Total Tayangan Halaman

Senin, 26 Februari 2018

Pungki Wardani: "MANUSIA ANGKA" - Satu Cerpen dalam buku KORBAN BERITA PAGI




Cover KORBAN BERITA PAGI
Sunyi terdengar seketika, suara teman sekelas yang sebagian asyik merumpi, berdiskusi, bergurau, atau 5 orang anak yang terkenal ramai di kelas XII-MIA1 itu tiba-tiba terdiam dan membuat tanya sebagian besar dari kita. Ibu Yussa yang ketika itu mengisi jam kimia terkesan marah sambil berjalan cepat keluar kelas hingga membuat berpasang-pasang retina mata kita tersambar signal buruk yang terpancar dari wajahnya.

Adapun ekspresi aneh dari beberapa teman laki-laki di bangku paling ujung pun seolah semakin mendramatisir suasana. Silih berganti pertanyaan kita didengar tapi tanpa sudi lagi mereka jelaskan sebabnya
.
Oh... ada  lagi diriku yang tengah gagal fokus mengerjakan tugas yang diberikan, menjadi bertambah heran manakala teman sebangkuku menghentakkan tangannya persis di samping kaca matanya yang tergeletak.

Lirih suara ini mencoba berbisik untuk menanyakan apa yang sedang terjadi, namun sayangnya teman sebangkuku sama tak menjawab. 5 menit kubiarkan dia yang membisu untuk menenangkan dirinya terlebih dulu. Biar sepasang mata ini kembali ke halaman 24 untuk menyelesaikan soal-soal pilihan ganda yang cukup banyak.

^^^^^

“Siapa yang mengadukan tadi?” bentak Pampam.
“Aku, aku yang bilang ke ibu Indri. Kenapa?!” balas Faiza dengan nada yang tak kalah tinggi mengejutkan jantungku yang merasakan betul getar emosinya.

“Bisa-bisanya jadi anak suka mengadu,” imbuh Ozy.
“Kalian pikir, kelakuan kalian ini benar gitu? Dan aku harus berbodoh diri melihat semua kehebatan kalian yang semakin lama semakin nyata.”

Faiza seolah mengucapkan kekecewaannya bukan hanya di bibir, sebab air mata yang membanjiri permukaan bola matanya itu membuatku terbawa sakitnya.

Tak lama setelah Faiza diam, sorakan penuh ledek mengisyaratkan bahwa mereka benar-benar kesal terhadap Faiza alias teman sebangkuku.

“Entah LKS milik siapa, jelasnya LKS satu mereka nilaikan berulang-ulang.” Kata Faiza.

“Seakan mereka meremehkan ibu Yussa dan lagian sudah ke sekian kalinya Anto itu mengejek aku terus-terusan.

“Ah... aku tidak peduli, mau tidak punya temanlah atau apalah yang pasti mereka sudah keterlaluan terutama dia yang bernama Anto,” ucap Faiza.

Dan diriku hanya bisa mendengarkan semua hal yang mungkin menyesakkan dadanya. Sesekali kutepuk punggungnya, berharap Faiza lekas meredam amarahnya.

^^^

5 menitan di kantin, tak kutemui Faiza menyusulku. Karena sudah telanjur pesan, biar diriku cepat-cepat mencari tempat di sisi teman-teman kelasXI-MIA1 untuk segera menikmati soto ayam yang dari aromanya saja menggoda lidah.

“Ayo, makan dulu ya!” ajakku sambil menuang sedikit sambal.
“Hari ini kamu tidak diberi makan sama ibumu pasti ya?” tanya Alia.
“Hahaha...” kutertawa.
Aku membaca ada niatan Alia untuk menyinggungku yang biasanya susah diajak ke kantin.

Ya, beginilah untungnya kalau ikut ke kantin bareng-bareng rasanya antara kita sekelas dapat menjalin hubungan jauh lebih erat.  Meski harus jadi korban hinaan, tapi semata itu hanyalah salam pembuka untuk mengawali percakapan. Namun dukanya, saat tragedi gosip-menggosip mulai mengasah bakat terpendam yang ada malah Faiza jadi bintangnya.

Oke, mungkin  itu wajar, lantaran sebagian besar dari kita mungkin masih bingung dengan apa yang terjadi di kelas tadinya. Jangankan mereka yang duduknya berjauhan, diriku yang berdekatan saja tak habis pikir atas tindak Faiza.

“Gini ceritanya yang aku tahu, tadi itu Anto lihat Faiza lagi baca buku belajar bahasa Korea lalu tahukan apa kebiasaan Anto? Dia ejek Faiza yang katanya tidak pentinglah, menghayallah, mau jualan celana di Korealah dan apalah sampai akhirnya Faiza terpancing. Kebetulan diwaktu Faiza akan membalas Anto dengan aksinya, mata Faiza melihat kalau Ando dan kawan-kawan itu belum mengerjakan LKS bahkan berbuat curang tadi, panjang Defi menceritakan ulang kronologi yang Ia saksikan.

Seusai mereka di sekelilingku itu mengerti masalahnya, mereka pada mengambil kesimpulanmasing-masing. Ada yang bilang memang dasar Faiza berlebihan, ada yang bilang terlalu idealis, ada yang bilang kurang kerjaan, ada yang bilang kurang solid, ada yang bilang lain-lain sudah telingaku enggan mendengar suara mereka yang beraneka rasa.Semenjak itu sepanjang jalan menuju kelas, ada himbauan untuk jujur seolah menjadi bahasa gaul yang mendadak jadi bahan candaan.

^^^

Lain hari, lain sudah ceritanya. Dan ceritanya bukan sembarang cerita, meski tokohnya masih sama.

“Ya Allah, andai aku pandai menulis mungkin cerita ini tidak akan terhenti hanya disini.”
“Iya, diasah dulu saja. Siapa tahu nanti jadi best seller dan aku dapat traktiran lagi dari kamu bukan?”Begitu kuingat keluh kesahku yang saat itu juga ditanggapi oleh Bagas dengan gaya humornya.

“Minggir, jangan resek kamu!” kataku sambil mendorong meja.
“Mau kemana?” dan aku membiarkan tanya Bagas itu membeku di dalam kelas, sementara kakiku bergegas menuju depan ruang BK untuk menunggu Faiza yang sedang disidang.

Ya, baru saja Faiza terlibat pertikaian dengan beberapa anak di kelas. Entah siapa yang memulai tragedi itu aku pun tak menyaksikan kondisi yang sebenarnya. Selain hanya mendengar suarateman-teman yang mengatakan kalau Faiza-lah yang membuat Dino bercucuran darah.

Oh... Bila minggu lalu, Faiza sempat menceritakan kemenangannya di Pekan Olahraga tingkat Kabupaten di bidang taekwondo yang memang jadi talentanya itu turut membuatku bangga, tapi bukan berarti Faiza boleh memamerkan talentanya itu dengan cara demikian. Apalagi selama ini aku mengenal Faiza sebagai anak yang paling benci dengan anak yang suka mengandalkan fisik bukan otaknya.
“Terus apa motif Faiza??”Aku menarik napas dalam-dalam.

^^^

Meski mulanya aku percaya dengan Faiza yang mengaku atas kecelakaan tersebut bukan semata karena dia membenci Dino, melainkan Dinolah yang telah melecehkan Faiza dengan kata-kata jorok yang menyangkut sisi kewanitaan pada tubuhnya.

“Ada kala aku diam mengalah, tapi ada kalanya aku harus bisa membela diriku sendiri.” Faiza bertutur.

Bila Faiza diibaratkan barang, dia adalah barang tambang yang langka dan mungkin juga susah diperbaharui. Harusnya aku bangga memiliki teman seperti Faiza, namun sayangnya aku tak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang pura-pura baik.

Perilaku teman-teman kita saat itu semakin hari semakin menunjukkan ketidaksukaannya pada Faiza atau juga kepadaku. Mungkin karena hanya aku yang masih betah ada di sebelah Faiza, jadi  aku dianggap oleh mereka sama tidak asyiknya. Sehingga aku pun jadi merasa dijauhi teman-teman yang lain.

Sempat aku mengajak Faiza untuk bersikap wajar, selayaknya mereka pada umumnya.Tetapi yang ada Faiza justru mengatakan aku tidak kuat iman. Tapi entah siapa yang benar dalam hal itu aku tak tahu. Pada akhirnya aku pun terseret arus untuk meninggalkan persahabatan dengan Faiza.

Sejak itu aku mulai berani menyontek sebagaimana peluang itu ada. Aku sering merasa hebat karena tiap kali ulangan tulis, nilai Fisikaku juga selalu di atas KKM. Terlebih saat tiba kenaikan kelas peringkatku pun jauh lebih tinggi dari Faiza.Itu artinya aku tidak salah dalam memilih teman.
Dari kelas X sampai tahun terakhir, aku ternyata masih sekelas dengan Faiza. Sikap Faiza yang tak pernah ada jera, pada akhirnya membuat dia mendapat nun terendah pasca pengumuman kelulusan itu tiba dan menandakan bahwa perpisahan akan terjadi akhirnya.

“Selamat tinggal seragam putih abu-abu, selamat merindukan kegilaan bersama yang telah terjalin selama satu hingga tiga tahun terakhir.”

Curahan kami yang saling berpelukan satu sama lain, namun tetap terkecuali Faiza yang saat itu kulihat sedang kesepian dipangku hijaunya rumput taman.

^^^
Tapi semua cerita yang kuingat ini ternyata tak semanis yang kubayangkan. Dulu aku boleh berlenggak diri dan merasa yakin bahwa apa yang kuperoleh di SMA akan membawa aku pada nasib yang mujur. Sebagaimana Polwan adalah cita-citaku.

“Tetapi apa hasilnya?” jangankan untuk berseragam polisi, sekadar tes fisik saja aku sudah tidak memenuhi kriteria. Hingga terpaksa aku pun memutuskan untuk kuliah. Tetapi sedihnya bertambah ketika kabar penerimaan mahasiswa baru itu diumumkan, namaku ternyata tak ada dalam daftar.

Jadilah aku kini duduk di bangku perguruan tinggi swasta. Dan rasa kecewa yang dalam kian menguras gairah belajarku,, sehingga membuatku ketinggalan dari jadwal yang semestinya.

Lima tahun sudah aku disana, tapi gelar S1 itu masih jadi beban tanggungan. Dan hanya mengandalkan ijazah SMA, aku mencoba meletakkan surat lamaran ke beberapa industri pangan. Tapi sampai kini tak kunjung ada panggilan. Membuat aku depresi luar biasa dan menjadikan media sosial sebagai pelarian.Setiap hari aku tak terlewatkan untuk mengunggah status dengan rangkaian kata penuh sesal.

Sesekali sesaknya dada mendadak kambuh menyiksa, ketika Faiza memperbarui foto profilnya.

Faiza yang dulu hanya sebentar jadi sahabatku, kini dia kulihat bersahabat dengan para tokoh-tokoh yang terhormat di negeri Indonesiaku. Faiza yang dulu selalu remidi di setiap mata perlajaran yang bersifat hitungan itu kini telah berkali-kali terbang ke luar negeri untuk menjalankan tugasnya. Faiza yang dulu tidak disukai anak-anak seangkatan MIA, kini ratusan jempol menghiasi akun facebook-nya.

Ternyata inikah jalan hidup yang dimaksudkan Faiza, saat aku masih bersahabat baik dengannya.Saat Faiza membisikkan bahwa kejujuran itu tidak mungkin membawa petaka, sekalipun terkadang pahit rasanya. Karena alam akan bersaksi atas kuasa-Nya. Kuasa Allah Yang Maha Melihat lagi Maha Adil pula.□




PROFIL PENULIS
Pungky Wardhani, lahir di Mojokerto, 31 Oktober 1993. Pendidikannya dimulai tahun 1998 di TK Tunas Harapan, lalu lanjut ke SDN Wates Umpak II tahun 2000 hingga tahun 2006. Sejak tahun 2006, Pungky menyandang difabel netra, namun kekurangan itu tak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar dan berkarya. Pada tahun 2010 ia masuk jenjang sekolah menengah pertama di Pendidikan Khusus Negeri Seduri hingga tahun 2013. Tak berhenti sampai disitu, Pungky kemudian melanjutkan ke SMA Negeri 1 Puri Mojokerto tahun 2013 s.d. 2016. Saat di bangku SMA, Pungky pernah memperoleh penghargaan sebagai pemenang harapan dalam lomba Baca Puisi Tingkat SMA seKabupaten Mojokerto yang diadakan Kantor Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi Kabupaten Mojokerto. Anak kedua dari tiga bersaudara ini tinggal di Dsn. Wringin Lawang Ds. Jatipasar RT 03 RW 02 Kec. Trowulan Kab. Mojokerto (61362). Buku Kumpulan Cerita Korban Berita Pagi adalah manifestasi hobi menulisnya yang begitu kental ia tekuni. Pungky memiliki motto "Ucapan dan perbuatan adalah aplikasi dari sebuah doa". dengan motto hidup itulah ia terus belajar dan berkarya. Saat ini ia sedang menempuh bangku perkuliahan di Universitas Brawijaya.

Sumber: