Total Tayangan Halaman

Jumat, 09 Februari 2018

Tentang “MEJA NO. 8; Antara Mojokerto dan Gorontalo



Cover "Meja No. 8" - Copyright MNC Publishing

Judul              : Meja No. 8

Penulis            : Akhmad Fatoni

Penerbit         : MNC Publishing

Cetakan          : I, Maret 2016

ISBN               : 978-602-6931-37-5

     Ketika seorang Jamil Massa (sastrawan muda asal Gorontalo yang sedang naik daun) pada tanggal 21 Januari 2018, pukul 11.15 WIB, mengunggah foto dari akun instagramnya Penerbit Diva Press, saya langsung terhenyak. Bukan karena sosok Jamil Massa yang merupakan salah satu sastrawan muda yang menolak puisi esai-nya Denny JA sebagai Pembaharu Angkatan Sastra Indonesia. Bukan pula karena sosok Jamil Massa yang pernah menyambangi beberapa kota di Jawa Timur, termasuk menjadi salah satu narasumber dalam agenda Terminal Sastra edisi 42 di Pendopo Kabupaten Mojokerto, 06 Desember 2017 lalu.

Unggahan Jamil Massa - Copyright DIVA PRESS
     Keterhenyakan saya dilatarbelakangi oleh informasi yang disampaikan dalam unggahan Jamil Massa tersebut. Dalam unggahannya, Jamil Massa mengabarkan bahwa Penerbit Diva Press akan menerbitkan karyanya yang berbentuk kumpulan cerpen/novel berjudul “Pembangkangan di Meja No. 8”. Tidak jelas, kapan buku karya Jamil Massa ini akan diterbitkan, karena saya belum menemukan informasinya ketika saya buka website penerbit mayor dari Yogyakarta tersebut.

     Judul inilah yang membuat saya terhenyak. Judulnya hampir sama dengan judul buku kumpulan cerpen karya salah satu penulis muda dari Mojokerto; Akhmad Fatoni. Buku karya pemilik Rumah Budaya Akhmad Fatoni (RBAF) ini berjudul “Meja No. 8” (Penerbit MNC Publishing, Malang, 2016). Buku kumpulan cerpen “Meja No. 8” sendiri berisi sepuluh cerpen, yaitu: (1) Jalan Tak Berujung, pernah dimuat di Berita Metro, 19-01-2013; (2) Kalap, pernah dimuat di Jurnal Jombangana, edisi November 2010; (3) Malam Jum’at Kliwon, pernah dimuat di Majalah Ekspresi, edisi Juli 2010, (4) Tengah Malam, pernah dimuat di Majalah Ekspresi, edisi Juli 2010; (5) Lastri, pernah dimuat di Majalah Tinta, tanpa informasi lengkap tanggal pemuatan; (6) Jangan Menangis, Bu!, pernah dimuat di Harian Radar Mojokerto, Minggu, 24 Maret 2013; (7) Rebiin, pernah dimuat di Harian Surabaya Post, edisi 28-12-2008; (8) Meja No. 8, belum pernah dipublikasikan; (9) Wak Cim, dimuat di Denpasar Post, edisi 23-05-2014; dan (10) Ikhwal Penyakit dan Kematian yang Tak Biasa, pernah dimuat di Bali Post, edisi 13-04-2014.

     Dalam tulisan epilog buku ini, seorang Dadang Ari Murtono, menyebut bahwa buku ini menyebabkan dirinya gagal mematikan pengarangnya. Artinya, cerpen-cerpen di dalam buku ini terlalu kental Akhmad Fatoni-nya sehingga seorang Dadang Ari Murtono yang kebetulan mengenal baik sosok pengarangnya merasa tidak bisa bebas melepaskan bayang-bayang sosok Akhmad Fatoni dari buku yang sekarang dapat mudah ditemukan di jejaring toko buku Toga Mas dan Tokopedia ini.

Pembaca "Meja No. 8" - Dokumentasi RBAF
     Kesamaan (yang sama persis) dalam judul mungkin bukanlah sesuatu yang baru. Namun, kehampirsamaan judul antara terbitan buku penerbit mayor dan terbitan buku yang beraroma indie label tentu merupakan fenomena yang boleh dikata patut kita apresiasi bersama. Menjadi sangat tidak bijak dan logis apabila saya menyebut bahwa Jamil Massa maupun Diva Press melakukan pengekoran terhadap Akhmad Fatoni dan MNC Publishing, walau waktu penerbitan menyebutkan apa dan siapa yang lebih dulu terbit. Menjadi amat sangat tidak bijak lagi jika saya perpanjang tulisan ini dengan mengerucut pada kehampirsamaan judul tersebut sebagai bagian dari konspirasi jaman akhir. (Saya sendiri tertawa membaca diksi saya tersebut).

     Akan menjadi sangat bijak jika tidak ada klaim-mengklaim yang paling orisinil di antara kedua karya tersebut. Apalagi jika klaim itu dilambari dengan kontrak yang nilainya sampai Rp. 5.000.000,-, bermaterai, dan tidak dapat dibatalkan lagi seumur hidup sebagaimana kontrak penulisan puisi esai.

     Terlebih lagi, saya pribadi juga mengenal baik kedua penulisnya. Simpul yang saya ikat adalah keyakinan bahwa saya pribadi sangat meyakini tidak ada unsur kesengajaan di antara mereka berdua saat memilih judul karya-karya kreatif mereka. Toh, keduanya juga pernah menduduki salah satu edisi Terminal Sastra. Jika Jamil Massa di Terminal Sastra edisi 42, maka buku kumpulan cerpen “Meja No. 8” karya Akhmad Fatoni ini dibedah dalam Terminal Sastra edisi 21, Minggu, 20 Maret 2016.



----

SUMBER: