Total Tayangan Halaman

Minggu, 11 Februari 2018

HASIL KURASI “KLUNGKUNG DALAM PUISI” (Sebuah agenda kelas nasional di tahun 2016)



oleh Isbeddy Setyawan ZS
 


Apakah puisi yang bertutur tentang suatu tempat, karena dipersyaratkan dalam suatu event, akan menjadi puisi pesanan atau berkurang kualitasnya? Atau seorang penyair akan kesulitan menuliskannya? Puisi-puisi yang terpilih dan tidak terpilih dalam antologi "Klungkung dalam Puisi" kiranya secara sederhana dapat memberi sebagian jawabannya. 

Secara mengejutkan 450-an puisi berdatangan dari berbagai daerah di Indonesia, dari ujung barat Sumatera sampai ujung Timur Papua, bahkan ada yang mengirim dari Malaysia, Thailand, Hongkong. Kurang lebih 240-an peserta berusaha mengeksplorasi dan mengolah Klungkung menjadi puisi.

Sejumlah puisi tampak berusaha menghadirkan spirit Klungkung secara bening, jujur, tajam, dan dalam. Namun, sebagian besar puisi tak mampu memberi sentuhan keharuan dan keutuhan sebagai puisi, bahkan cenderung menjadi bombastis, laporan jurnalistik, atau sekadar tempelan kata-kata bernuansa Klungkung. Ada juga beberapa puisi tampak kuat di bait awal, namun berantakan di bait atau baris berikutnya, sehingga meruntuhkan bangunan puisi secara keseluruhan.

Secara umum, banyak puisi terkesan ditulis tergesa-gesa, bahkan tanpa proses editing, sehingga puisi menjadi kering dan berantakan. Andaikata mereka bisa lebih bersabar mengolah “isi dan bentuk” puisi, niscaya akan banyak puisi yang lebih bernas dan berkilau. Memang, sebagai sebuah karya kreatif, puisi yang ditulis oleh penyair yang telah hapal seluk beluk Klungkung belum tentu mampu menghadirkan keutuhan dan menggugah “keharuan”.

Namun, puisi-puisi yang terpilih ini diharapkan mampu memukau pembaca, menyeret ke dalam imaji dengan berbagai corak perasaan dan tetap berbicara tentang sesuatu yang bahkan lebih dari sekadar Klungkung, baik secara sederhana ataupun dengan segala kelengkapan teknik penulisan sebuah puisi yang baik.

Berikut adalah hasil kurasi “Klungkung dalam Puisi” : 
 


  1. Agung Bawantara (Klungkung)
    - Pemedal Agung Klungkung
  2. Alit S. Rini (Denpasar)
    - Perempuan di Puputan Klungkung
  3. Alexander Robert Nainggolan (Tangerang)
    - Sungai Melangit
  4. Aryadimas Ngurah Hendratno (Denpasar)
    - Sulang
  5. Ade Linda Jelina (Bali)
    - Suatu Pagi di Kerthagosa
  6. Achmad Fathoni (Malang)
    - Kung, Klungkung
  7. Arka Dwipayana (Karangasem)
    - Aku, Kau dan Hujan Museum Gunarsa
  8. Adenar Dirham (Yogyakarta)
    - Gejolak Jiwa Gadis-gadis Klungkung
  9. Ali Syamsudin Arsi (Banjarbaru)
    - Di Sini Udara Selalu Berputar
  10. Anggoro Suprapto (Semarang)
    - Di Semarapura Kita Melukis Kisah
  11. Anjrah Lelono Broto (Surabaya)
    - Shinta dalam Lukisan Kamasan
  12. Akhmad Zailani
    - Nusa Penida
  13. Asril Koto (Padang, Sumatera Barat)
    - Mana Kutahu Klungkung Lahir Dari Rahim Bali
  14. A’yat Khalili (Kediri, Jawa Timur)
    - Klungkung
  15. Bangkit Prayogo (Madura)
    - Dongeng Cliodhna
  16. Bambang Eka Prasetya
    - Di Teduh Nusa Penida Kubasuh Bara Dunia
  17. Biolen Fernando Sinaga (Medan)
    - Monumen Puputan
  18. Bhe She (Tangerang)
    - Klungkung April 1908
  19. Binoto H Balian (Samosir, Sumatera Utara)
    - Purnama Biru di Ufuk Nusa Penida
  20. Bonk Ava (Denpasar)
    - Perempuan Tua Penjual Kisah Di Kertagosa
  21. Budhi Setyawan (Bekasi)
    - Kelelawar Gua Lawah
  22. Bambang Widiatmoko (Bekasi)
    - Puri Agung Klungkung, 1
  23. Chresna Satyavadini (Kuta, Bali)
    - Goa Giri
  24. Cacilia Joel (Yogyakarta)
    - Kamasan (Perjalanan Moksa)
  25. DG Kumarsana (Mataram, NTB)
    - Pangi Menjelang Malam
  26. Dhinar Nadi Dewii (Kartasura, Jawa Tengah)
    - Rindu Tanah Ibu Kusamba
  27. Doddi Ahmad Fauji (Bandung)
    - Padang Ilalang Klungkung
  28. Ezra Tuname (NTT)
    - Ni
  29. Ersa Sasmita (Jakarta)
    - Taman Gili Kerta Gosa
  30. Eddie MNS Soemanto
    - Watu Klotok
  31. Faidi Rizal (Madura)
    - Klungkung
  32. Fanny J. Poyk (Depok)
    - Klungkung dalam Desahnya Malam
  33. Frans Wisnu Murti (Denpasar)
    - Bunga Sandat dari Kusamba
  34. Fitrah Anugerah (Bekasi)
    - Mengunjungi Semarapura
  35. Giyanto Subagio (Jakarta)
    - Lukisan dan Patung
  36. Gus Noy (Balikpapan)
    - Akar Garis Dari Tanahmu
  37. Hilda Winar (Jakarta)
    - Semarapura, catatan perjalanan 1985
  38. Hayyul Mb (Madura)
    - Klungkung Cakrawala
  39. Husnu Abadi (Pekanbaru)
    - Seorang Petani Tua di Kusamba
  40. I Gede Sarjana Putra (Klungkung)
    - Gadis Ledok Berkain Rangrang
  41. Ida Bagus Aditya Putra Pidada (Sanur, tunanetra)
    - Sajak Tanah Klungkung
  42. IBW Widiasa Keniten (Karangasem)
    - Dokar di Timur Kertagosa
  43. I Putu Sugih Arta (Mataram, NTB)
    - Klungkung, Warnaku Satu
  44. I Nyoman Wirata (Denpasar)
    - Klungkung, Aku Tak Pernah Kehilangan Puisi
  45. Ika Permata Hati (Jawa Tengah)
    - Cintaku Jatuh di Nusa Penida
  46. Ida Bagus Pawanasuta (Klungkung)
    - Pantai Kusamba
  47. Isbedy Stiawan ZS (Lampung)
    - Pantai Watu Klotok, Kisah Cinta Berlayar
  48. I Putu Wahya Santosa (Singaraja)
    - Duh Ratnayu
  49. I Ketut Aryawan Kenceng (Klungkung)
    - Catatan Kecil Kertagosa
  50. IGA. Maya Kurnia (Singaraja)
    - Nusa Penida
  51. Indah Darmastuti (Solo, Jawa Tengah)
    - Dalam Surat Pohon
  52. Iyut Fitra (Payakumbuh, Sumatera Barat)
    - Malam di Klungkung
  53. Joko Sucipto (Madura)
    - I Selisik
  54. Jen Kelana (Jambi)
    - Pantai Kusamba, Rindu Kembali
  55. Julia Hartini (Bandung)
    - Para Pendoa di Goa Lawah
  56. Kunni Masrohanti (Pekanbaru)
    - Kita dan Kertagosa
  57. Ketut Syahruwardi Abbas (Singaraja)
    - Gelgel – Kusamba
  58. Lilik Mulyadi (Jakarta)
    - Lukisan Roh Tukad Unda
  59. Moh Mahfud (Banjarmasin)
    - Sekuntum Kenangan
  60. Mira MM Astra (Denpasar)
    - Naga Banda
  61. Mas Triadnyani (Denpasar)
    - Dermaga Gunaksa
  62. Moh Zaini Ratuloli (Bekasi)
    - Petani Garam
  63. Muda Wijaya (Denpasar)
    - Bulan Berlabuh Di Pesinggahan
  64. Mas Ruscitadewi (Denpasar)
    - Wayang Batu Malawang (Nusa Ceningan)
  65. Muhisom Setiaki
    - Melangit
  66. Made Taro (Denpasar)
    - Kepada Pemahat
  67. Nyoman Sukaya Sukawati (Kuta)
    - Lukisan Wayang Kamasan
  68. Made Edy Arudi (Singaraja)
    - Sekar Cempaka
  69. Nunung Noor El Niel (Denpasar)
    - Klungkung Tanah Leluhur
  70. Nuryana Asmaudi SA (Denpasar)
    - Kusamba Sebelum Senja
  71. Ni Luh Putu Wulan Dewi Saraswati (Singaraja)
    - Menuju Museum
  72. Ni Wayan Idayati (Badung)
    - Doa Seekor Ikan
  73. Ni Wayan Nina Arsini (Denpasar)
    - Dongeng Pantai Klotok
  74. Ni Made Rai Sri Artini
    - Kerthagosa
  75. Novia Rika Perwitasari (Malang)
    - Wayang Kamasan
  76. Nur Komar (Jepara, Jawa Tengah)
    - Di Tukad Melangit
  77. Na Dhien (Jakarta)
    - Puputan Klungkung
  78. Osratus (Sorong, Papua Barat)
    - Protes Pedanda Ingin Melihat dari Dekat Senandung Jalak Klungkung
  79. Puji Pistols (Pati, Jawa Tengah)
    - Sekoci Orang Koloni
  80. Pranita Dewi (Denpasar, Bali)
    - Kusamba
  81. Reina Caesilia (Denpasar)
    - Kusamba—Jungut Batu
  82. Rezqie Muhammad Alfajar Atmanegara (Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan)
    - Bahasa Ibu
  83. Rusydi Zamzami (Jember)
    - Tihingan
  84. Sindu Putra (Mataram, NTB)
    - Petani Garam Pantai Goa Lawa
  85. Sri Wintala Achmad (Cilacap, Jawa Tengah)
    - Taman Kertaghosa Suatu Siang
  86. Syarifuddin Arifin (Padang)
    - Teruslah Begitu
  87. Santiasa Putu Putra (Denpasar)
    - Galeri Kecil di Desa Kamasan
  88. Sigit Rais (Jakarta)
    - Pada Wajah Klungkung
  89. Soekoso DM (Purworejo, Jawa Tengah)
    - Dari Nusa Penida, Dari Semarapura
  90. Sukma Putra Permana (Yogyakarta)
    - Melukat
  91. Shourisha Arashi (Cilacap, Jawa Tengah)
    - Suatu Malam di Pura Goa Lawah
  92. Suryadi Arfa (Madura)
    - Izinkan Aku Memiliki Cinta Sedalam Klungkung
  93. Warih Wisatsana (Denpasar)
    - Ambang Petang
  94. Wayan Mustika (Kuta)
    - Klungkung: Tanah Tua Tanah Cinta
  95. Wayan Redika (Karangasem)
    - Wayang Kertaghosa
  96. Weni Suryandari (Bogor)
    - Sepasang Sumur Suci
  97. Windu Setyaningsih (Purbalingga, Jawa Tengah)
    - Tukad Unda; Renyut Jantungku Menggema
  98. Winar Ramelan (Denpasar)
    - Menapaki Tangga Gua Giri Putri
  99. Yoga Permana Wijaya (Sukabumi, Jawa Barat)
    - Di Sekujur Aku, Disesap Waktu
  100. Yuditeha (Solo, Jawa Tengah)
    - Zelfbestuur


Demikian hasil kurasi ini disampaikan. Selamat untuk para peserta yang puisinya lolos kurasi. Dan, terima kasih kepada semua peserta yang telah berpartisipasi mengirimkan puisi-puisi bertema Klungkung.

Denpasar, 1 Agustus 2016


Salam Sastra,

Wayan Jengki Sunarta (kurator)
Dewa Putu Sahadewa (kurator)
Gede Artawan (kurator)
April Artison (Ketua Panitia)


SUMBER: