahan
Masihkah rasa tak terjamah?
Seruan kata maaf pada-Nya
ketika bencana merenda rasa duka
Pengakuan kebesaran kuasa-Nya
Berbaur jerit tangis, luka, dan ruh terpisah dar
raganya
Masihkah rasa terlena?
Palu, Donggala, Sigi, dalam selimut duka
Palu, Donggala, Sigi, menggetarkan jiwa
Masihkah kita pantas berpesta?
Musik, tari, lagu dan gelaran kembang api, hias
malam
Tak ada pita hitam di lengan, 
merenung sejenak dan kembali berpesta
Senyum merekah, lupakan rasa duka
Kemana rasa bersemayam
Rasa duka sirna bersama tanya
Rasa duka ditelan gemerlap pesta
Masihkah ada rasa, atau sudah kehilangan rasa


Mojokerto, 7/10/2018 





MENJARING LANGIT
ISBN: 978-623-90807-4-7
Editor:  Anggi Putri
Diterbitkan Oleh:
Penerbit Pustaka Kata






------------------------------------------------------------------
Tentang Penulis
Penulis lahir  di Surabaya dengan nama Supriyadi pada 24 November 1966.  Sejak SMA, Drs. Supriyadi, S.E, M.Pd sudah suka menulis puisi, cerpen dan naskah drama panggung. Nama pena Supriyadi Bro disandangnya untuk mendekatkan diri pada pembaca karya-karyanya. Karya-karyanya pernah dimuat di Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra STILISTIKA, UMS), dan Radar Mojokerto. Buku karya pribadinya adalah Sehimpun Puisi  “KADO KATA” (Media Nusa Creatif-Malang, 2017), Sehimpun Puisi “MUTIARA JIWA” (Temalitera-Mojokerto, 2018), Kumpulan Puisi “MENJARING LANGIT” (Pustaka Kata, 2019) ini.  Kontak surel; supriyadi.mojokerto@gmail.com, dan FB: Supriyadi Bro.

Perempuan Itu Bernama Arika -- Cerpen Almin Patta (www.bukuprogresif.com/27 Februari 2019)



karya Almin Patta *)

Ilustrasi - Copyright by www.bukuprogresif.com
Malam ketika Arika membunuh Kopral Heri, lelaki yang selama berbulan-bulan menjadikannya simpanan, bayi mungilnya yang konon lahir dari seorang veteran tentara Prancis, menangis histeris menanti puting susu yang tak kunjung dikulumnya sejak sore. Disampingnya tergeletak tanpa nyawa Kopral Heri dengan pakaian tentara lengkap beserta pangkat serta wing bertaburan menghiasi kain seragam. Arika telah menjalani ini – perempuan penghibur – sejak perjumpaannya dengan Clement Mallouda setahun lampau dan kini memberinya seorang bocah laki-laki yang permunculannya lebih banyak Prancis daripada melayu bernama; Griezman. Hingga datang Kopral Heri sebagai lelaki simpanan penghabisan yang sekaligus membawanya bercokol didalam penjara.
Arika terlahir dari keluarga terpandang dan sangat dihormati di sebuah kampung pesisir utara Ambon. Dibesarkan didalam sebuah keluarga makmur, sentosa sekaligus terpandang. Di sana ia tumbuh sebagai bocah periang, lincah, manis dan tak tersentuh oleh tangan-tangan cacingan bocah-bocah kampung sebayanya, sebab ia selalu dilindungi oleh keluarga bangsawan kecil yang tak pernah memukul dan selalu memperlakukan anak-anak mereka secara layak. Ibunya anak tertua raja negeri yang hanya sudi menikah dengan seorang pegawai pemerintah atau paling kurang juragan tanah. Sayang, garis tangan hanya menuntunnya pada laki-laki pedagang keturunan bugis yang melamarnya dengan mahar seperangkat alat sholat beserta emas lima belas gram dan cukup untuk menjadikan laki-laki itu menantu kesayangan keluarga raja.
Arika kecil, menjalani hari-harinya dengan bahagia dikampung dan menjadi kesayangan bagi orang-orang gila hormat yang mencari-cari muka kepada keluarga raja sebagai pembantu tanpa bayaran. Cukuplah diberi lauk alakadarnya saja, sekali dua, atau bahkan tidak samasekali. Sejak SMA Arika tak sedikitpun menampakkan kecenderungan sebagai perempuan pemuja kenikmatan badani sebagaimana gadis-gadis seusianya. Ia gadis sopan dalam tingkah dan tutur bahasa. Sayangnya, selepas menjadi mahasiswa disebuah universitas di kota, Arika menjelma sebagai gadis modis dan gonta-ganti membawa teman lelakinya keluar-masuk kampung. Bagi lelaki-lelaki universitas, Arika termasuk perempuan yang gampang diajak jalan-jalan. Asalkan punya motor, vespa buntutpun tak mengapa, siapa saja bisa membawa dara itu kemana saja hingga berhari-hari tak pulang rumah. Dia pernah menjalin cinta dengan lelaki kampung yang disukainya lebih karena ketampanan laki-laki itu. Tapi sayang, perjaka itu tak terlalu kota hingga membuat Arika mencampakkannya dan pergi bersama laki-laki lain yang lebih kota. Sejak saat itupula, sebagaimana yang diyakini semua orang, Arika telah hilang kegadisannya hingga akhirnya pulang menggendong bayi merah tanpa sepotongpun gelar sarjana.
Dalam sebuah event internasional yang dihelat dikota, Arika terpilih sebagai salah seorang guide turis dikarenakan selain memiliki roman yang manis, ketrampilan bahasa Inggrisnya lumayan bisa. Disitulah awal perjumpaannya dengan Clement, seorang veteran tentara Prancis berumur sekira empat puluhan tahun. Arika yang keranjingan dibumbui rasa penasaran bersetubuh dengan lelaki dari bangsa asing, dibuat tak berdaya dengan kegagahan si bule. Maka hanya dengan dua kali beradu keperkasaan diatas tempat tidur, benih haram telah tertanam di liang rahim Arika yang kemudian tumpah kedunia dalam wujud seorang bocah blasteran bernama Griezman. Clement hengkang seiring berakhirnya event megah itu. Pulang ke Perancis meninggalkan cinderamata seorang jabang bayi yang kini bercokol didalam perut muda Arika.
Anak itu kemudian lahir, hendak diberi nama Yusuf oleh kakeknya yang raja, tapi Arika berkeras tetap menamainya Griezman sebab itulah yang dipesankan Clement kala malam disela-sela persekutuan mereka sebagai binatang purba yang saling menggulung di tempat tidur. Tak habis pikir memang, bagaimana bisa Arika masih berlapang hati menjaga wasiat laki-laki kapiran yang pergi begitu saja setelah puas menjamahi lekuk tubuh mudanya yang membuncah menghasut berahi. Ajaibnya cinta, ia tak merasa malu barang sedikitpun dengan aib sebesar itu. Justru memamerkan perut buncitnya yang berisi bayi kepada seisi kampung dan sumringah mengisahkan itu pada teman-teman sebaya semasa sekolah dulu.
Semenjak kejadian itu, Arika berubah menjadi perempuan panggilan seutuhnya. Hingga ia singgah di kehidupan Kopral Heri dan berlabuh di sana sepanjang waktu yang berbulan lamanya.
Pertemuannya dengan kopral Heri terjadi disebuah malam resepsi pernikahan salah seorang sepupu dekatnya. Arika yang mengenakan gaun satin merah marun, nampak begitu anggun tanpa tandingan di pesta kawinan itu. Kopral Heri hadir sebagai tamu dari pihak mempelai laki-laki yang juga seorang perwira tentara. Hati sang kopral tergugah, kepincut oleh kecantikan tiada tara yang dipancarkan raut bulat telur Arika, dengan ikat konde tinggi mempertontonkan leher jenjang pemiliknya, dan berberapa helai rambut tergerai jatuh sekenanya menghiasi kulit leher yang putih berseri-seri. Dan itu semua cukup untuk membuat kopral Heri tak sadar diri jika anak-bininya sedang menanti penuh cinta dirumah dinas.
Si kopral yang bahkan telah mendengar desas-desus jika wanita bergaun satin itu adalah janda dengan kata tambahan “dia bisa dipakai”, tak risih barang sedikitpun. Dia hanya ingin menikmati tubuh anggun itu saja. Tak lebih.
Kopral Heri beruntung, Arika tak menunjukkan gelagat angkuh semestinya perempuan cantik. Ia ramah, ramah sekali. Barangkali sisa-sisa pengajaran adab tata krama masa kecil masih ia simpan rapat-rapat dalam pola tingkahnya. Pun barangkali begitulah tabiat perempuan seperti Arika yang biasa bermanis-manis pada laki-laki.
“Sendiri saja?” tanya Kopral Heri basa-basi.
“Iya pak. Sendiri saja”
“Gaunnya indah” Si Kopral mulai merayu.
Arika senyum.
“Seindah pemiliknya” sambung Pak Kopral.
Rona Arika menjelma ranum. Persis kuncup bunga. Beruntung ia cepat menguasai diri. Biarpun sudah puluhan kali dirayu macam begini tetap saja ia rasai gejolak darahnya bergemuruh.
Begitulah perkenalan itu berlangsung lalu keduanya melesat bersama mobil kijang kopral Heri menuju penginapan kelas melati di pinggiran kota.
Bulan setengah gerhana ditelan gumpalan awan hitam. Semilir angin darat yang tengah dalam pengembaraan menuju tepian laut membelai lembut kulit ari Arika yang putih mulus serupa pati sagu, menegakkan bulu roma. Keduanya lalu berbarengan turun dari mobil. Setelah melapor dan memesan kamar pada Mba resepsionist yang bermata panda sebab saban hari begadang hingga malam jatuh, keduanya kemudian menapaki anak tangga, memasuki lorong sempit dengan jejeran pintu yang berhadap-hadapan. Pasangan itu lalu menghilang dibalik pintu bernomor 021.
***
            “Kamu cantik Arika, saya tak bisa melupakan kamu”. Begitulah kalimat pertama yang meluncur dari mulut kopral Heri di pagi setengah basah seusai hujan mengguyur di sepertiga malam.
Arika sekali lagi tersenyum. Kali ini aura perempuannya kelihatan lebih hidup. Rautnya polos sebab air kran membuat seluruh polesan makeup pada mukanya luruh tak tersisa.
“Saya mau kamu hanya untuk saya saja, Arika. Sudihkah?” nada si kopral setengah memohon.
Arika tertegun. Ia tak tahu harus menjawab apa? Ia samasekali tak terbiasa dengan gagasan kepemilikan penuh atas dirinya. Selama ini ia bercinta dengan siapa saja sekehendak hatinya. Lalu;
“Saya punya seorang anak yang harus diberi makan pak. Kalau bapak menginginkan saya untuk bapak sendiri, lantas bagaimana nasib anak saya. Selama ini saya melayani karena
saya perlu uang untuk hidup kami berdua.” tutur Arika panjang lebar. Dia tak terbiasa bicara banyak, tapi pagi ini situasinya lain.
“Saya bisa menanggung biaya hidup kamu dan anakmu, manis.”  Sanggah kopral Heri segera. “Gaji saya lumayan, usaha saya banyak, dan saya langganan jadi panitia penerimaan prajurit baru. Tak tanggung-tanggung, posisi saya selalu ketua panitia dan itu memungkinkan saya banyak menerima cekeran dari situ.” Kopral Heri terdiam, pandangnya dibuang keluar jendela. Sinar matanya ragu, gerak tubuhnya tak tentu. Ia gugup. Kopral Heri gugup dihadapan seorang perempuan panggilan.
“Ahh. Harusnya tak kukatakan hal itu padamu. Tapi, persetan semua itu.!”.
Keduanya terdiam.
“Bagaimana dengan anak-bini bapak?” tanya Arika seketika.
Bibir sang kopral melebar cekung, kumisnya yang tipis ikut tertarik oleh otot pipinya yang kini ikutan melebar. Pertanyaan Arika barusan memberi sedikit celah untuk memiliki perempuan ini seutuhnya.
Kopral Heri menghela nafas panjang, didekatinya tubuh Arika lalu membelai lembut rambut kekasihnya yang panjang bergelombang.
“Jangan pikirkan tentang itu, manisku.” bisik si kopral pelan pada telinga Arika yang kiri. Hembusan nafasnya terasa hangat dikulit leher Arika yang jenjang, “si Jena itu, perempuan bodoh itu, matanya tak akan melihat apa-apa lagi jika tiap bulan sudah saya sodori jutaan rupiah”
“Lalu bagaimana dengan anak-anak bapak?” Arika.
“Alaahh. Dua orang anak saya masih kecil. Tahu apa mereka soal beginian”.
Jawaban itu untuk sementara membuat Arika agak tenang. Dan kopral Heri membaca itu sebagai pertanda baik. Muka Arika didekapkan kedadanya yang bidang hingga setengah tubuh perempuan itu nyaris tenggelam di sana. Detik berubah menit, lama Arika menikmati rasa nyaman itu. Begitu mukanya ditengadahkan ke muka kopral Heri, seketika ia rasai lekuk bibirnya kembali basah.
Griezman, hampir genap delapan bulan kala itu, nampak gempal kelebihan nutrisi daripada bocah-bocah lain. Bola matanya biru, namun kulitnya kuning langsat mendekati coklat sama seperti si ibu. Rambutnya belum tumbuh betul, namun agak-agaknya akan pirang sebagaimana sang ayah, Clement Mallouda, pria Perancis itu.
Selepas beduk magrib bergema dari langgar, Arika buru-buru menutup pintu rumah kontrakannya takut angin jahat akan masuk dan mengerjai si anak sampai tak enak badan. Dua bulan telah berlalu sejak pertemuannya dengan kopral Heri. Sering perwira itu datang berkunjung ke kontrakannya dan menginap hingga sehari dua di sana.
Arika kembali lalu duduk di sofa berhadap-hadapan dengan si bayi yang tengah pulas didalam keranjang rotan yang baru dibelinya beberapa hari lalu. Ia menatap Griezman, bocah itu belum diberi asi sejak tadi sebelum tidur. Arika bangkit dari sofa menuju dapur menimbah seporsi nasi lengkap dengan sayur katok yang dimasak santan. Kata ibunya, sayur katok baik untuk perempuan menyusui karena melancarkan asi.
Tak selang berapa lama, terdengar deru mesin motor dari luar rumah berhenti tepat didepan kontrakan. Menyusul ketokan berkali-kali pada pintu. Suasana yang sedari tadi senyap jadi bising. Hilang selera makan Arika. Untung, Griezmann tetap terjaga dalam tidur damainya.
“Arika! Arika, buka pintu. Arika, buka!” Arika kenal suara itu: Kopral Heri.
“Iya iya, sabarr…” tangan Arika meraih gagang pintu, kunci diputar dua kali kearah kiri, dan seketika kopral Heri mendobrak pintu sampai perempuan manis itu jatuh terpental diatas lantai. Pelipisnya terbentur ujung meja kayu jati, dan menciptakan luka gores sekira tiga senti.
“Dasar perempuan jalang. Kau laporkan apa pada istri saya, hah?” tanya kopral Heri lalu menjambak rambut Arika dan tangannya menghunjam pipi kirinya dan perempuan itu sekali lagi terjerambab ke lantai.
“Perempuan sundal, gara-gara kau saya dipecat dengan tidak terhormat.” kata si kopral gelagapan. Kaki kanannya menuju muka Arika, spontan Arika melindunginya dengan tangan dan ‘krakk’, tulang kering Arika seperti hendak terlepas dari persendian. Patah.
Arika meliuk-liuk diatas lantai menahan kesakitan. Nafasnya megap-megap, tangan kirinya yang patah terkulai lemah dekat kaki meja, sedang matanya merah jingga sembab. Ingatannya menangkap bayang-bayang ketika ia bersama Griezzman dua hari lalu, nekat menemui istri kopral Heri dan melaporkan semua tentang hubungan haram itu.
Jena, istri kopral Heri tak kuasa menahan rasa terkejut mengetahui suaminya yang selama tiga puluh tahun menikahinya dan sebagaimana ia yakini, tak menunjukkan rasa keranjingan berlebih pada perempuan manapun selain Jena seorang, selama ini mempunyai seorang simpanan yang jujur memang lebih cantik dari Jena sendiri.
“Sekarang saya sedang mengandung anak dari suami ibu.” tutur Arika kemudian.
Jena menatap tajam mata Arika dengan segala amarah yang meluap-luap. Rasa panas perlahan-lahan mencuat dari dada, menjalar kemata, lalu naik hingga ubun-ubun. Amarahnya tengah memuncak dan segera akan tumpah melabrak perempuan sundal didepannya ini. Hingga sepersekian detik berlalu, ketika ia rasai syaraf-syarafnya semakin tegang dan barangkali akan pecah, lututnya tiba-tiba dielus oleh sepasang tangan mungil dengan jemari kecil-kecil yang nampak merah jambu menggemaskan. Griezmann telah ada di sana, berdiri disamping Jena, dengan tingkah polos anak-anaknya berusaha meredakan tangis Jena. Arika menggapai tangan Griezmann tapi sang anak justru menampik ajakan si ibu. Sepasang mata birunya kini mengarah pada mata Jena yang telah sembab basah. Lalu keduanya saling bertatapan. Parahnya, tangisan Jena malah semakin kencang, hingga akhirnya perempuan itu berbalik badan dan masuk membanting pintu meninggalkan Arika dan Griezmann yang diam serupa patung.
Begitulah kala akhirnya Arika membunuh kopral Heri dengan sekali tarikan pelatuk yang dirampasnya dari saku tempel si kopral hingga dada perwira itu koyak tak ada bentuk.

Ambon, 12 Januari 2018


__________________________
Almin Patta, penulis lahir di Desa Wakal, Kecamatan Lihitu
Kabupaten Maluku Tengah.



Sumber:

Senin, 23 Maret 2020

Suarakan Kegelisahan Melalui Sastra -- Sebuah Resensi

Judul Buku: Dari Timur
Penulis: Ama Achmad, dkk
Penerbit: Gramedia
Cetakan: Juni 2017
Peresensi: Khairul Amin *




APRESIASI dan publikasi karya inspiratif adalah sebuah keharusan. Tindakan ini dilakukan agar karya itu bisa memberikan inspirasi pada lebih banyak orang. Semangat inilah yang menjadi dasar buku ini disusun.

Para penulis lewat kurasi karyanya dalam buku ini mampu menampilkan sastra dalam bentuk yang tidak biasa. Sastra tidak hanya dijadikan sebagai karya. Tapi juga, media menyampaikan keresahan diri terhadap kesenjangan sosial di lingkungan sekitar. Dari Timur adalah antologi karya penulis Indonesia Timur, buah kurasi tim Makassar International Writers Festival (MIWF).

Buku ini menjadi bukti nyata kecintaan penulis pada sastra. Wujud nyata dari perayaan intelektual. Dari Timur mencerminkan semangat MIWF, memperkenalkan karya sastra dari Indonesia di bagian timur. Wilayah yang dalam indikator pencapaian pembangunan infrastruktur, ekonomi, dan kultural relatif tertinggal dibanding wilayah barat. Uniknya, selalu disebut-sebut sebagai wilayah yang mengandung potensi besar (hlm 6).

Buku edisi pertama kumpulan karya penulis MIWF ini memuat berupa karya sastra puisi dan cerita pendek dari sebelas penulis yang pernah terpilih menjadi penulis undangan MIWF. Karya sastra kesebelas penulis sangat beragam, tidak melulu tentang cinta, maupun kisah kehidupan kelam. Ada juga harapan untuk kehidupan di masa yang akan datang, riak-riak yang ada di karya sastra dalam buku ini merupakan buah pikir dari kegelisahan yang dialami oleh penulis.

Karya dalam buku ini menunjukkan kekhasan dalam tema dan kematangan dalam pengungkapan. Beberapa di antaranya bahkan berhasil dalam pencapaian estetika dan mampu mengikat perasaan pembaca secara lekat. Ini adalah hasil nyata dari buah pikir penulis menempuh jalan sunyi kepengarangan dalam melahirkan karya demi karya. Karya ini tidak hanya menjadikan nama mereka dikenal luas. Namun, juga menjadikan ide dan persoalan yang mengusik mereka yang belum mereka suarakan hingga saat ini—termasuk tentang akar identitas, adat, dan isu sosial di daerah masing-masing—bisa sampai pada pembaca yang luas (hlm 7).

Seperti cerita pendek Air karya dari Erni Aladjai, yang menceritakan gejolak di masyarakat tentang privatisasi sumber mata air oleh kelompok kapitalis. Persoalan yang kerap dialami masyarakat di sekitar sumber mata air. Cerita ini dikemas melalui sosok Zon. Tokoh utama ini ditampilkan sebagai sosok yang muncul dari masa lalu, kemudian menyaksikan secara nyata kerusakan alam akibat dari tindakan dirinya sendiri yang mewakili instansi perusahaannya di masa depan. Zon menyaksikan air menjadi sangat berharga dibandingkan dengan apa pun, menguasai sumber mata air adalah menguasai kehidupan.

Cerita lain juga hadir dari Cicilia Oday dalam Anak Penjaga Sekolah. Cerita pendek yang kental dengan roman, perjuangan, juga kesetiaan. Sosok anak penjaga sekolah ditampilkan sebagai sosok yang memuja dalam diam dengan penuh kesetiaan. Dia mengagumi Windy, gadis siswa sekolah, tempat ayahnya bekerja sebagai penjaga.

Jalan kesetiaan anak penjaga sekolah terus tumbuh bahkan saat Windy meninggal. Dengan ketekunan, setiap hari anak penjaga sekolah meletakkan satu bunga sepatu di atas pusara Windy. Bunga dari tanaman yang Windy berikan pada anak penjaga sekolah untuk dirawat saat Windy memenuhi tugas penanaman saat di sekolah.

Kisah tentang perjuangan cinta juga datang dari Emil Amir dalam cerpen Silariang. Kisah roman yang dipertentangkan karena adat dan kasta keluarga. Andi Saeba, sosok perempuan utama dalam cerita ini harus menelan gunjingan karena menikah di usia yang lebih dari matang. Di masa ranum tidak ada yang datang melamar.

Bukan tidak ada yang mau melamar. Andi Saeba sangat mahal. Tidak ada yang bisa membayar maharnya sebagai putri bangsawan. Hubungannya dengan pria pujaan, La Saddang, harus kandas karena beda kasta keluarga.

Dari Timur tidak hanya kaya dalam cerita. Muatan di dalamnya sarat akan makna. Menjadikan pembaca semakin mengenal daerah Indonesia Timur, mulai dari identitas, adat, kebudayaan yang dijalani, hingga isu sosial yang sangat beragam setiap daerah. Pada gilirannya, pembaca akan mengenal keindonesiaan yang sesungguhnya.


*) KHAIRUL AMIN, Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang.



SUMBER:


Puisi-Puisi NURIMAN N BAYAN

Nuriman N Bayan
DI AIR SENTOSA


Ada yang diam-diam membaca langit sore
memandangi titik cahaya yang memanjang
berlahan turun ke ake santosa. Apa yang indah
ketika itu? Selain pelangi masuk ke mata lelaki
tujuh bidadari tampak berselendang warna-warni.

Barangkali pohon dan bebatuan itu adalah saksi
ketika penantian menjadi persembunyian
ketika cahaya pelangi berlahan memudar
tentu, si bungsu yang kehilangan selendang
harus ditinggalkan bersama air mata di pipinya.

Namun perpisahan adalah pertemuan
saat lelaki keluar dari persembunyian
saat hati si bungsu menjadi lapang
barangkali dari pertemuan itulah
Bacan, Jailolo, Tidore dan Ternate
lahir dan tumbuh
menjadi Maluku
menjadi Kie Raha.


Morotai, 08 Maret 2019.


Catatan:
Asal Muasal Kesultanan Maluku Utara




Nuriman N Bayan
AIR MATA YANG BIRU


Setelah ke seberang perahu membawamu
aku jojarumu yang terlalu setia, kekasihku
begitu lama mata ini menjadi bendungan
membangun keyakinan demi keyakinan
agar cinta yang bergelora tetap bersahaja

tapi perempuan siapa yang
sanggup menampung air mata
ketika kekasihnya pulang bukan kembali?
Aku tak sanggup, memeluk kehilangan, kekasihku.

Maka biarlah air mata ini lepas
sebagaimana pantai itu melepasmu pergi
dan aku merasakan laut biru yang kau layari itu
adalah air mataku yang kelak menjadi mata air
bening yang kini menenggelamkan aku
bersama janji dan mimpi kita yang biru.


Morotai, 20 Februari 2019.


Catatan:
Jojarumu: nona/perempuanmu
Telaga Biru: salah satu telaga di di Galela, Kab. Halmahera Utara. Konon, timbul dari patah hati yang remuk-redam, meneteskan air mata, mengalir dan mengalir menjadi sumber mata air.


































Tentang Penulis:

Nuriman N Bayan atau lebih dikenal dengan Abi N. Bayan lahir di desa Supu Kec. Loloda Utara, Kab. Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara, pada 14 September 1990. Anak dari Hi. Naser Dano Bayan dan Rasiba Nabiu. Saat ini menjadi Pembina Komunitas Parlamen Jalanan Maluku Utara (Komunitas Teater) dan Komunitas Penulis Tepi. Buku puisi bersamanya, antara lain: Kita Halmahera, Kitab Puisi Penyair Maluku Utara, Mengunyah Geram, Rumah Seribu Jendela, Ombak Ombak Tepi, Soekarno dan Wong Cilik Dalam Puisi, Senja Langit Jatigede, Negeri Bahari, Senyuman Lembah Ijen, Embun-embun Puisi, Bait Kisah Musim Hujan dan pernah terbit di Majalah Simalaba, Majalah Mutiara Banten serta di beberapa surat kabar (Lampung Post, Bangka Post, Posko Malut, Kabar Harian Madura) juga terpublikasi di beberapa media online. Kini tinggal di Ternate.


Sumber:
Buku "DONGENG NUSANTARA DALAM PUISI", Daru Maheldeswara, dkk (Temalitera, 2019) ISBN: 978-602-0769-49-3.

Sabtu, 21 Maret 2020

PARASITE DAN FENOMENA GAGAL -- Sebuah Esai Review

Oleh Eeng Nurhaeni *)

Universitas College London, Inggris, telah mengadakan penelitian dan berhasil menemukan fakta empiris bahwa kebohongan sangat berkaitan erat dengan kondisi otak seseorang. Bentuk penelitian dimulai dari proses pemindaian otak kepada responden. Para ilmuwan menyebutnya dengan istilah Functional Magnetic Resonance Imaging (FMRI). Kemudian, kepada puluhan responden diberikan simulasi-simulasi kasus terhadap mereka.
Di antaranya, suatu hal yang dapat menguntungkan dirinya dan kawannya; lalu hal yang menguntungkan dirinya dan merugikan kawannya; terus menguntungkan kawannya dan merugikan dirinya; atau menguntungkan salah satu dari mereka tanpa memberi efek kepada yang lainnya.
Apakah sutradara Korea Selatan, Bong Joon-ho, yang berhasil memboyong kemenangan Oscar dalam filmnya “Parasite” pernah mengadakan penelitian serupa. Saya tidak tahu. Tapi yang jelas, film tersebut menyiratkan kebohongan sebagai salah satu fenomena yang mengurat mengakar dalam kehidupan sosial masyarakat kota. Empat tokoh dalam film Parasite, sebagai keluarga marjinal di tengah perkotaan, seakan menganggap bahwa kebohongan adalah sesuatu yang lumrah dan wajar saja.
https://www.tribunnews.com/seleb/2020/02/10/
parasite-cetak-sejarah-sebagai-film-asing-pertama-
yang-memenangkan-best-picture-di-oscar
Keluarga marjinal itu, telah mengesampingkan nilai-nilai kejujuran yang seharusnya menjadi tanggung jawab moral setiap individu dalam bersosialisasi. Penelitian di universitas College ini terus mempelajari aktifitas ketidakjujuran, dan berusaha mengungkap mengapa sedikit kebohongan bisa mendorong pada kebohongan-kobohongan selanjutnya yang lebih besar lagi. Inilah esensi dari penggambaran Parasite, sebagai film Asia satu-satunya yang berhasil meraih Oscar sejak awal penganugerahannya (1927).
Film tersebut sama sekali tidak menyinggung proses kemajuan teknologi pemindai otak yang dapat mengungkap fakta medis di balik kebohongan dan perilaku berbohong. Melalui metode FMRI, para ilmuwan menunjukkan bahwa bagian otak amigdala, bagian yang sangat berhubungan dengan aktifitas emosi manusia, menjadi sangat aktif ketika responden melakukan kebohongan kecil pertama demi keuntungan pribadinya.
Reaksi amigdala ini akan semakin menurun seiring dengan peningkatan kekuatan berbohong responden. Bahkan lebih tendensius lagi, penurunan semakin besar dari aktifitas amigdala diprediksi akan mendorong kebohongan lebih besar di masa yang akan datang. Inilah yang membuat tokoh-tokoh utama dalam film Parasite tak sanggup lagi mengukur risiko, sampai pada waktunya mereka menganggap bahwa kebohongan itu lazim dan biasa saja.

Parasite dan Neurosains
Dr. Tali Sharot dari UCL Experimental Psychology menyatakan bahwa, ketika seseorang berbohong untuk kepentingan pribadinya, amigdala memberi perasaan negatif yang akan membatasi tingkat di mana ia sedang bersiap-siap untuk melakukan kebohongan berikutnya. Respon amigdala akan memudar jika seseorang terus berbohong. Lalu, jika tingkat pemudaran itu semakin rendah, maka ia akan terus berani melakukan kebohongan yang lebih besar lagi, sampai-sampai – dibuktikan dalam ending film Parasite – hukum alam sendiri yang akan bertindak dan membalas keburukannya.
Peningkatan aktifitas amigdala sangat kentara pada tokoh ibu (diperankan Jang Hye-jin). Demi keuntungan diri dan keluarganya, ia tega mendiskreditkan pembantu lama untuk menggantikan posisinya. Degradasi moral semakin menjadi-jadi ketika seluruh anggota keluarga marjinal ini – yang dilegitimasi oleh peran bapak selaku teladan (diperankan Song Kang-ho) – terus menggalakkan ketidakjujuran kecil menjadi kebohongan-kebohongan yang semakin besar.
Suatu kali muncul pembelaan dari sang suami, bahwa majikannya itu adalah orang kaya yang baik hati. Namun demikian digugat pula oleh istrinya bahwa, “Bukan karena kebaikan yang membuat mereka menjadi kaya, tapi justru karena mereka kaya yang membuat mereka menjadi baik.”
Kisah yang ditampilkan Parasite pada prinsipnya adalah pembenaran akan sikap korup dari keluarga marjinal, bahwa dalam diri mereka pun menyimpan benih-benih mentalitas para koruptor. Memang sangat interesan di era milenial yang sarat hoaks dan kebohongan yang kadang dilakukan secara struktural akhir-akhir ini. Meskipun kemenangan film garapan sutradara Bong Joon-ho ini banyak mengundang perdebatan dan kontroversi, tetapi sampai saat ini makin ramai para penulis dan intelektual membahasnya, baik melalui resensi atau sinopsis di berbagai media nasional dan internasional.

Jangan Gagal Paham
Setelah kemenangan film Parasite, banyak acara diskusi dan dialog yang diselenggarakan lembaga kebudayaan maupun perfilman kita, namun nyaris tidak satu pun yang mengenai sasaran dalam khazanah software perfilman dunia. Kebanyakan pembicara mengawang-awang ngalor-ngidul, sampai-sampai ada juga yang getol mengelus-elus batu cincin di jari jemarinya.
Ada pertemuan budaya di Jakarta yang diakhiri dengan pembicara seorang seniman senior – sebab ia tak pernah menolak disebut “senior” – yang menyimpulkan bahwa film Parasite seakan-akan peringatan bagi pemerintah kita agar membangun toilet di seluruh Indonesia. Saya kira, sah-sah saja kesimpulan seperti itu. Memang ada adegan seseorang yang kencing di sembarang tempat. Juga peringatan itu ada moral massage-nya, tetapi maaf, apresiasi seperti itu amat sangat dangkal!
Selain itu, untunglah ada pengecualian. Saya sempat mengapresiasi resensi yang luar biasa dari seorang kiai NU Banten, yang sekaligus anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI), K.H. Chudori Sukra (kolomnis Kompas) dalam opininya, “Mimpi Asia dalam Belenggu Parasite”. Ia menyandingkan film Parasite dengan novel  John Steinbeck (The Pearl), yakni tentang seorang marjinal pinggiran kota, tiba-tiba kaya mendadak setelah menemukan mutiara pada saat ia menyelam. Sebutir mutiara yang menghebohkan itu menjadi bahan perbincangan di seputar tokoh-tokoh yang ditampilkannya. Mau tidak mau ia dituntut agar menjadi seorang dermawan yang serba dadakan.
Hal ini mengentakkan ingatan kita pada simbol “batu jimat” yang terus-menerus dalam genggaman si anak sulung dalam Parasite, yang pada akhirnya harus dikembalikan ke habitatnya. Peristiwa sakral (syirik) ini bisa disandingkan pula dengan keris sakti dalam genggaman Mbah Durip dalam novel Perasaan Orang Banten, yang dianggap sebagai pendatang rezeki dan penangkal marabahaya. Begitupun dalam The Pearl, mutiara itu diibaratkan kunci surga firdaus yang berada dalam genggaman keluarga. Mereka membayangkan kehidupan masa depan yang serba mewah dan membahagiakan. Tetapi, rupanya dugaan itu meleset jauh.
Akibat kehadiran mutiara itu – sebagaimana simbol batu jimat tadi – justru menimbulkan komplikasi-komplikasi batin yang tidak kepalang tanggung. Ia menjadi penyulit jalan hidup yang merepotkan dalam dunia yang serba kalut dan tamak. Sampai pada akhirnya, keluarga itu memutuskan untuk melemparkan kembali mutiara itu ke tengah laut. Inilah yang menjadi moral massage, sekaligus menyiratkan pesan religius dari Steinbeck: “Kehidupan sederhana dan apa adanya, jauh lebih menentramkan batin, ketimbang diselubungi kemelut uang dan keserakahan.”

Cerpen Hafis Azhari
Sementara itu, Dr. Neil Garret selaku pemimpin penelitian di Universitas College, London,  menandaskan bahwa sinyal amigdala menjadi enggan merespon seiring dengan sikap-sikap korup yang amoral. Karena itu, respon otak menjadi tumpul jika ketidakjujuran dilakukan secara berulang-ulang, terlebih jika ketidakjujuran itu hanya mementingkan keuntungan dirinya serta merugikan pihak lain.
Hal ini mengingatkan kita pada cerpen Hafis Azhari berjudul “Kampung Abal-abal” (www.ahmadtohari.com) yang mengisahkan tentang kebohongan seorang ustad yang mengultuskan diri selaku “tokoh agama” di suatu kampung subur nan makmur, tapi masyarakatnya hidup miskin dan marjinal.
Meneladani gaya politik para penguasa, sang ustad memanfaatkan kebodohan massa sebagai komoditas politik semata. Dikuburlah seonggok kayu besar, lalu dengan memanfaatkan ayat-ayat Alquran, diiringi dengan gaya retorika seorang penceramah handal, ia berteriak-teriak di depan publik bahwa gundukan tanah di samping rumahnya itu adalah makam seorang wali besar.
Ajaran agama menjadi ajang pamer yang didakwakan ustad, yang tidak membuat masyarakat menjadi tentram dan nyaman, tapi justru membuat mereka menjadi takut akan kesaktian ustad berikut makam wali di samping rumahanya. Perlahan namun pasti, mereka pun memberikan berbagai macam sedekah dan sesajen, hingga membuat taraf hidup keluarga ustad semakin meningkat drastis. Sementara, nasib kemiskinan dan kebodohan masyarakat terus meningkat dari waktu ke waktu.
Badai besar dan banjir bandang selaku pewartaan hukum alam yang berlaku, akhirnya menghantam rumah sang ustad berikut makam wali yang hanya berisi bongkahan kayu besar. Rupanya sang ustad tak menyadari faktor geografis, bahwa dirinya telah membangun bangunan megah di bantaran sungai yang merupakan dataran paling rendah di kampung tersebut.
Kebohongan semakin terungkap dengan jelas, dan akal-akal sehat semakin bermekaran menaungi kehidupan masyarakat kampung. *  
***

*) Esais dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Bayan, Rangkasbitung, Banten Selatan


Sumber: